(Dok. Pribadi)
RASANYA lega saat mendengar statemen Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria beberapa waktu lalu di Surabaya bahwa riset bidang sosial humaniora sangat penting di era Society 5.0, Sabtu (4/7). Statemen itu meyakinkan kembali bahwa daya saing bangsa tidak hanya terkait dengan science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Bidang riset yang diprioritaskan dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017-2045 sebagaimana Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2018 ialah pangan, energi, kesehatan, transportasi, produk rekayasa keteknikan, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, sosial humaniora, material maju, dan bidang riset lainnya.
Peraturan itu dibuat sebagai acuan dan rambu-rambu bagi pemerintah dan masyarakat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. RIRN memuat rencana induk dalam jangka waktu 30 tahun yang dibagi ke dalam beberapa tahapan pembangunan riset nasional.
BRIN sebagai penanggung jawab pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menerjemahkan RIRN dengan menekankan pada fokus bidang riset utama, di antaranya bidang pangan dan pertanian, meliputi riset smart farming dan ketahanan pangan; bidang energi dan manufaktur, meliputi pengembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan; bidang kesehatan, meliputi penelitian farmasi, vaksin, dan pemanfaatan teknologi genomic; dan bidang sosial humaniora, meliputi kajian kebijakan publik dan dinamika masyarakat.
Menariknya BRIN saat ini menambahkan untuk penguatan industri strategis bidang sport science yang diikuti dengan membuat pusat kolaborasi riset (PKR) bidang olahraga yang akan menggandeng kampus yang memiliki unggulan olahraga sebagai pengembangnya. Itu sebuah terobosan spektakuler karena bidang sport science selama ini belum tersentuh secara maksimal dalam program-program riset.
Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, RIRN juga menjadi acuan bagi institusi pendidikan tinggi melalui fungsi tridarma, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Institusi pendidikan tinggi di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek) dan kementerian lain yang mengoordinasikan pendidikan tinggi juga memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) untuk ambil bagian dalam memajukan bangsa, khususnya melalui riset. Dengan demikian, BRIN dan kampus dapat bersinergi dan berkolaborasi untuk menerjemahkan RIRN secara konkret untuk kemajuan dan daya saing bangsa.
POSISI TAWAR RISET SHARE
Riset sosial humaniora saat ini mengalami ekspansi yang berkembang menjadi suatu bidang atau disiplin kajian yang lebih akomodatif, yang disebut SHARE, yaitu social, humaniora, art, religious, and education. Bahkan beasiswa yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga mengarahkan ke isu manusia dan kemasyarakatan yang berfokus pada pengembangan ilmu sosial, budaya, seni, agama, dan pendidikan untuk mendukung pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Salah satu goal riset STEM memang konkret, yaitu menghasilkan paten. Paten menjadi salah satu daya saing bangsa, sebagai ilustrasi posisi Indonesia hingga 2026 dalam paten dunia menempati peringkat 34 dunia dengan jumlah 15.815. Peraih lima besar paten dunia ialah Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Jerman (WIPO Statistics Database, Maret 2026/BRIN 2026). Bagaimana dengan goal riset SHARE? Tentu tidak seperti STEM.
Era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat berdampak luas pada kehidupan umat manusia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya secara kompleks. Oleh karena itu, sebagai penawar dampak kemajuan teknologi, perlu disertai mitigasi yang dapat memberikan solusi terhadap problem kehidupan manusia sebagai akibat kemajuan teknologi sehingga di sinilah riset SHARE sangat penting dikembangkan secara beriringan dengan riset STEM. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi, bahkan menjadi cerminan dari peradaban sebuah bangsa.
Selama ini program riset di BRIN dan Kemendikti-Saintek lebih didominasi STEM karena STEM dipandang sebagai pendekatan interdisipliner untuk memecahkan masalah dunia nyata. Padahal permasalahan kehidupan tidak hanya terkait dunia nyata, melainkan ada 'dunia lain' yang bersentuhan dengan dimensi kehidupan manusia secara luas, yang membutuhkan solusi penanganan secara tepat, tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan STEM.
Dimensi lain di luar dunia nyata itu memerlukan kehadiran pendekatan tersendiri. Oleh karena itu, riset SHARE menjadi paradigma sekaligus pendekatan yang tepat untuk memberikan solusi atas problem kehidupan manusia yang sangat kompleks di era Society 5.0.
Kuntowijoyo (1943-2005) membagi humaniora dalam tiga lingkungan tempat manusia hidup, yaitu lingkungan material, lingkungan sosial, dan lingkungan simbolik. Lingkungan material ialah lingkungan buatan manusia. Lingkungan sosial ialah organisasi sosial, stratifikasi, sosialisasi, dan gaya hidup. Lingkungan simbolik ialah sesuatu yang meliputi makna dan komunikasi. Pada lingkungan sosial dan simbolik itulah diperlukan pendekatan tersendiri melalui riset SHARE.
Dalam konteks peradaban bangsa, riset SHARE selama ini oleh sebagian kelompok dipandang tidak memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa. Hal tersebut sangat terasa dalam program-program pemerintah, yang umumnya diprioritaskan pada STEM untuk pendanaan yang lebih besar, baik di BRIN maupun di Kemendikti-Saintek.
Demikian pula dalam program apresiasi talenta unggul (riset dan inovasi) lebih didominasi pada bidang STEM, seperti Sarwono Award pada bidang STEM, Siwabessy Award pada bidang nuklir, Nurtanio Award pada bidang penerbangan dan antariksa. Sementara itu, Habibie Prize pada bidang yang lebih akomodatif, yaitu ilmu dasar, ilmu kedokteran dan bioteknologi, ilmu rekayasa, ilmu filsafat, agama, dan kebudayaan.
Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan apa yang tampak pada dunia nyata, tetapi juga situasi dan kondisi yang menyertai, yaitu aspek isoterik yang selama ini dipelajari dalam ilmu psikologi, agama, seni, dan lain sebagainya, yang hal itu memengaruhi seluruh kehidupan karena berkaitan dengan manusia sebagai subjek kemajuan bangsa.

















































