Seminar Nasional dan Deklarasi Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045, di Bandung, Rabu (15/7).(MI/ Bayu Anggoro)
GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tanggapan serius terkait wacana pengaktifan kembali Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bagi siswa SMA dan SMK negeri di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa rencana yang menyasar murid dari keluarga ekonomi menengah ke atas tersebut harus melalui proses pengkajian yang mendalam dan tidak boleh diputuskan secara terburu-buru.
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi saat menghadiri Seminar Nasional dan Deklarasi Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045 di Bandung pada Rabu (15/7). Dalam kesempatan itu, ia juga mengklarifikasi bahwa usulan mengenai penarikan kembali SPP bukan berasal dari dirinya sebagai kepala daerah.
"Itu kan kita harus melakukan pengkajian secara mendalam. Nanti kalau gubernur mengaktifkan SPP, opininya akan berbeda lagi, disebut gubernur tidak memprioritaskan pendidikan," ujar Dedi.
Alih-alih langsung menerapkan pungutan SPP, Dedi Mulyadi menekankan bahwa langkah pertama yang harus diambil oleh pihak sekolah adalah memaksimalkan pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Menurutnya, efektivitas penggunaan anggaran yang sudah ada menjadi kunci utama sebelum membebankan biaya kepada orang tua murid.
Ia membagikan hasil tinjauan lapangannya ke beberapa sekolah untuk membandingkan kualitas pengelolaan anggaran. Salah satu yang menjadi contoh positif adalah SMAN 1 Depok.
"Sekolah ini pakai dana BOS, ada yang berantakan, ada yang rapi seperti SMAN 1 Depok. Saya tanya kepala sekolahnya, ternyata kuncinya adalah pengelolaan yang baik. Jadi, tahap pertama sekarang saya ingin berfokus sekolah itu mengelola dana BOS dulu dengan baik," jelas Dedi.
Tanggung Jawab Pemerintah Provinsi Terhadap Fasilitas
Mengenai keluhan terkait kekurangan fasilitas fisik di sekolah, seperti kerusakan toilet, ruang kelas yang kurang memadai, ketiadaan pendingin ruangan (AC), hingga perbaikan pagar sekolah, Dedi memastikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan tetap hadir memberikan dukungan.
Namun, ia memberikan batasan yang jelas antara kebutuhan investasi fisik dan biaya operasional harian:
- Fasilitas Fisik: Pemprov Jabar akan berupaya memenuhi kebutuhan infrastruktur sekolah yang mendesak.
- Operasional Harian: Sekolah diminta tetap memaksimalkan dana BOS yang tersedia untuk kebutuhan rutin.
"Saya menghormati usulan itu, tetapi juga mempertimbangkan aspek publik. Jangan dulu membuka SPP. Operasional sekolah dipenuhi dulu oleh BOS," tegasnya.
Status Kebijakan Saat Ini
Senada dengan Gubernur, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final mengenai penerapan kembali SPP. Kebijakan ini dipastikan tidak akan diberlakukan secara mendadak pada tahun ajaran baru yang sedang berjalan.
"Masih menjadi pembahasan. Jadi nanti kita lihat seperti apa harapan-harapan yang lahir dari pembicaraan tersebut," kata Purwanto. (BY/I-1)
Catatan Kebijakan:
Wacana pengaktifan kembali SPP ini awalnya muncul sebagai solusi untuk menutupi celah pendanaan pendidikan di tingkat menengah atas. Namun, dengan adanya arahan terbaru dari Gubernur, fokus dialihkan pada audit internal pengelolaan dana BOS di setiap satuan pendidikan negeri di Jawa Barat.

















































