ilustrasi(Lionel BONAVENTURE / AFP)
RAKSAKSA teknologi Meta menyepakati pembayaran ganti rugi bernilai fantastis mencapai 16,7 miliar Dolar AS (sekitar Rp267 triliun) guna menghentikan gugatan hukum dari 29 negara bagian Amerika Serikat. Selain sanksi finansial, Meta juga menyetujui penerapan aturan keselamatan baru yang secara drastis membatasi akses remaja pada platform Instagram dan Facebook.
Kesepakatan landmark di pengadilan federal ini menjadi puncak dari tuduhan panjang bahwa Meta sengaja merancang fitur aplikasinya untuk memicu kecanduan pada pengguna muda, manipulasi data anak di bawah umur, serta menyembunyikan risiko dampak kesehatan mental dari publik.
Poin utama dari kesepakatan tersebut mewajibkan Meta menerapkan pembatasan akses malam hari otomatis (jam malam digital) bagi akun remaja mulai pukul 00.00 hingga 06.00 waktu setempat. Selain itu, durasi penggunaan harian akun remaja akan dibatasi secara otomatis maksimal dua jam per hari untuk seluruh aplikasi grup Meta.
Jaksa Agung California, Rob Bonta, menyambut positif hasil penyelesaian ini. "Meta telah menyetujui transformasi masif yang akan mengurangi risiko bahaya dari platform mereka dalam waktu beberapa bulan ke depan. Ini adalah perubahan dan perlindungan nyata bagi anak-anak," tegasnya.
Pembayaran sanksi ganti rugi US$16,7 miliar ini akan disetorkan dalam 10 tahap angsuran tahunan, dengan alokasi terbesar mengalir ke California (hingga US$2,1 miliar) dan New York (hingga US$1,13 miliar). Untuk memastikan kepatuhan, sebuah auditor independen akan mengawasi operasional platform Meta selama 10 tahun ke depan.
Penyelesaian ini diambil Meta guna menghindari potensi denda yang lebih besar melebihi 1 triliun Dolar AS jika persidangan berlanjut. Meski demikian, pihak Meta menegaskan bahwa pembayaran ganti rugi ini bukan bentuk pengakuan atas kesalahan hukum.
Persidangan yang sempat berjalan dua minggu tersebut mengungkap kesaksian pimpinan Instagram, Adam Mosseri, yang mengakui bahwa fitur keselamatan remaja yang dipromosikan perusahaan sebenarnya memiliki tingkat efektivitas rendah dan sempat dinilai oleh sejumlah saksi "dirancang untuk gagal".
(AFP/P-4)









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)








