Sunah Bersiwak pada Awal Wudhu: Rukun dan Tata Caranya

1 week ago 12
 Rukun dan Tata Caranya Ilustrasi.(Magnific)

DALAM kitab Nihayatuz Zain karya ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani, dijelaskan secara rinci mengenai adab dan sunah-sunah dalam berwudhu. Salah satu poin penting ialah kesunahan bersiwak serta bacaan doa di awal wudhu.

Hal tersebut dijelaskan Ustaz Abdurrachman Asy-Syafii dalam kitab tersebut pada halaman 20-21. Selamat menyimak.

Adab dan Doa di Awal Wudhu

Disunahkan bagi orang yang hendak berwudhu untuk memulai dengan membaca ta’awudz, basmalah, dan hamdalah saat mencuci kedua telapak tangan. Hal ini dilakukan bersamaan dengan niat sunah-sunah wudhu di dalam hati agar terjadi keselarasan antara lisan, hati, dan anggota badan.

Adapun lafal doa yang dianjurkan adalah:

"أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ للهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَنِعْمَتِهِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُوْرًا وَالْإِسْلَامَ نُورًا رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْنِ"

Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah atas Islam dan nikmat-Nya. Segala puji bagi Allah yang menjadikan air sebagai pensuci dan Islam sebagai cahaya. Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, dari kehadiran mereka."

Ketentuan Mencuci Telapak Tangan dan Siwak

Saat mencuci telapak tangan, jika seseorang ragu akan kesucian tangannya, makruh hukumnya langsung mencelupkan tangan ke dalam wadah air yang sedikit (kurang dari dua qullah) sebelum mencucinya tiga kali di luar wadah.

Setelah mencuci tangan, sunah berikutnya ialah bersiwak. Jika tidak tersedia kayu siwak, diperbolehkan menggunakan benda apa pun yang permukaannya kasar, termasuk sepotong kain perca.

Rukun Siwak

Terdapat lima rukun dalam bersiwak:

  1. Mustak: Orang yang melakukan siwak.
  2. Mustak bih: Alat yang digunakan (benda kasar).
  3. Mustak minhu: Objek yang dibersihkan (seperti perubahan bau atau kotoran pada gigi).
  4. Mustak fihi: Tempat siwak (mulut).
  5. Niat: Berniat untuk menjalankan kesunahan. Dalam wudhu, niat siwak sudah tercakup dalam niat wudhu jika dilakukan setelah mencuci tangan dan sebelum berkumur.

Waktu dan Keutamaan Siwak

Bersiwak disunahkan dalam setiap keadaan, kecuali bagi orang yang berpuasa setelah waktu zawal (matahari tergelincir). Namun, kesunahan ini menjadi sangat ditekankan (muakkad) pada kondisi berikut:

  • Saat berwudhu dan hendak salat.
  • Saat menghadapi sakaratul maut dan waktu sahur.
  • Sebelum membaca Al-Qur'an, Hadits, atau ilmu syar'i.
  • Saat berzikir, masuk rumah, hendak tidur, atau ketika bau mulut berubah.

Tingkatan Alat Siwak

Urutan keutamaan jenis kayu yang digunakan ialah kayu arok, pelepah kurma, kayu zaitun, kayu yang beraroma wangi, baru kemudian kayu lain. Dari segi kondisi kayu, yang paling utama adalah kayu kering yang dibasahi air, disusul air mawar, air liur, kayu basah alami, dan terakhir kayu kering tanpa dibasahi.

Tata Cara dan Adab Bersiwak

Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan teknis bersiwak yang ideal:

  • Cara Memegang: Gunakan tangan kanan. Letakkan jari kelingking di bawah siwak; jari manis, tengah, dan telunjuk di atasnya; serta ibu jari di bawah pangkal siwak. Dilarang menggenggamnya dengan kepalan tangan karena diyakini dapat menyebabkan wasir.
  • Gerakan: Gosokkan secara mendatar (melintang) pada gigi bagian luar dan dalam serta secara membujur (vertikal) pada lidah.
  • Urutan: Mulai dari sisi kanan mulut (gigi atas dan bawah) hingga ke tengah, lalu sisi kiri dengan cara yang sama, dilanjutkan ke lidah dan langit-langit mulut.
  • Menelan Ludah: Disunahkan menelan air liur saat pertama kali meletakkan siwak di mulut sebelum digerakkan (sebagai perlindungan dari penyakit). Namun, makruh menelan ludah setelah siwak digunakan karena dapat menimbulkan sifat waswas.
  • Ukuran: Makruh jika panjang siwak melebihi satu jengkal (sekitar 30-40 cm).

Wallahu a'lam bisshawab.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |