Bagaimana Rudal Iran Menjadi Lebih Mematikan setelah Serangan AS-Israel?

1 day ago 2
Bagaimana Rudal Iran Menjadi Lebih Mematikan setelah Serangan AS-Israel? Ilustrasi.(Magnific)

SERANGAN rudal Iran baru-baru ini yang menghantam pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania menjadi bukti nyata bahwa kemampuan balistik Teheran tetap menjadi ancaman serius. Meskipun AS mengerahkan baterai pertahanan udara canggih, rudal tersebut berhasil menembus dan menghantam pangkalan udara Muwaffaq Salti yang mengakibatkan tewasnya tiga personel AS.

Insiden ini membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebut militer Iran telah hancur total serta pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahwa program rudal Iran lumpuh secara fungsional. Setelah lima bulan pengeboman intensif oleh AS dan Israel, Teheran terbukti masih memiliki stok rudal yang mampu mengancam pasukan AS dan sekutu Teluk mereka.

Adaptasi Cepat di Bawah Tekanan

Pejabat AS mengungkapkan kepada Wall Street Journal bahwa Teheran mengadaptasi teknologinya untuk menghadapi pertahanan Amerika. Iran kini menggunakan rudal berkecepatan tinggi yang mampu bermanuver saat mendekati target, sehingga sangat sulit untuk dicegat.

Kepada The Telegraph, pejabat Iran menyatakan bahwa mereka justru belajar dari serangan AS. "Amerika sendiri ialah alasan utama di balik peningkatan rudal kami. Kami mengambil pelajaran dari peluncuran pagi hari untuk memperbaiki peluncuran berikutnya," ujar seorang pejabat di Teheran.

Peningkatan efisiensi operasional Iran terlihat sangat signifikan:

  • Waktu Pemulihan: Di awal perang, dibutuhkan waktu 15 jam untuk memfungsikan kembali peluncur rudal yang terkena serangan. Kini, mereka mampu menembakkan rudal kembali dalam waktu kurang dari 30 menit.
  • Produksi Berkelanjutan: Brigjen Abolfazl Shekarchi menyatakan bahwa produksi drone dan rudal terus berjalan di tengah peperangan, berpindah langsung dari pabrik ke medan tempur.

Teknologi Canggih dan Dukungan Asing

Akurasi serangan Iran memicu kecurigaan ada bantuan teknis dan intelijen dari Tiongkok dan Rusia. Beijing diduga menyediakan citra satelit terbaru, sementara pakar rudal Kremlin dilaporkan mengunjungi pabrik-pabrik bawah tanah Iran sepanjang tahun 2024.

Letjen Qasid Mahmoud, mantan wakil kepala staf angkatan bersenjata Yordania, menjelaskan taktik baru Iran yang menggabungkan rudal sederhana untuk mengalihkan perhatian radar sebelum meluncurkan rudal berkualitas tinggi. Rudal-rudal ini dilengkapi dengan teknologi manoeuvrable reentry vehicles (MaRV) yang memungkinkan perubahan jalur terbang di 30-40 km terakhir sebelum mencapai target.

Informasi Tambahan: Iran mengeklaim telah memasang sistem manuver ini pada versi terbaru rudal Haj Qassem dan rudal balistik jarak menengah Kheibar Shekan.

Benteng Kota Rudal di Bawah Gunung

Kekuatan Iran juga bertumpu pada kota-kota rudal yang dibangun jauh di dalam pegunungan berbatu. Fasilitas bawah tanah ini melindungi rudal, peralatan peluncuran, dan bahan bakar dari pengawasan satelit maupun serangan udara.

Selain itu, Iran mulai beralih ke desain bahan bakar padat yang memungkinkan peluncuran jauh lebih cepat dibandingkan roket berbahan bakar cair. Penggunaan peluncur bergerak (transporter-erector-launchers) yang berpindah-pindah di antara bunker rahasia membuat pasukan AS sulit untuk melumpuhkan kekuatan rudal Iran dalam satu serangan tunggal.

Meskipun kesepakatan damai sempat dibahas bulan lalu, pejabat Iran menegaskan bahwa persiapan perang justru semakin intensif karena ketidakpercayaan mereka terhadap komitmen Amerika Serikat. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |