AI Super di Luar Angkasa Mungkin Menjadi Alasan Mengapa Kita Belum Menemukan Alien

2 weeks ago 18
AI Super di Luar Angkasa Mungkin Menjadi Alasan Mengapa Kita Belum Menemukan Alien Ilustrasi(Magnific)

PERTANYAAN mendasar mengenai keberadaan makhluk asing di luar angkasa dirangkum secara apik oleh fisikawan terkenal, Enrico Fermi, pada tahun 1950-an melalui pertanyaan singkat: "Di mana semua orang?". Paradoks ini menyoroti kontradiksi besar antara tingginya probabilitas keberadaan peradaban maju di alam semesta yang luas, dengan nihilnya bukti atau sinyal yang berhasil kita tangkap. Namun, sebuah makalah penelitian terbaru menawarkan sudut pandang baru yang mengejutkan: alien mungkin telah menyerahkan eksplorasi kosmis mereka kepada kecerdasan buatan super (AI).

Penelitian pra-cetak (pre-print) di platform arXiv yang ditulis oleh peneliti asal Austria, Sergey Ivliev, mengulik dampak adopsi AI skala luas terhadap masa depan peradaban di luar angkasa. Argumen sentral dalam makalah tersebut menyatakan bahwa kita tidak melihat ribuan struktur raksasa buatan alien yang menerangi langit malam karena peradaban maju telah mencapai ambang batas Industri Kosmos AI Otonom (Autonomous AI-Cosmoindustry atau AICI).

Ketika sebuah peradaban mencapai titik AICI, di mana infrastruktur luar angkasa dapat berjalan secara mandiri tanpa campur tangan biologis kontinu, ambisi membangun imperium kosmis yang "bising" dan rakus sumber daya demi gengsi atau romantisme dianggap sebagai hal yang tidak rasional. Alih-alih membangun megastruktur masif yang mudah terdeteksi, ekspansi kosmis akan beralih ke mode senyap (Quiet Expansion) yang dikendalikan penuh oleh kalkulasi matematis AI yang super rasional.

Ivliev mengembangkan pemikiran ini berdasarkan basis riset dari astrofisikawan Sergey Popov. Sistem AI yang sangat rasional diproyeksikan akan menolak motivasi penaklukan ala makhluk biologis. Bagi AI, ekspansi ke ruang angkasa murni dilakukan sebagai bentuk manajemen risiko. Menempatkan seluruh populasi atau data dalam satu planet, satu sistem tata surya, atau bahkan satu galaksi, dipandang sebagai titik kegagalan tunggal (single point of failure) yang sangat berbahaya bagi kelangsungan informasi.

Oleh karena itu, AI akan memilih untuk mengirim sistem benih berukuran mikro dan bermassa rendah yang sangat sulit dideteksi oleh teleskop kita. AI super tersebut juga diyakini akan membatasi replikasi diri secara ketat demi menghindari skenario bencana penguasaan galaksi secara liar. Pendekatan logis nan sunyi inilah yang diduga kuat menjadi alasan mengapa proyek pencarian kecerdasan luar angkasa (SETI) sejauh ini hanya mendapati kesunyian kosmis. Melalui filter "Quiet Expansion" ini, rahasia di balik Paradoks Fermi perlahan-lahan mulai menemukan jawaban yang masuk akal.

Untuk memahami lebih dalam mengenai kontradiksi besar ini dan mengeksplorasi berbagai skenario ilmiah lainnya di balik kesunyian kosmos, Anda dapat menyimak pembahasan mendalam dalam video Penjelasan Terhadap Paradoks Fermi. Video ini merangkum teori-teori sains paling menarik yang mencoba menjawab mengapa alam semesta yan (Live Science/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |