Aries Fadhilah Dewan Redaksi Media Group (Gambar sketsa profil dibuat dengan menggunakan AI)(Dok. Metro TV)
BAGI sebagian orang, tersingkirnya Brasil dari Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Norwegia di babak 16 besar adalah kejutan terbesar turnamen. Bagi saya, justru sebaliknya. Kekalahan itu bukan kejutan. Yang mengejutkan justru jika Brasil masih dianggap sebagai Brasil yang kita kenal dulu.
Saya tumbuh menyaksikan Brasil sebagai negeri tempat sepak bola dimainkan dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar untuk menang, tetapi untuk menghibur. Mereka memiliki identitas yang begitu kuat. Dribel, improvisasi, kreativitas, dan senyum para pemainnya menjadi ciri khas yang ditunggu jutaan pencinta sepak bola.
Puncaknya terjadi pada 2002. Saat itu dunia menyaksikan trio 'R' yang melegenda: Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho. Di belakang mereka berdiri kapten Cafu dan bek kiri legendaris Roberto Carlos. Mereka bukan hanya memenangi Piala Dunia, melainkan juga meninggalkan warisan tentang bagaimana sepak bola Brasil seharusnya dimainkan.
Dua puluh empat tahun berlalu. Hari ini, Brasil masih melahirkan pemain hebat. Banyak yang bermain di klub-klub elite Eropa. Namun, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Permainan khas samba itu perlahan memudar. Identitas yang dulu begitu jelas kini terasa kabur.
Saat melihat kondisi itu, saya teringat pemikiran salah satu legenda terbesar Brasil, Socrates. Dalam manuskrip memoarnya yang kemudian menjadi salah satu rujukan biografi, Doctor Socrates: Footballer, Philosopher, Legend, ia mengungkapkan kegelisahannya terhadap arah perkembangan sepak bola Brasil. Menurut Socrates, urbanisasi yang sangat cepat telah mengubah cara anak-anak Brasil mengenal sepak bola. Ruang-ruang terbuka yang dulu menjadi 'aboratorium alami' bagi lahirnya pemain kreatif, semakin menghilang. Lapangan kecil, jalanan, taman, hingga gang-gang tempat anak-anak bermain bola perlahan tergantikan oleh gedung dan permukiman.
Akibatnya, anak-anak tidak lagi belajar sepak bola secara alami. Mereka harus masuk sekolah sepak bola. Masalahnya, tidak semua keluarga mampu membayar biaya pembinaan. Sementara banyak akademi, menurut Socrates, saat itu juga belum dikelola secara profesional. Bakat-bakat terbaik bisa saja tidak pernah mendapat kesempatan berkembang.
Tentu saja, pandangan Socrates bukanlah kesimpulan ilmiah yang sudah terbukti secara empiris. Namun, ketika melihat perjalanan sepak bola Brasil dalam dua dekade terakhir, sulit untuk tidak bertanya, jangan-jangan ia memang melihat sesuatu lebih awal daripada kebanyakan orang.
Kegelisahan Socrates tidak berhenti di situ. Ia juga menulis bahwa semakin banyak pemain muda Brasil memandang tim nasional sebagai panggung untuk menarik perhatian klub-klub besar Eropa. Mengenakan jersey kuning-hijau menjadi etalase untuk menunjukkan kualitas individu. Tidak ada yang salah dengan mengejar karier yang lebih baik. Namun, ketika tujuan utama berubah menjadi memamerkan kemampuan pribadi, permainan kolektif bisa menjadi korban. Sepak bola kehilangan rohnya sebagai olahraga tim.
Mungkin inilah tantangan terbesar yang dihadapi Carlo Ancelotti. Sebagus apa pun seorang pelatih, akan sulit membangun tim juara jika kualitas kolektif tidak lebih besar daripada ambisi individu.
Investasi Inggris
Di sisi lain, ada Inggris. Selama puluhan tahun, setidaknya 60 tahun lalu sejak mereka meraih gelar juara sekali dalam sejarah, mereka menjadi bahan lelucon karena selalu gagal memenuhi ekspektasi besar. Namun, hari ini situasinya berbeda. Inggris menikmati hasil dari investasi yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Premier League berkembang menjadi liga terbaik dan paling profesional di dunia. Namun, yang sering terlupakan bukan hanya kemewahan kompetisinya, melainkan sistem pembinaannya. Klub-klub diwajibkan memiliki akademi yang memenuhi standar tinggi, kompetisi usia muda berlangsung berjenjang, dan proses pengembangan pemain dilakukan secara serius.
Hasilnya mulai terlihat. Skuad Inggris di Piala Dunia 2026 didominasi pemain yang tumbuh dari sistem kompetisi domestik. Dari 26 pemain yang dibawa, 21 berasal dari klub-klub Liga Inggris. Mereka tidak hanya memiliki kualitas individu, tetapi juga terbiasa bermain dalam lingkungan kompetisi yang sangat kompetitif setiap pekan.
Kemenangan atas Meksiko di babak 16 besar bukan sekadar tiket menuju perempat final. Itu adalah cerminan bahwa teori lama sepak bola masih berlaku: kompetisi yang sehat akan melahirkan tim nasional yang kuat.
Kini jalan Inggris masih panjang. Mereka belum menjadi juara. Tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, slogan Football is Coming Home tidak lagi terdengar sebagai sekadar nyanyian suporter. Ia mulai terdengar seperti sebuah harapan yang memiliki dasar.
Sementara itu, Brasil menghadapi pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari pelatih baru. Mereka perlu menemukan kembali identitas sepak bola yang pernah membuat seluruh dunia jatuh cinta kepada permainan indah bernama samba.

















































