Ilustrasi(Dok Istimewa)
Dunia sepak bola Indonesia berduka atas berpulangnya Muhammad Basri, atau yang lebih dikenal dengan nama M. Basri. Beliau bukan sekadar mantan pemain tim nasional, melainkan salah satu pelatih paling berpengaruh yang pernah dimiliki tanah air. Dikenal sebagai sosok yang disiplin dan memiliki visi taktik yang tajam, M. Basri telah meninggalkan warisan berharga di berbagai klub besar maupun di level tim nasional.
Sepanjang karier kepelatihannya yang membentang selama beberapa dekade, M. Basri identik dengan kesuksesan membangun tim yang solid dan berkarakter. Berikut adalah daftar tim dan perjalanan karier kepelatihan M. Basri yang patut dikenang.
1. Persebaya Surabaya: Rumah dan Puncak Kejayaan
Persebaya Surabaya adalah tim yang paling lekat dengan nama M. Basri. Di klub berjuluk Bajul Ijo inilah, ia menorehkan tinta emas yang sulit dilupakan oleh para Bonek (suporter Persebaya). Salah satu pencapaian monumentalnya adalah membawa Persebaya menjuarai kompetisi Perserikatan pada musim 1987/1988.
Kala itu, Persebaya di bawah asuhannya dikenal sebagai "The Dream Team" karena dihuni pemain-pemain bintang seperti Mustaqim, Yongki Kastanya, hingga Syamsul Arifin. Gaya bermain yang ofensif dan kolektif menjadi ciri khas tim asuhan M. Basri di Surabaya.
2. Tim Nasional Indonesia
Kapasitas M. Basri diakui di level nasional. Ia beberapa kali dipercaya untuk menangani Timnas Indonesia, baik sebagai pelatih kepala maupun dalam jajaran tim pelatih. Salah satu momen pentingnya adalah saat ia berduet dengan Iswadi Idris dan Abdul Kadir (trio pelatih) untuk menangani skuad Garuda.
Ia terlibat dalam berbagai ajang internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan SEA Games. Kedisiplinan yang ia terapkan menjadi fondasi bagi banyak pemain muda timnas pada masanya.
3. Niac Mitra
Di era kompetisi Galatama, M. Basri juga mencatatkan prestasi gemilang bersama Niac Mitra. Klub asal Surabaya ini merupakan salah satu kekuatan besar di sepak bola profesional Indonesia pada era 80-an. Di bawah tangan dinginnya, Niac Mitra berhasil menjadi juara Galatama, membuktikan bahwa M. Basri mampu sukses baik di kompetisi Perserikatan maupun Galatama.
4. Arema Malang
Meskipun identik dengan Persebaya, profesionalisme M. Basri membawanya menyeberang ke Malang untuk melatih Arema. Kehadirannya di Arema menunjukkan kelasnya sebagai pelatih yang dihormati lintas rivalitas. Ia membawa stabilitas bagi tim Singo Edan pada masa transisi kompetisi menuju Liga Indonesia.
5. Persitara Jakarta Utara
M. Basri juga pernah merambah ibu kota dengan melatih Persitara Jakarta Utara. Di klub ini, ia dikenal sebagai pelatih yang mampu memaksimalkan potensi pemain dengan anggaran terbatas, membawa Laskar Si Pitung menjadi tim yang disegani dan sulit dikalahkan di kandang sendiri.
6. PSM Makassar
Klub besar lain yang pernah merasakan sentuhan magis M. Basri adalah PSM Makassar. Di Juku Eja, ia meneruskan tradisi sepak bola keras dan cepat khas Makassar, namun dengan sentuhan organisasi permainan yang lebih rapi.
Ringkasan Tim yang Pernah Dilatih M. Basri:
- Persebaya Surabaya (Juara Perserikatan 1987/1988)
- Niac Mitra (Juara Galatama)
- Tim Nasional Indonesia
- Arema Malang
- Persitara Jakarta Utara
- PSM Makassar
- Persiba Balikpapan
Filosofi Kepelatihan M. Basri
M. Basri dikenal sebagai penganut sepak bola yang mengutamakan fisik prima dan kerja sama tim. Ia tidak menyukai pemain yang malas bergerak. Baginya, taktik sehebat apa pun tidak akan berjalan tanpa disiplin posisi dan stamina yang kuat. Hal inilah yang membuat tim-tim asuhannya selalu tampil bertenaga selama 90 menit.
FAQ: Pertanyaan Seputar Karier M. Basri
1. Apa prestasi terbesar M. Basri sebagai pelatih?
Prestasi paling ikonik adalah membawa Persebaya Surabaya menjuarai Perserikatan 1987/1988 dan membawa Niac Mitra berjaya di kompetisi Galatama.
2. Apakah M. Basri pernah menjadi pemain Timnas?
Ya, sebelum menjadi pelatih sukses, M. Basri adalah gelandang andalan Timnas Indonesia di era 1960-an hingga awal 1970-an.
3. Mengapa ia dijuluki pelatih spesialis "The Dream Team"?
Julukan ini muncul karena kemampuannya menyatukan banyak pemain bintang dalam satu tim tanpa menimbulkan konflik ego, seperti yang ia lakukan di Persebaya tahun 1988.
4. Kapan M. Basri meninggal dunia?
Informasi mengenai waktu tepatnya meninggalnya beliau sering dikaitkan dengan penghormatan dari klub-klub yang pernah dilatihnya, menandakan besarnya jasa beliau bagi sepak bola nasional.
5. Apa klub terakhir yang dilatih M. Basri?
Di masa senjanya, M. Basri lebih banyak berperan sebagai penasihat teknis atau direktur teknik di beberapa klub lokal sebelum benar-benar pensiun dari dunia lapangan hijau.
Kesimpulan
Kepergian M. Basri adalah kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Ia adalah jembatan antara era amatir Perserikatan menuju era profesional. Dedikasi dan prestasinya di Persebaya, Niac Mitra, hingga Tim Nasional akan selalu menjadi standar bagi pelatih-pelatih lokal generasi berikutnya.

















































