Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
DI setiap Piala Dunia selalu lahir seorang anak yang mengajari orang-orang tua cara memandang sepak bola lagi. Dulu dunia mengenal Pele sebagai bocah yang tanpa sadar sedang mengubah sejarah. Lalu datang Diego Maradona yang membuat bola seolah memiliki jiwa. Setelah itu, Lionel Messi mengajari kita bahwa keheningan kaki kiri bisa lebih nyaring daripada sorak stadion.
Kini, di Piala Dunia 2026, dunia berhenti sejenak menyaksikan seorang anak bernama Lamine Yamal. Baru 19 tahun usianya, itu pun baru dua hari lalu. Namun, angka itu terasa seperti salah cetak. Di lapangan ia bermain seperti seseorang yang sudah berkali-kali melihat hari esok.
Sepak bola modern bergerak serbacepat. Semua ingin berlari, segera sampai ke gawang, bahkan ingin menang sebelum pertandingan benar-benar dimulai. Namun, Yamal justru mengajarkan sesuatu yang sederhana, yakni ada saat ketika bola harus dibiarkan diam sesaat. Orang-orang Spanyol menyebutnya la pausa, jeda.
Barangkali kehidupan memang membutuhkan jeda agar manusia tidak kehilangan dirinya. Demikian pula sepak bola. Di tengah hiruk-pikuk pressing, sprint, dan statistik, Yamal menghadirkan ruang sunyi. Ia tahu kapan mempercepat permainan, kapan memperlambatnya, kapan sebuah umpan lebih indah daripada tembakan. Ia tidak melawan waktu. Ia mengajak waktu berjalan mengikuti langkahnya.
Itulah sebabnya ia berbeda. Banyak pemain muda memiliki kaki cepat dan tenaga berlimpah. Namun, tidak banyak yang memiliki kepala yang bergerak lebih cepat daripada kedua kakinya.
Yamal membaca permainan beberapa detik lebih awal. Ia melihat lorong yang belum sempat dilihat bek lawan dan mengirim bola ke ruang yang bahkan belum disadari rekan setimnya. Sepak bola ternyata bukan hanya perkara otot. Sepak bola ialah cara membaca kemungkinan.
Piala Dunia 2026 menjadi panggung kedewasaan itu. Dalam enam pertandingan, ia memikul beban yang biasanya hanya diberikan kepada pemain senior. Ia mencetak satu gol, menciptakan empat peluang kunci, membukukan akurasi umpan 86%, melepaskan tujuh umpan silang sukses, serta berkali-kali menjadi pemain terbaik pertandingan.
Statistik memang penting. Namun, statistik kerap tak sanggup menghitung ketenangan. Statistik juga tak mampu mengukur rasa percaya yang tumbuh pada rekan-rekannya setiap kali bola berada di kaki seorang anak bernama Lamine Yamal.
Rekor-rekor pun runtuh. Ia menjadi pemain termuda yang tampil dalam enam pertandingan Piala Dunia dan mencetak gol di usia yang lebih muda daripada Lionel Messi. Namun, sejarah bukanlah perlombaan mengalahkan Pele, Maradona, atau Messi.
Sejarah ialah percakapan. Pele berbicara kepada zamannya. Maradona bercakap pada eranya. Messi berbicara kepada generasinya. Kini Yamal mulai menyampaikan kalimat pertamanya kepada dunia. Dunia pun mendengarkannya.
Yang menarik, ia tidak bermain seperti seseorang yang ingin menjadi Messi baru. Ia bermain sebagai dirinya sendiri. Kaki kirinya memang mengingatkan kita pada para maestro Barcelona. Dribelnya yang memotong dari kanan ke tengah menghadirkan kenangan tentang para 'penyihir' Camp Nou. Namun, setiap sentuhan tetap memiliki aksen yang khas. Ia tidak sedang mengulang masa lalu. Ia sedang menulis masa depan.
Barangkali itulah pelajaran terbesar yang diberikan seorang anak kepada orang-orang dewasa, bahwa bakat bukanlah hadiah. Bakat ialah tanggung jawab.
Pada usia ketika banyak remaja masih mencari jati diri, Yamal justru menjadi penentu arah permainan timnas Spanyol. Ia menjadi motor serangan, pencipta ritme, pembuka ruang, sekaligus penanggung harapan sebuah bangsa yang ingin kembali mengangkat trofi dunia.
Sepak bola sering memuja mereka yang mencetak gol. Padahal, kadang-kadang yang paling menentukan ialah mereka yang menciptakan kemungkinan lahirnya gol. Di situlah Yamal tinggal, di ruang-ruang kemungkinan.
Mungkin di sanalah letak misteri sepak bola. Bahwa, seorang anak mampu membuat jutaan orang dewasa percaya lagi pada sesuatu yang sering hilang dalam hidup, suatu keajaiban. Piala Dunia 2026 boleh jadi baru halaman pertama kisahnya. Namun, halaman pertama yang baik sering menentukan apakah sebuah buku akan dikenang puluhan tahun kemudian.
Yamal telah menulis halaman itu. Kini sepak bola tinggal menunggu, apakah ia kelak menjadi legenda, atau bahkan sesuatu yang lebih abadi, yakni seorang manusia yang membuat kita percaya bahwa keindahan selalu menemukan cara untuk lahir kembali, lewat sepasang kaki yang tahu kapan harus berlari dan kapan harus berhenti sejenak agar waktu ikut mengagumi bola.

















































