Siapa Pejabat Bersama Trump dan Air Force One saat Hindari Ancaman Pembunuhan Iran?

8 hours ago 12
Siapa Pejabat Bersama Trump dan Air Force One saat Hindari Ancaman Pembunuhan Iran? Natalie Harp.(Dok Istimewa)

PRESIDEN Donald Trump dilaporkan meninggalkan diplomat tinggi, kepala Departemen Keuangan, dan rombongan pers Gedung Putih dalam risiko serangan rudal Iran yang mematikan, sementara ia terbang pulang dari Turki secara rahasia bulan lalu. Trump melakukan perjalanan tersebut hanya dengan segelintir staf kepercayaan, termasuk asisten muda yang jarang meninggalkan sisinya.

Laporan The Washington Post pada Rabu (12/8) mengungkapkan bahwa truk katering digunakan untuk menyelundupkan Trump keluar dari pesawat Boeing 747 yang dimodifikasi--yang sebelumnya ia naiki secara terbuka--setelah KTT NATO tahun ini. Trump kemudian pindah ke pesawat C-32A, versi militer dari Boeing 757, yang saat itu sedang digunakan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Lingkaran Dalam di Penerbangan Rahasia

Dalam penerbangan terselubung tersebut, Trump didampingi oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino, Direktur Operasi Ruang Oval Walt Nauta, dan Natalie Harp. Harp, asisten eksekutif berusia 34 tahun yang dijuluki printer manusia, dikenal karena tugasnya menyediakan cetakan artikel berita dan unggahan media sosial dalam format besar untuk Trump.

Sementara itu, pejabat kabinet lain seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Direktur Komunikasi Stephen Cheung tetap berada di pesawat Boeing 747. Pesawat tersebut tetap menggunakan tanda panggilan (call sign) Air Force One sebagai umpan, sementara pesawat yang membawa Trump terbang dengan tanda panggilan REACH 88.

Strategi Perlindungan Secret Service

Operasi ini dirancang oleh Secret Service sebagai upaya melindungi presiden dari ancaman rudal darat-ke-udara Iran dan potensi serangan rudal panggul. Intelijen Amerika Serikat sebelumnya memperingatkan ada ancaman nyata terhadap transportasi presiden.

Ancaman ini juga yang membuat Trump meninggalkan pesawat VC-25 Bridge pemberian pemerintah Qatar dan memilih Boeing era 1990-an karena pesawat yang lebih baru tersebut dianggap kekurangan sistem pertahanan rudal yang memadai.

Kontroversi Pesawat Umpan

Keputusan untuk memindahkan Trump secara rahasia dan membiarkan staf serta pers tetap berada di pesawat yang berfungsi sebagai umpan memicu pertanyaan etis. Muncul kekhawatiran bahwa otoritas keamanan secara sengaja menempatkan puluhan nyawa dalam bahaya demi melindungi presiden.

Namun, Trump membela keputusan tersebut. Ia mengeklaim bahwa dirinya justru berada dalam bahaya yang lebih besar di pesawat yang ia tumpangi secara rahasia.

"Saya pikir sebenarnya pesawat yang saya tumpangi memiliki risiko lebih besar," ujar Trump kepada wartawan pada Selasa malam. "Saya pikir itu lebih berisiko karena itulah pesawat yang kemungkinan besar akan mereka incar."

Ketika ditanya apakah ia membahayakan nyawa penumpang di pesawat umpan, Trump menegaskan bahwa ia hanya mengikuti instruksi keamanan. "Ini benar-benar terserah Secret Service. Saya hanya mengikuti apa yang ingin mereka lakukan. Mereka ingin saya naik penerbangan yang berbeda, pesawat yang berbeda, dengan keamanan yang setara. Saya melakukan apa yang mereka katakan," pungkasnya. (The Independent/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |