Ilustrasi--Presiden AS Donald Trump (kiri) bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman pada 13 Mei 2025.(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI )
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan kerja sama nuklir sipil antara negaranya dengan Arab Saudi memiliki syarat mutlak. Riyadh diwajibkan untuk mengakui negara Israel dan bergabung dalam Abraham Accords jika ingin proyek energi nuklir tersebut disetujui.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut hanya diperuntukkan bagi penggunaan nonmiliter.
"Kesepakatan Nuklir Sipil (Tidak akan ada pengayaan material!)... akan disetujui, tetapi sepenuhnya tunduk pada bergabungnya Arab Saudi ke dalam Abraham Accords yang sangat dihormati dan sukses," tulis Trump.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Trump telah menyampaikan syarat ini kepada para pemimpin Arab Saudi dalam berbagai kesempatan. Ia menegaskan jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka kesepakatan akan dibatalkan.
Detail Kesepakatan Nuklir AS-Arab Saudi
Berdasarkan data dari Departemen Energi AS, kemitraan ini dirancang untuk jangka panjang dengan nilai miliaran dolar. Berikut adalah poin-poin utama kesepakatan tersebut:
| Landasan Hukum | Perjanjian kerja sama nuklir damai dan perjanjian pengamanan bilateral. |
| Tujuan Strategis | Nonproliferasi nuklir dan akses bagi perusahaan AS dalam program energi Saudi. |
| Pengayaan Uranium | Trump menegaskan tidak ada pengayaan material di tanah Saudi. |
| Pengawasan Internasional | IAEA akan dilibatkan untuk implementasi langkah-langkah verifikasi. |
Reaksi Regional dan Kekhawatiran Proliferasi
Israel menyambut baik pernyataan Trump. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa bergabungnya Arab Saudi ke Abraham Accords akan menjadi lompatan bersejarah bagi perdamaian di Timur Tengah.
Meski demikian, beberapa pihak di Israel tetap waspada. Mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman memperingatkan bahwa setiap program nuklir militer sering kali bermula dari program sipil.
Di sisi lain, para ahli nuklir dan sejumlah anggota parlemen AS menyatakan kekhawatiran atas risiko proliferasi nuklir di kawasan yang tidak stabil. Rosemary Kelanic dari Defense Priorities menyebutkan bahwa membantu negara lain melakukan pengayaan uranium di tanah mereka sendiri adalah hal yang belum pernah dilakukan AS sebelumnya karena risiko keamanan yang tinggi.
Hingga saat ini, Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan Trump. Riyadh sebelumnya secara konsisten menyatakan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan terjadi jika ada pembentukan negara Palestina yang berdaulat.
Isu nuklir ini juga menjadi sensitif mengingat persaingan regional dengan Iran. Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada 2018 pernah menyatakan bahwa meski Saudi tidak berencana memiliki senjata nuklir, mereka akan segera mengikuti langkah tersebut jika Iran berhasil mengembangkan bom nuklir. (bbc/Z-1)

















































