Fenomena Haze Selimuti Lombok, Jarak Pandang Terbatas hingga 1 Kilometer

2 weeks ago 14
Fenomena Haze Selimuti Lombok, Jarak Pandang Terbatas hingga 1 Kilometer Fenomena haze atau udara kabur di Lombok.(Dok. Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena haze atau udara kabur saat ini menyelimuti Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini memicu penurunan jarak pandang yang signifikan, terutama pada waktu-waktu tertentu.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi seiring dengan masuknya musim kemarau. Rendahnya kelembapan atmosfer menyebabkan debu dan partikel kering melayang serta tertahan di udara dalam waktu lama.

"Karena tidak ada hujan, maka partikel-partikel padat tertahan di udara dalam waktu lama. Ketika partikel padat itu sangat padat, terbentuklah fenomena haze yang secara fisik mengurangi jarak pandang," ujar Ari di Mataram, Senin (6/7/2026).

Jarak Pandang Menurun di Kawasan Bandara

Berdasarkan pengamatan BMKG dalam beberapa hari terakhir, jarak pandang di kawasan Bandara Lombok sempat merosot hingga hanya satu kilometer pada dini hari. Namun, kondisi ini dilaporkan berangsur membaik saat intensitas sinar matahari mulai menguat pada siang hari.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bahaya dari penurunan jarak pandang ini, terutama bagi sektor transportasi. Jarak pandang yang terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas baik di darat maupun udara.

Dampak El Nino dan Puncak Kemarau

Penurunan kualitas udara dan jarak pandang ini berkaitan erat dengan kondisi cuaca ekstrem di NTB. BMKG memperkirakan peluang hujan di seluruh wilayah NTB berada di bawah 10 persen pada awal Juli 2026, menandakan wilayah tersebut telah memasuki fase puncak musim kemarau.

Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori moderat dengan indeks +1.61. Hal ini menyebabkan musim kemarau tahun ini terasa jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Waspada Kekeringan Meteorologis

BMKG telah menetapkan status waspada kekeringan meteorologis di empat kabupaten di NTB, meliputi:

  • Kabupaten Lombok Tengah: Kecamatan Praya Barat.
  • Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia.
  • Kabupaten Sumbawa: Kecamatan Moyo Utara dan Utan.
  • Kabupaten Bima: Kecamatan Palibelo dan Tambora.

Selain gangguan jarak pandang, Ari Wibianto juga mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman. Warga diminta tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan guna mencegah bencana kebakaran di tengah cuaca kering yang ekstrem. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |