Dari Desa, Nira Kelapa Diproses Jadi Gula Kristal Menembus Pasar Eropa

2 weeks ago 17
Dari Desa, Nira Kelapa Diproses Jadi Gula Kristal Menembus Pasar Eropa Proses pengambilan nira.(MI/LILIK DARMAWAN)

MENJELANG tengah hari, Sangadah, 52, sudah mulai menyalakan tungku dengan bahan bakar sisa gergajian kayu. Api mulai menyala berwarna merah. Lalu, dia menyiapkan wajan besar. Tak berapa lama, Kirto, 56, suaminya datang dengan membawa jeriken yang berisi air nira hasil sadapan hari sebelumnya. 

Di dapur yang terlihat bersih itulah, Sangadah, warga Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah itu memasak air nira menjadi gula kristal atau gula semut. Sebelumnya, sejak pagi, Kirto naik pohon kelapa dengan ketinggian antara 10-15 meter untuk mengambil air nira. Saban hari, ada 25 pohon kelapa yang dipanjat.

“Beginilah pekerjaan kami sehari-hari. Suami memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira. Kemudian nantinya saya memasak kisaran 4-5 jam. Tiap hari, saya bisa mendapatkan 8 kilogram (kg) gula kristal. Bahkan, kadang sampai 10-11 kg. Saat ini harganya masih tetap baik, mencapai Rp21 ribu per kg,” jelas Sangadah saat ditemui pada Senin (6/7).

Sangadah menceritakan, dirinya mulai memproduksi gula kristal belum terlalu lama, sekitar tahun 2024 lalu. Sebelumnya, dia membuat gula cetak. Harganya tidak terlalu tinggi, paling kisaran Rp11 ribu per kg. Karena ada pendampingan dari Koperasi Bhinari dan CV Java Agro Mandiri (Javari), ia kemudian ikut memproduksi gula kristal sampai sekarang. Karena gula kristal memiliki harga tinggi karena berorientasi ekspor.

Di tengah memproses gula kristal, salah seorang pendamping sekaligus tim internal control system (ICS) Javari, Pratika, mendatangi Sangadah. Mereka kemudian berbincang terkait dengan produksi gula. “Saya sering berkeliling ke rumah-rumah petani untuk memastikan produksi sesuai dengan prosedur dan menjaga kualitas. Karena hasil produksinya harus betul-betul sesuai standar ekspor,”ujarnya.

Sementara Direktur CV Javari Galih Wahyu Nur Aziz mengatakan ia bersama enam anak muda lainnya mulai mendirikan Javari sebagai UMKM pada tahun 2018.  Ini berangkat dari kegelisahan melihat harga gula kelapa yang tak kunjung membaik. Mereka adalah  anak-anak petani penderes yang tumbuh di lingkungan penderes gula kelapa. Kondisi ekonomi petani yang sulit akibat rendahnya harga jual gula menjadi alasan utama mereka membangun usaha.

"Kami semua berasal dari keluarga petani. Saya sendiri anak penderes. Setiap hari yang kami lihat adalah kehidupan petani gula kelapa. Dari situlah muncul keinginan agar produk petani memiliki nilai jual yang lebih baik," kata Galih kepada Media Indonesia. 

Saat Javari berdiri pada 2018, harga gula kelapa cetak di tingkat petani hanya sekitar Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kg. Dengan produksi rata-rata 8 kg per hari, pendapatan petani dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun membiayai pendidikan anak. "Kondisi itu membuat banyak anak petani kesulitan melanjutkan pendidikan. Karena itu kami berpikir harus ada perubahan agar kesejahteraan petani ikut meningkat,"jelasnya.

Javari kemudian mengembangkan produksi gula semut organik yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding gula cetak. Langkah awal dilakukan dengan mengurus legalitas usaha sekaligus memperoleh sertifikasi organik pada 2021. Sertifikasi dikeluarkan dari lembaga internasional di Thailand.

Sertifikasi menjadi pintu untuk memasarkan produk ke pasar ekspor. Pada tahap awal, Javari membina lebih dari 300 petani agar beralih dari produksi gula cetak menjadi gula semut organik. Prosesnya tidak mudah, karena tradisi perajin umumnya membuat gula cetak. Mereka memberikan pelatihan kepada petani dan menggandeng para pengepul agar ikut mendukung perubahan pola produksi.

"Kami melakukan pendekatan dari satu petani ke petani lainnya. Setiap bulan kami mengadakan pertemuan, memberikan pendampingan, sekaligus menjelaskan bahwa gula semut memiliki nilai jual yang lebih tinggi," katanya.

Perubahan itu mulai membuahkan hasil. Harga gula di tingkat petani kini mencapai sekitar Rp22.500 per kg atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding saat Javari berdiri. Dengan produksi rata-rata 8 kg per hari, pendapatan petani pun meningkat secara signifikan. 

Tak berhenti di situ, pada 2023 Javari membentuk Koperasi Bhinari untuk memperkuat rantai pasok. Melalui pembagian peran tersebut, koperasi fokus melakukan pendampingan petani, sedangkan Javari menangani proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran ke luar negeri. 

"Rantai pasok gula kelapa cukup panjang, mulai dari petani, pengepul, pengolahan hingga ekspor. Karena itu kami membagi tugas agar pembinaan petani dan pengembangan pasar bisa berjalan lebih optimal," jelas Galih.

Ekspor ke Eropa 

Akhirnya, Javari bisa mengekspor produk gula kristal yang merupakan hasil dari para petani.  Ekspor perdana ke Hungaria pada 2022. Bahkan, Javari terus memperluas pasar ke sejumlah negara Eropa. Saat ini gula kelapa organik produksi petani binaan telah dipasarkan ke sekitar 10 negara, di antaranya Belanda, Jerman, dan Spanyol.

Seiring meningkatnya permintaan pasar, jumlah petani binaan juga terus bertambah. Jika pada awal sertifikasi hanya sekitar 300 petani, kini Javari bersama Koperasi Bhinari telah mendampingi sekitar 850 petani. Sebanyak 490 petani berasal dari Banyumas. Sedangkan 360 petani lainnya berada di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, yang mulai bergabung pada 2025.

Dari seluruh petani binaan tersebut, produksi gula semut organik mencapai sekitar 100 hingga 130 ton setiap bulan. Produk dipasarkan melalui ekspor langsung oleh Javari maupun melalui perusahaan eksportir yang menjadi mitra.

Selain meningkatkan kesejahteraan petani, Javari juga menyiapkan regenerasi penderes melalui program pembibitan kelapa genjah. Hingga kini sekitar 1.500 bibit telah didistribusikan kepada petani sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi gula kelapa di masa mendatang. Kelapa genjah menjadi pilihan karena ketinggiannya hanya berkisar 1-2 meter, atau jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan pohon kelapa sekarang yang tingginya mencapai lebih dari 10 meter. 

"Kalau tidak mulai memikirkan regenerasi sekarang, lima hingga sepuluh tahun mendatang jumlah penderes bisa terus berkurang. Karena itu kami menyiapkan bibit kelapa agar keberlanjutan produksi tetap terjaga dan semakin banyak generasi muda yang tertarik kembali ke sektor pertanian," ujarnya.

Galih menambahkan untuk memperkuat usaha, pembiayaan dari perbankan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekspor gula kelapa organik. Ia mengaku terbantu dengan program pembiayaan ekspor dari Bank Negara Indonesia (BNI) yang membantu menjaga kelancaran arus kas perusahaan sekaligus memastikan pembayaran kepada petani tetap berjalan. Javari memanfaatkan program Expora dari BNI sebagai fasilitas pembiayaan bagi pelaku ekspor. 

"Melalui program Xpora, ketika kami melakukan ekspor, BNI dapat mencairkan hingga 70 persen dari nilai invoice hanya berdasarkan purchase order (PO). Ini sangat membantu karena pembayaran dari pembeli di luar negeri umumnya baru diterima dua sampai tiga bulan setelah proses pengiriman," jelas Galih.

Ia mencontohkan, apabila nilai ekspor mencapai Rp500 juta, Javari dapat memperoleh pembiayaan sekitar 70 persen dari nilai tersebut sebelum pelunasan dilakukan oleh pembeli. Setelah dana dari pembeli diterima, fasilitas pembiayaan tersebut kemudian diselesaikan sesuai mekanisme yang ada. Pembiayaan ini menjadi solusi untuk menjaga kebutuhan modal kerja terutama dalam pembelian dari petani yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

"Kami harus terus membeli produk dari petani, sementara pembayaran dari buyer membutuhkan waktu. Dengan adanya fasilitas ini, arus kas menjadi lebih sehat sehingga aktivitas pembelian hasil produksi petani tidak terganggu. Sudah lebih dari satu tahun, kami memanfaatkan program Xpora BNI,”ungkapnya.

Terpisah, Direktur Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal mengatakan akan terus menguatkan dukungan terhadap pelaku UMKM melalui Fast Trex Xpora. Program itu merupakan bagian dari strategi perseroan dalam memperbanyak jumlah eksportir nasional dengan memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku usaha. "Melalui Fast Trex Xpora, BNI menghadirkan akses pembiayaan yang lebih mudah dan terintegrasi bagi pelaku usaha yang ingin memperluas jangkauan bisnis hingga ke pasar internasional," ujar Iqbal dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

Layanan dapat diakses melalui kantor cabang BNI di seluruh Indonesia. Pelaku usaha dapat memanfaatkan berbagai skema pembiayaan modal kerja, mulai dari plafon transaksional, pre financing, hingga post financing, sesuai kebutuhan kegiatan ekspor.

Selain menyediakan bunga yang kompetitif, BNI juga menawarkan fleksibilitas dalam penyediaan agunan. Jaminan dapat berupa aset tetap maupun cash collateral yang dilengkapi perlindungan asuransi. Salah satu keunggulan Fast Trex Xpora adalah keringanan persyaratan agunan hingga 50 persen dari nilai pengajuan kredit. 

Iqbal berharap dengan fasilitas tersebut dapat memperluas akses pembiayaan bagi UKM yang memiliki potensi ekspor namun terkendala permodalan. Perseroan juga memfasilitasi pelaku usaha melalui kegiatan business matching dan business pitching untuk mempertemukan UKM dengan calon mitra maupun pembeli dari luar negeri.

Menurut Iqbal, program tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang telah menjalankan bisnis sedikitnya dua tahun, baik eksportir langsung maupun pelaku usaha yang memasok produk kepada eksportir. "BNI akan terus menghadirkan solusi pembiayaan yang komprehensif serta membuka akses pasar yang lebih luas agar pelaku usaha Indonesia mampu berkembang menjadi eksportir yang tangguh dan berdaya saing global," kata Iqbal.

Untuk mendukung ekspansi pelaku usaha ke pasar internasional, BNI juga memanfaatkan jaringan kantor cabang luar negeri yang tersebar di sejumlah pusat keuangan dunia, seperti Singapura, Hong Kong, Tokyo, Seoul, New York, London, dan Sydney.

Penguasa Pasar

Sementara Pemkab Banyumas terus mendorong penguatan industri gula kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Besarnya potensi produksi dinilai menjadi modal untuk menjadikan Banyumas sebagai pusat ekspor gula kristal atau gula semut di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyumas, luas areal kelapa yang dimanfaatkan niranya mencapai 5.178,99 hektare pada 2024 dengan total produksi sekitar 57.674 ton. Sektor tersebut menjadi sumber penghidupan bagi 21.910 penderes yang tersebar di berbagai wilayah Banyumas.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan pengembangan industri gula kelapa telah menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah. Pihaknya  telah menyiapkan peta jalan pengembangan industri gula kelapa secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Langkah yang disiapkan meliputi peremajaan tanaman kelapa dengan varietas genjah, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan penderes, hingga penguatan sektor industri pengolahan.

"Indonesia saat ini menguasai sekitar 90 persen pasar gula kristal dunia. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen pasokannya berasal dari wilayah Banyumas Raya. Ini merupakan potensi yang sangat besar dan menjadi kontribusi Banyumas bagi pasar global," kata Sadewo.

Ia menjelaskan penggunaan kelapa genjah diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi risiko kerja para penderes. Selain memiliki tinggi tanaman yang lebih rendah, varietas tersebut memungkinkan proses penyadapan dilakukan lebih cepat dan efisien.

Menurutnya, jika saat ini seorang penderes rata-rata hanya mampu menyadap 20 hingga 25 pohon per hari, penggunaan kelapa genjah berpotensi meningkatkan kapasitas hingga sekitar 100 pohon dalam waktu kerja yang sama. "Produktivitas akan meningkat, pekerjaan menjadi lebih efisien, dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan serta kesejahteraan petani," ujarnya.

Pemkab Banyumas menargetkan penyediaan 630 ribu bibit kelapa genjah hingga 2028. Hingga saat ini, sebanyak 126.400 bibit telah disalurkan melalui dukungan berbagai pihak, mulai dari kementerian, balai pembibitan, eksportir, hingga kerja sama dengan Pemerintah Jerman melalui program pendanaan develoPPP yang dijalankan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

Program itu melibatkan sekitar 6.000 rumah tangga petani dengan mendorong partisipasi perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan sektor gula kelapa. "Kami ingin memperkuat produksi sejak dari hulu sekaligus memastikan keberlanjutan industri gula kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan Banyumas," kata Sadewo.

Bahkan, pada Kamis (25/6) lalu, Banyumas secara resmi memiliki Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) mandiri setelah diresmikan Menteri Perdagangan Budi Santoso. Kehadiran IPSKA di Banyumas diharapkan mempermudah pelaku usaha dan eksportir, tidak hanya dari Banyumas tetapi juga wilayah Jawa Tengah bagian barat dan selatan, dalam mengurus Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO).

Selama ini, pengurusan dokumen tersebut harus dilakukan di daerah lain sehingga membutuhkan waktu dan biaya lebih besar. Kini, layanan dapat diakses melalui Kantor Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (DKUKMP) 

Bupati mengatakan keberadaan IPSKA merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. "IPSKA mandiri menjadi wujud reformasi birokrasi dalam memberikan kemudahan berusaha. Layanan ini tidak hanya melayani pelaku usaha di Banyumas, tetapi juga diproyeksikan menjadi pusat pelayanan bagi eksportir dari Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Kebumen," kata Sadewo.

Menurut dia, keberadaan IPSKA akan mempercepat proses administrasi ekspor bagi berbagai komoditas unggulan Banyumas, seperti gula kelapa organik, minyak atsiri, kayu olahan, serta produk ekspor potensial lainnya. "Saya meminta pelayanan dilakukan secara profesional dengan memaksimalkan digitalisasi sehingga tidak ada lagi keterlambatan dokumen ekspor akibat persoalan birokrasi,"tambahnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan Surat Keterangan Asal merupakan dokumen yang menunjukkan asal barang ekspor dan menjadi salah satu syarat bagi negara tujuan untuk memberikan fasilitas tarif preferensi sesuai perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia. 

Dokumen ini memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional karena memungkinkan produk memperoleh tarif bea masuk yang lebih rendah, bahkan hingga nol persen. "Apabila produk ekspor memperoleh fasilitas tarif nol persen, harga jual di negara tujuan menjadi lebih kompetitif sehingga mampu bersaing dengan produk dari negara lain," kata Budi. (H-2)
 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |