Dampak Pulau Sampah Muara Angke dan Ancaman Ekosistem Mangrove

2 weeks ago 13
Dampak Pulau Sampah Muara Angke dan Ancaman Ekosistem Mangrove Ilustrasi(ipb.ac.id)

FENOMENA "pulau sampah" yang muncul di kawasan Muara Angke kini menjadi sorotan tajam. Keberadaannya bukan sekadar masalah estetika, melainkan pengingat keras bahwa persoalan sampah yang tidak terkelola di daratan akan bermuara pada kerusakan fatal di lingkungan perairan.

Pakar Pencemaran dan Toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, FPIK IPB University, Prof Etty Riani, mengungkapkan bahwa mayoritas komposisi sampah di kawasan tersebut didominasi oleh plastik, baik dalam bentuk makro maupun mikro. Sampah-sampah ini terjebak dalam sedimen mangrove dan menciptakan tekanan ekologis yang berat.

Ancaman Terhadap Ekosistem Mangrove

Menurut Prof Etty, sampah plastik memiliki sifat kedap yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan mangrove. Plastik yang menutupi lantai hutan mangrove dapat menyumbat pneumatofor atau akar napas, yang berakibat pada terhambatnya pertukaran oksigen. Kondisi ini tidak hanya mengancam pohon dewasa, tetapi juga mematikan potensi regenerasi bibit mangrove baru.

Berikut adalah rincian jenis sampah dan dampak yang ditimbulkan berdasarkan penjelasan Prof Etty Riani:

Kategori Temuan Detail / Dampak
Jenis Sampah Dominan Kantong plastik, botol, kemasan makanan/minuman, styrofoam, bekas jaring, dan limbah rumah tangga.
Dampak Kualitas Air Penurunan kelarutan oksigen (DO), peningkatan gas beracun (amonia, H₂S, nitrit), dan kontaminasi B3.
Dampak Biologis Mikroplastik masuk ke rantai makanan melalui organisme penyaring (kerang/tiram) serta dikonsumsi ikan dan burung.
Waktu Pemulihan Membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologis secara penuh.

Rantai Makanan yang Terkontaminasi

Lebih jauh, Prof Etty memperingatkan risiko mikroplastik dan nanoplastik yang kini telah masuk ke dalam rantai makanan. Organisme penyaring seperti kerang dan tiram sangat rentan mengakumulasi partikel ini.

Bahayanya, mikroplastik dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, hingga senyawa organik persisten yang berisiko tinggi bagi kesehatan manusia yang mengonsumsinya.

"Pulau sampah ini juga memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada ikan dan burung yang sengaja mengonsumsi plastik karena mengiranya sebagai makanan," jelasnya.

Solusi Terpadu Hulu ke Hilir

Persoalan di Muara Angke tidak berdiri sendiri. Prof Etty menekankan bahwa sampah tersebut merupakan akumulasi dari berbagai wilayah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Jakarta. Oleh karena itu, pembersihan di titik hilir saja tidak akan pernah cukup.

Ia mendesak adanya solusi terpadu yang meliputi:

  • Edukasi masyarakat secara konsisten untuk mengubah perilaku membuang sampah.
  • Penguatan sistem pengelolaan sampah dan pengawasan lintas daerah.
  • Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai secara drastis.
  • Optimalisasi infrastruktur seperti Bank Sampah, TPS 3R, Material Recovery Facility (MRF), hingga teknologi Waste to Energy.

"Solusi paling penting adalah menghentikan aliran sampah dari sungai ke laut. Karena jika sumber tidak dihentikan, pembersihan di Muara Angke hanya akan bersifat sementara," tegas Prof Etty.

Tanpa langkah radikal di sumbernya, ekosistem pesisir Jakarta akan terus berada dalam ancaman kerusakan permanen. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |