Selebrasi, Doa, Duit

1 week ago 11
Selebrasi, Doa, Duit Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SATU gol mengubah papan skor. Satu selebrasi mengubah makna. Di lapangan hijau, gerakan yang hanya berlangsung beberapa detik itu kini hidup dalam dua dunia sekaligus. Langit yang menerima doa dan pasar yang menghitung nilainya. Selebrasi pesepak bola menjadi dua sisi sekeping koin: doa dan duit.

Pada mulanya, selebrasi hanyalah luapan syukur. Ia lahir spontan ketika bola bersarang di gawang atau peluit panjang memastikan kemenangan. Tidak ada naskah, tidak ada strategi pemasaran. Yang ada hanyalah kegembiraan yang meluap dan syukur yang mencari bahasa. Bahasa itu bernama selebrasi.

Namun, sepak bola modern mengubah banyak hal. Gerakan yang semula merupakan bahasa hati kini dapat menjadi identitas, merek, bahkan aset bernilai jutaan dolar. Di situlah sepak bola memperlihatkan paradoksnya, yaitu apa yang lahir sebagai bahasa iman kini juga menjadi bahasa industri.

Salah satu wujud paradoks itu tampak pada Lamine Yamal. Sebelum pertandingan dimulai, pemain muda Spanyol tersebut kerap menengadahkan kedua tangan. Seusai laga, ia bersujud syukur di atas rumput. Bagi seorang muslim, gestur itu bukan sekadar ritual, melainkan juga pengakuan bahwa kemenangan bukan semata hasil kemampuan manusia, melainkan juga anugerah Tuhan.

Namun, gestur yang lahir dari iman itu tidak berhenti sebagai ekspresi spiritual. Di luar lapangan, nama, identitas, serta gestur khas '304' milik Yamal memperoleh perlindungan sebagai merek dagang. Satu gerakan menghadap ke langit sebagai ungkapan syukur, sekaligus menghadap ke pasar sebagai aset ekonomi. Di situlah paradoks sepak bola modern menemukan bentuknya.

Bahasa syukur semacam itu melampaui batas agama. Lionel Messi, misalnya, hampir selalu membuat tanda salib sebelum pertandingan. Seusai mencetak gol, kapten Argentina itu mengangkat telunjuk ke langit sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada mendiang neneknya. Yamal dan Messi dipisahkan generasi dan agama, tetapi dipersatukan keyakinan yang sama bahwa manusia boleh menendang bola, tetapi tidak mutlak menguasai arah sejarah.

Gerakan-gerakan selebrasi itu sesungguhnya merupakan bahasa. Pelopor teori kinesik, Ray Birdwhistell, menjelaskan tubuh menyampaikan makna tanpa sepatah kata pun. Tangan yang menengadah, dahi yang menyentuh rumput, tanda salib, ataupun telunjuk yang mengarah ke langit merupakan simbol yang dipahami lintas budaya. Selebrasi bukan sekadar tontonan, melainkan juga pengakuan bahwa tidak semua kemenangan lahir hanya dari kekuatan manusia.

Namun, industri olahraga membaca bahasa yang sama dengan cara berbeda. Di matanya, setiap identitas yang dikenali publik memiliki nilai ekonomi. Nama, wajah, nomor punggung, tanda tangan, hingga gerakan khas dapat berkembang menjadi aset yang layak dilindungi. Pakar right of publicity, J Thomas McCarthy, menyebut identitas sebagai kekayaan yang memiliki nilai komersial dan karena itu patut memperoleh perlindungan hukum.

Karena itulah, semakin banyak pesepak bola mendaftarkan nama, gestur, dan selebrasi mereka sebagai merek dagang. Yang dahulu lahir spontan kini dicatat sebagai kekayaan intelektual. Di tangan industri olahraga, identitas bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan juga aset yang dapat dilisensikan, dipasarkan, dan diwariskan.

Praktik tersebut bukan sesuatu yang patut dicurigai. Tidak ada yang keliru ketika seorang atlet menikmati manfaat ekonomi dari reputasi yang dibangunnya melalui disiplin, latihan, pengorbanan, dan prestasi. Popularitas bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan buah dari ribuan jam latihan dan konsistensi. Nilai komersial merupakan konsekuensi logis dari reputasi yang dibangun.

Persoalannya bukan ketika selebrasi menghasilkan keuntungan. Persoalannya ialah ketika keuntungan mulai menentukan cara orang bersyukur. Kapitalisme modern memiliki kemampuan mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas. Dalam pandangan Walter Benjamin, reproduksi massal dapat mengikis aura, yakni keunikan dan kesakralan yang melekat pada sebuah pengalaman. Ketika simbol yang lahir dari iman lebih dihargai karena nilai jualnya daripada makna yang melahirkannya, yang memudar bukan hanya keunikannya, melainkan juga kedalaman maknanya.

Di situlah kehati-hatian diperlukan. Pasar memang berhak memberikan harga, tetapi jangan sampai mengambil alih makna yang melahirkannya. Ketika nilai jual lebih dihargai daripada nilai spiritual, selebrasi kehilangan ruhnya dan hanya menyisakan kemasan.

Pada akhirnya, doa dan duit tidak selalu saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan. Yang satu menjaga manusia tetap rendah hati ketika menang. Yang lain memberikan penghargaan atas kreativitas, reputasi, dan kerja keras. Pertentangan baru muncul ketika nilai ekonomi tidak lagi menjadi akibat dari prestasi, tetapi berubah menjadi tujuan yang mengarahkan setiap gerakan.

Selebrasi bukan lagi soal bagaimana seorang pemain merayakan gol, melainkan untuk siapa kegembiraan itu dipersembahkan. Bila selebrasi lahir dari syukur, pasar hanya datang belakangan. Bila selebrasi sejak awal dirancang demi pasar, syukur perlahan kehilangan tempatnya.

Harga sebuah selebrasi tidak ditentukan nilai lisensinya, tetapi oleh ketulusan syukur yang melahirkannya. Pasar boleh memberikan harga pada sebuah gerakan, tetapi tak akan pernah mampu memberikan nilai pada iman yang menggerakkannya. Langit tidak pernah memperdagangkan syukur.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |