ilustrasi(Antara)
Ratusan petani di Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa beralih profesi sejak sebulan terakhir akibat kemarau panjang yang memicu kekeringan ekstrem di lahan pertanian padi sawah. Fenomena El Nino menyebabkan lahan pertanian tidak dapat digarap pascapanen, sehingga para petani harus mencari sumber penghasilan lain demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya, Ruhiana, mengungkapkan bahwa di wilayahnya saja terdapat sekitar 250 petani yang kini tidak lagi turun ke sawah. Mereka memilih bekerja serabutan, mulai dari menjadi pedagang keliling hingga merantau ke luar daerah.
"Mereka beralih profesi sebagai pedagang eceran di Pasar Rangkasbitung dan Pasar Semi Narimbang. Ada juga yang menjadi buruh bangunan, buruh panggul di Tanjung Priok Jakarta, tukang ojek, hingga penambang pasir," ujar Ruhiana di Lebak, Sabtu (5/9).
Menurut Ruhiana, para petani ini tersebar mencari nafkah hingga ke Serang, Cilegon, Merak, Tangerang, dan Jakarta. Sementara itu, bagi petani yang masih memiliki cadangan pangan, mereka memilih tetap di rumah sembari memperbaiki peralatan pertanian untuk persiapan musim tanam mendatang.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Rangkasbitung. Ketua Kelompok Tani Blok Central, Udin, menyebutkan sekitar 150 petani di wilayahnya terdampak langsung oleh fenomena El Nino. Mayoritas dari mereka kini bekerja sebagai buruh proyek pembangunan di Jakarta.
"Kami bersama petani lainnya bekerja buruh bangunan di Jakarta dan setiap pekan pulang membawa uang untuk keluarga," kata Udin.
Dampak kekeringan ini juga dirasakan oleh Abdulraup, seorang petani asal Warunggunung. Sudah tiga pekan terakhir ia beralih menjadi penjual bakso cuanki di Rangkasbitung karena tidak adanya aktivitas di sawah. Ia tidak sendiri, ada sekitar 30 petani lainnya yang menempuh jalan serupa dengan sistem pendapatan komisi.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, membenarkan bahwa banyak petani di berbagai kecamatan beralih profesi sementara waktu. Langkah ini dinilai sebagai upaya bertahan hidup di tengah kondisi alam yang tidak menentu.
"Kami memastikan setelah memasuki musim hujan, mereka akan kembali menggeluti usaha pertanian pangan," pungkas Dodi.
Dinas Pertanian Kabupaten Lebak sebelumnya telah berupaya melakukan mitigasi kekeringan melalui program pompanisasi di sejumlah titik untuk membantu lahan yang masih memiliki sumber air. (Ant/E-3)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



