Generasi Emas Sepak Bola Norwegia

2 weeks ago 13
Generasi Emas Sepak Bola Norwegia Indriyani Astuti Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)

MUNGKIN banyak penonton Piala Dunia 2026 bertanya-tanya, apa yang membuat Norwegia istimewa hingga mampu menjegal Brasil lolos ke perempat final? Tuhan tidak sedang bermain dadu. Brasil, dengan reputasinya yang mapan, kalah 2-1 dari Norwegia.

Hal ini bukan kebetulan. Meskipun tak dianggap sebagai tim papan atas, Norwegia satu-satunya tim yang tak pernah kalah melawan Brasil di Piala Dunia. Norwegia pernah mengalahkan Brasil pada Piala Dunia 1998.

Tim yang datang dari negeri dingin di Skandinavia ini kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun. Vakumnya Norwegia di Piala Dunia antara lain karena stagnasi pengembangan pemain muda. Memang butuh waktu bagi mereka untuk menghasilkan generasi emas seperti Erling Halaand dan Martin Odegaard.

Halaand bermain seperti mesin pencetak gol. Di usianya yang baru 25 tahun, ia telah mencetak 299 gol di level profesional. Adapun Odegaard melakukan debutnya di tim nasional senior Norwegia pada usia 15 tahun dan 253 hari, menjadikannya pemain termuda yang pernah bermain untuk tim nasional senior.

Kendati banyak yang menganggap Haaland dan Odegaard adalah nepo baby karena lahir dari ayah pemain sepak bola, perjalanan keduanya dari lapangan di kota kecil Norwegia hingga stadion-stadion elite Eropa membuktikan bahwa pengembangan talenta sepak bola ala Norwegia digarap dengan serius.

Setelah absen dari Piala Dunia sejak 1998, Norwegia tak hanya menunggu bakat-bakat baru muncul. Sadar akan adanya gap pemain berkualitas, negara ini menggarap cetak biru sepak bola dengan serius. Dimulai dengan menerapkan skema Landslagsskolen, sekolah tim nasional. Di sinilah model pengembangan pemain nasional dimulai dari akar rumput.

Norwegia juga lebih advance soal infrastruktur lapangan. Mereka berpikir bagaimana tetap bisa melatih talenta muda di tengah kondisi iklim yang keras. Ketika musim dingin, lapangan rumput di Norwegia tidak bisa digunakan untuk latihan. Secara inovatif, negara ini berinvestasi dengan menyediakan ratusan lapangan sintetis agar anak-anak dapat berlatih sepanjang tahun. Pembinaan sepak bola dilakukan secara profesional dengan melibatkan lebih dari 17.000 pelatih yang tesertifikasi. Kini, Norwegia bisa memetik hasil kerja keras bertahun-tahun. Buah dari komitmen mentransformasi infrastruktur sepak bola, kepelatihan, dan pengembangan talenta muda.

Transformasi sepak bola Norwegia juga terlihat dari reputasi klub-klub di sana yang semakin baik. Bodo/Glimt, salah satu contoh yang menonjol. Klub asal kota kecil di utara Lingkaran Arktik yang dahulu diejek sebagai underdog ini melakukan debut dengan impresif. Bodo/Glimt mampu menembus babak knock out di kompetisi bergengsi Liga Champions tahun ini, mengalahkan klub-klub raksasa di Liga Eropa seperti Manchester City dan Atletico Madrid. Kisah ini memang terdengar layaknya dongeng. Akan tetapi, mimpi besar bisa diwujudkan oleh mereka yang mau bertransformasi dan fokus pada proses.

Talenta generasi emas sepak bola Norwegia tak akan muncul tanpa cetak biru yang terstruktur, fasilitas pendukung, investasi negara, pembinaan berkesinambungan, dan paparan untuk menanamkan kecintaan terhadap sepak bola sejak dini.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |