Studi: Risiko Kanker Lambung Meningkat akibat Konsumsi Minuman Manis Harian

4 hours ago 2
 Risiko Kanker Lambung Meningkat akibat Konsumsi Minuman Manis Harian Ilustrasi minuman manis.(Dok. Magnific)

KEBIASAAN mengonsumsi minuman manis setiap hari kembali menjadi sorotan medis. Sebuah penelitian terbaru menemukan adanya kaitan signifikan antara konsumsi minuman berpemanis dengan peningkatan risiko kanker lambung.

Risiko tersebut dilaporkan mencapai 2,45 kali lebih tinggi pada individu yang mengonsumsi minuman manis setiap hari dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsinya. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa temuan ini belum membuktikan minuman manis sebagai penyebab langsung kanker lambung secara kausal.

Lantas, seberapa kuat hubungan antara konsumsi gula cair ini dengan kesehatan lambung? Berikut adalah penjelasan dokter dan temuan penelitian selengkapnya.

Risiko Kanker Lambung 2,45 Kali Lebih Tinggi

Berdasarkan laporan dari GI & Hepatology News, penelitian ini melibatkan 112.284 tenaga kesehatan di Amerika Serikat yang tergabung dalam Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study.

Para peserta dipantau selama lebih dari tiga dekade. Selama masa pemantauan tersebut, peneliti mengumpulkan data mendalam mengenai pola makan, gaya hidup, serta kondisi kesehatan para partisipan. Tercatat sebanyak 278 kasus kanker lambung muncul selama periode penelitian.

Data menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis (sekitar 8 ons atau 240 mililiter) per hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per bulan.

Peran Fruktosa dalam Risiko Kanker

Dikutip dari Medical News Today, penelitian tersebut juga menyoroti hubungan antara konsumsi fruktosa yang tinggi dengan meningkatnya kejadian kanker lambung. Fruktosa merupakan jenis gula yang umum ditemukan dalam berbagai produk minuman berpemanis di pasaran.

Peneliti menduga terdapat sejumlah mekanisme biologis yang memicu kondisi ini, di antaranya:

  • Peningkatan berat badan yang signifikan.
  • Munculnya resistensi insulin.
  • Terjadinya peradangan kronis dalam tubuh.
  • Perubahan pada mikrobioma usus.

Namun, mekanisme tersebut saat ini masih bersifat hipotesis dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dikonfirmasi secara medis.

Penjelasan Dokter: Hubungan Observasional

Andrew T. Chan, seorang ahli gastroenterologi dan epidemiologi yang terlibat dalam penelitian ini, menegaskan bahwa hasil studi tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak.

Karena bersifat observasional, penelitian ini hanya menunjukkan adanya korelasi atau hubungan antara kebiasaan minum manis dan risiko kanker. Faktor gaya hidup lain di luar konsumsi minuman manis mungkin saja turut memengaruhi hasil akhir penelitian tersebut.

Meski belum bersifat kausal, Chan menyarankan masyarakat untuk mulai mengurangi konsumsi minuman manis sebagai langkah pencegahan yang masuk akal. Selain risiko kanker lambung, konsumsi gula berlebih sudah lama dikaitkan dengan masalah kesehatan kronis lainnya seperti obesitas dan diabetes tipe 2.

Temuan ini diharapkan menjadi sinyal awal bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur pola konsumsi harian, sembari menunggu penelitian lanjutan yang lebih mendalam terkait dampak langsung minuman manis terhadap sel lambung. (GI & Hepatology News, Medical News Today/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |