Wilayah kutub utara bulan vulkanik Jupiter, Io, diabadikan oleh wahana antariksa Juno milik NASA selama lintasan dekat ke-57 wahana tersebut di dekat raksasa gas itu pada 30 Desember 2023. Data dari lintasan tersebut dan satu lagi pada 3 Februari 2024, mem(NASA/JPL-Caltech/SwRI/MSSS. Pemrosesan gambar oleh Gerald Eichstädt)
WAHANA antariksa Juno milik NASA berhasil mengintip ke bawah permukaan Io, bulan Jupiter yang dikenal sebagai objek paling vulkanik di tata surya. Misi ini memberikan gambaran perdana mengenai aliran panas tersembunyi yang memicu aktivitas vulkanik ekstrem di satelit alami tersebut.
Melalui pemindaian instrumen Microwave Radiometer (MWR) pada perlintasan dekat akhir 2023 dan awal 2024, Juno mampu menembus kedalaman dua hingga enam meter di bawah permukaan Io. Instrumen yang awalnya dirancang untuk menembus awan tebal Jupiter ini ternyata membuka metode baru dalam mempelajari pergerakan panas di dalam kerak planet.
"Penemuan mengejutkan kita bisa melihat di bawah permukaan bulan berbatu memiliki implikasi penting untuk mempelajari gunung berapi di Bumi," kata Scott Bolton, salah satu penulis studi sekaligus peneliti utama Juno.
"Juno telah mengajari kita bahwa jika kita melihat dengan instrumen tipe MWR di dekat gunung berapi di Bumi, kita mungkin melihat pola gradien suhu bawah permukaan yang serupa, yang memberikan informasi baru tentang cara kerja gunung berapi di Bumi."
Hasil pengukuran menunjukkan adanya lonjakan suhu lebih dari 22 derajat Celsius hanya beberapa meter di bawah permukaan. Angka ini jauh melebihi panas yang dihasilkan oleh paparan sinar matahari semata. Pemetaan panas bawah permukaan oleh Juno juga menemukan wilayah-wilayah lokal yang suhunya 10 hingga 20 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan area di sekitarnya.
Selain data suhu, Juno mengungkap kejutan lain. Meski dipenuhi gunung-gunung tinggi dan ratusan gunung berapi aktif, sebagian besar permukaan Io tampak sangat halus. Para peneliti menduga Io terus-menerus terselimuti oleh lapisan berpori abu vulkanik, embun beku sulfur, serta material letusan lain yang menutupi medan lama.
Panas bawah permukaan Io diduga naik secara konsisten dari interior cairnya melalui kerak kondusif, atau berasal dari kantong-kantong lava mendingin yang terperangkap di bawah permukaan. Berbeda dengan Bumi yang aktivitas vulkanismenya dominan dipicu oleh peluruhan radioaktif, aktivitas Io dipicu oleh gaya gravitasi raksasa Jupiter. Tarikan gravitasi tersebut terus meregangkan dan meremas Io (tidal flexing), menghasilkan gesekan internal dahsyat yang menyalakan ratusan gunung berapi.
"Io memberikan jendela unik untuk mempelajari bagaimana pemanasan pasang surut (tidal heating) bekerja di seluruh kosmos, sebuah proses fundamental yang menyediakan energi dan panas bagi dunia-dunia yang jauh dari bintang induknya," ujar Bolton. "Proses ini tidak hanya menciptakan objek paling vulkanik di tata surya seperti Io, tetapi juga memberi bahan bakar bagi lautan di bawah permukaan bulan-bulan planet raksasa, seperti Europa dan Ganymede. Hingga saat ini kita hanya bisa mengamati panas yang lepas di permukaan atau melalui letusan. Sekarang kita dapat mengarakterisasi bagaimana panas berpindah dari bagian dalam menuju permukaan."
Teknik pemindaian gelombang mikro ini tidak hanya berpotensi membantu pemantauan erupsi di Bumi atau memahami sejarah vulkanisme kuno di Mars dan Venus. Instrumen serupa juga dapat digunakan untuk menembus kerak es bulan lain seperti Europa dan Ganymede guna mendeteksi lingkungan lautan bawah tanah yang berpotensi menopang kehidupan. Temuan lengkap penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Geophysical Research: Planets. (Space/Z-2)

















































