Orang tua membopong dan mendampingi anaknya yang terjangkit demamberdarah dengue (DBD) di ruang melati lantai 5 RSUD Dr Soekardjo, KotaTasikmalaya. Kedua anak kembar tersebut, terjangkit positif DBD(MI/Kristiadi)
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, masih terus meningkat. Sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat 138 warga positif yang didominasi pasien anak-anak. Peningkatan tersebut, menyebabkan beberapa orang harus mendapat perawatan intensif.
Sekretaris Dinas (Sekdis) Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih mengatakan kasus DBD meningkat karena faktor cuaca dan kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.
"Di musim kemarau seharusnya masyarakat melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) agar jentik nyamuk di saluran air dan lainnya tak berkembang biak," ujar, Suryaningsih, Kamis (23/7/2026).
Menurut Suryaningsih, serangan nyamuk Aedes aegypty menyerang semua usia. Namun paling banyak anak-anak, mulai usia 0-5 tahun tercatat 31 kasus, usia 6-12 tahun 30 kasus, usia 13-18 tahun 22 kasus, usia 19-30 tahun 19 kasus, usia 31-50 tahun 25 kasus, usia 50 tahun 11 kasus.
"Kasus DBD tersebar di 10 kecamatan. Kami meminta masyarakat selalu waspada, rutin membersihkan lingkungan sekitar rumah, karena masih banyak warga abai dalam menguras air dalam bak mandi," katanya.
Ia menegaskan bahwa serangan nyamuk Aedes aegypty tidak memandang usia. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan berupaya melakukan edukasi melalui gerakan satu rumah satu jumantik (G1R1J) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk menurunkan kasus DBD.
"Dikhawatirkan kasus DBD meningkat, mudah-mudahan tahun ini angkatnya menurun dan warga harus selalu waspada membersihkan lingkungan sekitar rumah secara masif," pungkasnya. (H-4)

















































