Amerika Serikat vs Belgia 1-4: Bukti Nyata Sepak Bola Gak Bisa Didikte Kekuasaan

2 weeks ago 13
 Bukti Nyata Sepak Bola Gak Bisa Didikte Kekuasaan Pemain timnas Belgia Charles De Ketelaere melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang timnas Amerika Serikat di laga 16 Besar Piala Dunia 2026.(AFP/ALEX GRIMM / GETTY IMAGES NORTH AMERICA)

LANGKAH tim nasional Amerika Serikat (AS) di panggung Piala Dunia 2026 akhirnya terhenti di Stadion Lumen Field, Seattle. Selasa (7/7) WIB. Di hadapan pendukungnya sendiri, skuad asuhan Mauricio Pochettino dipaksa bertekuk lutut setelah kalah dari Belgia dengan skor telak 1-4.

Banyak yang menilai kekalahan memalukan ini adalah imbas dari 'sirkus politik' yang membuat fokus ruang ganti AS terganggu. Seperti diketahui, FIFA secara kontroversial membatalkan sanksi kartu merah striker utama AS, Folarin Balogun. Keputusan ini disinyalir kuat merupakan hasil lobi dan intervensi dari Presiden AS, Donald Trump.

Namun, itu justru menjadi bumerang. Ali-alih membakar semangat juang tim, kehebohan media selama dua hari terakhir malah merusak mental bertanding Christian Pulisic dkk. Di sisi lain, isu ini justru menjadi bahan bakar motivasi bagi skuad Belgia untuk tampil menggila.

Di atas lapangan, Balogun tampil frustrasi karena terisolasi di lini depan. Sepanjang babak pertama, ia bahkan hanya mampu menyentuh bola sebanyak 11 kali sebelum akhirnya ditarik keluar dengan kepala tertunduk.

Sejak peluit kick-off berbunyi, AS seperti kehilangan jati diri. Karakter bermain mereka yang biasanya agresif dan penuh determinasi mendadak sirna. Lini belakang tuan rumah tampil sangat pasif dan sering  melakukan kesalahan.

Pesta gol Belgia dibuka oleh Charles De Ketelaere yang sukses memanfaatkan keraguan barisan bek AS dalam mengantisipasi umpan silang Leandro Trossard. AS sebenarnya sempat membuka peluang ketika tendangan bebas Malik Tillman berbelok arah dan menggetarkan jala Belgia setelah jeda hidrasi pertama.

Namun, pesta publik Seattle hanya seumur jagung, tepatnya bertahan 116 detik saja. De Ketelaere kembali mencetak gol keduanya lewat sundulan terukur. Skor 1-2 menutup paruh pertama.

Memasuki babak kedua, alih-alih bangkit, AS justru sering melakukan blunder. Kiper Matt Freese membuat kesalahan fatal setelah kehilangan penguasaan bola di luar kotak penalti. Bola liar langsung disambar Hans Vanaken lewat tendangan jarak jauh yang melewati adangan canggung Tim Ream.

Penderitaan tuan rumah makin lengkap di menit-menit akhir laga. Pemain pengganti Romelu Lukaku ikut mencatatkan namanya di papan skor memanfaatkan miskomunikasi Chris Richards. Skor 1-4 menegaskan dominasi mutlak Belgia yang resmi melenggang ke perempat final untuk menantang Spanyol.

Selesai pertandingan, Mauricio Pochettino tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mendalam atas performa antiklimaks anak asuhnya yang tampil bak kehilangan arah.

"Sejak menit awal, kami tidak pernah benar-benar menyatu dengan ritme permainan. Bahkan saat sempat menyamakan kedudukan, kami langsung rapuh di momen berikutnya. Kami gagal menampilkan level permainan yang seharusnya," ujar pelatih asal Argentina itu.

Kekalahan ini jelas menyisakan pekerjaan rumah yang menumpuk bagi sepak bola Amerika Utara. Intervensi politik tingkat tinggi yang sempat dipamerkan Trump harus dibayar mahal dengan rusaknya konsentrasi para pemain.
(BBC/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |