Infiltrasi Pekerja TI Korea Utara di Perusahaan AS Gunakan AI dan Identitas Curian

8 hours ago 13
Infiltrasi Pekerja TI Korea Utara di Perusahaan AS Gunakan AI dan Identitas Curian Ilustrasi.(Magnific)

KOREA Utara dilaporkan membangun tenaga kerja rahasia yang menyusup ke dalam perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Dengan menggunakan identitas curian, perangkat kecerdasan buatan (AI), dan bantuan kaki tangan di AS, para operatif ini berhasil mendapatkan pekerjaan jarak jauh (remote) demi mengumpulkan dana bagi rezim Kim Jong Un.

FBI menyatakan terdapat ribuan pekerja serupa yang melamar pekerjaan di seluruh Amerika. Investigasi mendalam selama setahun oleh The Wall Street Journal melalui dokumenter bertajuk Infiltrated: North Korea’s Secret U.S. Workforce mengungkap cara kerja sel operatif ini berdasarkan data yang bocor, mulai dari riwayat peramban, email, hingga rekaman layar dari komputer mereka sendiri.

Pemanfaatan AI dalam Proses Perekrutan

Sel yang dilacak dalam investigasi tersebut melamar ke lebih dari 1.000 perusahaan hanya dalam waktu tiga bulan dengan bantuan AI di hampir setiap tahapannya. Mereka menggunakan AI untuk menulis surat lamaran dan resume yang meyakinkan. Rekaman layar menunjukkan para pekerja ini membaca jawaban langsung dari ChatGPT saat sesi wawancara berlangsung.

Bahkan, ketika manajer perekrutan mulai menyadari taktik ini, para pekerja Korea Utara mulai menggunakan alat face-swapping berbasis AI untuk memanipulasi wajah mereka agar lebih sulit dideteksi saat wawancara video.

Keterlibatan Fasilitator Warga Amerika

Karena pengiriman laptop perusahaan langsung ke Pyongyang akan memicu kecurigaan, para pekerja teknologi informasi (TI) ini membayar fasilitator di Amerika Serikat untuk mengoperasikan perangkat mereka di wilayah AS. Para pekerja kemudian terhubung secara jarak jauh (remote) ke perangkat tersebut.

Fasilitator ini--beberapa sadar dan lainnya tidak--juga membantu membuka rekening bank, mencairkan cek, hingga mewakili dalam beberapa sesi wawancara. Dalam satu kasus di Ohio, seorang pria mengaku menghadiri rapat perusahaan sementara pekerja Korea Utara yang melakukan pekerjaan sebenarnya. Pada pekerjaan dengan gaji US$75.000 (sekitar Rp1,18 miliar) per tahun, mereka membagi pendapatan tersebut 50/50.

Pencurian Identitas yang Merugikan Warga Sipil

Untuk lolos skrining latar belakang, operatif Korea Utara menggunakan identitas warga Amerika yang dicuri. Mereka sering kali menjalankan beberapa alias secara bersamaan dan memegang beberapa pekerjaan di bawah satu nama curian.

Dampaknya sangat merusak bagi korban asli. seorang pria di Georgia yang identitasnya dijual secara daring kini tidak bisa membuka rekening bank, mengajukan pinjaman, atau menyewa rumah karena namanya tercemar oleh aktivitas ilegal ini.

Pendanaan Program Militer Pyongyang

Pendapatan dari skema ini tidak main-main. Beberapa pekerja TI Korea Utara mampu menghasilkan hingga US$300.000 (sekitar Rp4,7 miliar) per tahun. Departemen Keuangan AS menemukan bahwa hingga 90% dari gaji mereka disetorkan kembali ke rezim Korea Utara.

Estimasi terbaru menunjukkan operasi ini menghasilkan hingga US$800 juta (sekitar Rp12,6 triliun) per tahun. Aliran dana ini dilacak melalui jaringan pekerja TI dan penjahat siber, yang pada akhirnya mencapai perusahaan-perusahaan yang disanksi oleh AS karena keterkaitannya dengan program senjata nuklir dan rudal Pyongyang. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |