Ilmuwan Temukan Bukti Venus Masih Aktif Secara Geologis dari Dalam

3 hours ago 2
Ilmuwan Temukan Bukti Venus Masih Aktif Secara Geologis dari Dalam Terdapat lembah retakan yang sangat besar di Venus. Hal ini menunjukkan bahwa planet tersebut masih aktif secara geologis.(NASA/JPL/USGS)

PARA ilmuwan menemukan bukti baru bahwa Venus kemungkinan masih mengalami aktivitas geologis dari dalam. Simulasi komputer tiga dimensi (3D) tercanggih menunjukkan sejumlah lembah retakan (rift valleys) raksasa di planet tersebut terbentuk relatif baru dan diperkirakan masih terus meluas.

Temuan ini mengindikasikan bagian dalam Venus jauh lebih aktif daripada yang diyakini para peneliti selama ini, sekaligus menantang pandangan lama yang menganggap Venus sebagai dunia yang tidak aktif secara geologis.

Venus merupakan salah satu planet paling ekstrem di tata surya dengan suhu permukaan mencapai ratusan derajat Celsius dan tanpa samudra. Selama bertahun-tahun, ilmuwan menganggapnya sudah mati secara geologis. Namun, temuan terbaru memperkuat dugaan bahwa planet tetangga Bumi ini masih "hidup" dan bahkan mungkin memiliki gunung berapi aktif.

Salah satu petunjuk terkuat aktivitas tektonik di Venus adalah keberadaan lembah retakan raksasa. Formasi serupa memang ada di Bumi, seperti Lembah Retakan Afrika, tetapi versi Venus dapat membentang hingga 10.000 kilometer.

Simulasi 3D Ungkap Usia Retakan

Banyak ahli kebumian sebelumnya mengasumsikan bahwa retakan di Venus terbentuk lebih dari 100 juta tahun lalu. Namun, studi baru dari ETH yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience membantah pandangan tersebut.

Penelitian yang dipimpin Taras Gerya, Profesor Geodinamika di Departemen Ilmu Kebumian dan Planet ETH, bersama penulis utama Xi Yang, menggunakan simulasi komputer 3D beresolusi tinggi pertama untuk memetakan retakan Venus. Model ini memberikan gambaran yang lebih realistis tentang bagaimana kerak Venus merenggang, bergeser, dan mengendur seiring waktu.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa tebing retakan (rift flanks) yang lebar dan meninggi terbentuk di sepanjang sisi lembah saat usia geologisnya masih muda. Simulasi tersebut juga mengindikasikan bahwa retakan di Venus dapat melebar lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, yaitu sekitar 3 hingga 10 sentimeter per tahun.

Berbeda dengan Bumi yang mengalami erosi tanah, tebing retakan di Venus merata karena keraknya merenggang dan mengendur secara perlahan setelah pergerakan tektonik berhenti. Struktur tebing yang diprediksi oleh simulasi baru ini cocok dengan gambar yang ditangkap oleh wahana Magellan pada dekade 1990-an, memperkuat dugaan bahwa beberapa retakan tersebut terbentuk relatif baru.

"Hasil ini membantu kita untuk lebih baik dalam menilai aktivitas tektonik di Venus," ujar Taras Gerya.

Pemandu Misi Antariksa Masa Depan

Model simulasi ini dapat membantu ilmuwan mengidentifikasi wilayah yang masih aktif secara geologis untuk menjadi target prioritas misi masa depan. Pemahaman ini juga diharapkan membantu mempelajari perkembangan planet berbatu lainnya, termasuk eksoplanet di luar tata surya.

Saat ini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) serta Badan Antariksa Eropa (ESA) sedang mempersiapkan beberapa misi ke Venus. Profesor geofisika ETH, Paul Tackley dan Taras Gerya, turut berkontribusi dalam misi EnVision milik ESA yang dijadwalkan meluncur pada awal 2030-an untuk meneliti Venus secara lebih mendalam, mulai dari inti hingga atmosfer atasnya. (Science Daily/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |