Ilustrasi, seseorang melakukan aktivitas fisik.(Dok. Magnific)
RASA malas, kelelahan, atau suasana hati yang sedang tidak baik kerap membuat seseorang memilih untuk lebih banyak duduk dan mengurangi aktivitas. Namun, kebiasaan kurang bergerak tidak hanya membuat tubuh menjadi kurang aktif. Jika berlangsung terus-menerus, kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius.
Mengenal Sedentary Lifestyle
Kurang bergerak atau sedentary lifestyle merupakan kondisi ketika seseorang menghabiskan banyak waktu untuk duduk atau berbaring dengan sedikit atau tanpa aktivitas fisik. Kebiasaan ini sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari, seperti terlalu banyak duduk saat bekerja di depan komputer, menonton televisi, menggunakan perangkat elektronik dalam waktu lama, atau bepergian dalam posisi duduk.
Gaya hidup tidak aktif ini secara perlahan dapat merusak sistem metabolisme dan memicu berbagai risiko penyakit kronis sebagai berikut:
1. Obesitas
Kurang bergerak menyebabkan tubuh membakar lebih sedikit kalori. Jika asupan kalori dari makanan dan minuman lebih besar daripada energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik, kelebihan kalori tersebut akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak. Kondisi ini memicu pertambahan berat badan yang signifikan dan meningkatkan risiko obesitas.
2. Penyakit Jantung
Kurangnya aktivitas fisik berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung. Salah satu dampak utamanya adalah penumpukan plak pada arteri yang memasok darah ke otot jantung. Penumpukan plak ini mempersempit aliran darah dan dapat memicu berbagai masalah jantung, di antaranya:
- Angina: Nyeri dada akibat berkurangnya aliran darah ke jantung.
- Serangan Jantung: Kerusakan otot jantung akibat kekurangan oksigen secara mendadak.
- Gagal Jantung: Kondisi jantung tidak mampu memompa darah secara optimal.
- Aritmia: Gangguan pada irama detak jantung.
3. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
Aktivitas fisik secara teratur sangat berperan dalam membantu menjaga elastisitas pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Sebaliknya, gaya hidup pasif menjadi faktor risiko utama meningkatnya tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat membebani kerja jantung dan merusak pembuluh darah di seluruh tubuh.
4. Strok
Risiko strok meningkat tajam pada individu yang jarang bergerak. Strok terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti, sehingga sel-sel otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi. Kerusakan sel otak dapat terjadi dalam waktu singkat dan berpotensi menyebabkan kecacatan jangka panjang, kerusakan otak permanen, hingga kematian.
Kebiasaan kurang bergerak tidak hanya memengaruhi kebugaran sesaat, tetapi berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang. Mulailah menyisipkan aktivitas fisik ringan di sela rutinitas untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari risiko penyakit mematikan.
(MedlinePlus, Halodoc/H-3)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



