Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026(KEK Industropolis Batang)
Jawa Tengah terus memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah tujuan investasi strategis di Indonesia. Potensi tersebut kembali diperkenalkan melalui Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung pada 8-9 September 2026 di Semarang. Mengusung tema Powering Sustainable Growth: Investing in Central Java’s Green Industrial Future through Advanced Manufacturing and Digital Infrastructure, forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, pengelola kawasan industri, serta calon investor.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempromosikan berbagai potensi investasi Jawa Tengah, terutama di sektor advanced manufacturing, industri berorientasi ekspor, energi hijau, dan infrastruktur digital. Rangkaian forum juga dilanjutkan dengan kunjungan ke KEK Industropolis Batang pada Rabu (9/9). Site visit tersebut diharapkan memberikan gambaran langsung kepada calon investor mengenai kesiapan kawasan serta peluang investasi yang tersedia.
Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Saribua Siahaan, menegaskan pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang memberikan kepastian sekaligus kemudahan bagi investor.
“Kami memastikan akan membuat regulasi yang memudahkan investor untuk dating ke Indonesia," ujar Saribua.
Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, investor, dan perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan investasi. Investor yang telah beroperasi di Indonesia juga didorong untuk terus melakukan ekspansi, sementara investor baru diharapkan semakin yakin menjadikan Indonesia, termasuk Jawa Tengah, sebagai tujuan investasi.
Dari sisi pemerintah daerah, Plt Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, menilai investasi tidak hanya tercermin melalui angka capaian. Kehadiran investasi juga memiliki dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah, mulai dari pembukaan lapangan kerja hingga penguatan rantai pasok dan pertumbuhan UMKM.
“Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar capaian statistik. Di baliknya terdapat perluasan lapangan kerja, aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM, serta semakin kuatnya rantai pasok ekonomi daerah,” ucap Johan.
Jawa Tengah dinilai memiliki sejumlah fondasi yang mendukung pengembangan industri, mulai dari konektivitas Trans-Jawa, infrastruktur pelabuhan dan bandara, keberadaan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK), hingga ketersediaan tenaga kerja produktif.
Ke depan, arah pengembangan investasi juga didorong menuju sektor-sektor bernilai tambah. Di antaranya advanced manufacturing, elektronik, automotive dan komponen kendaraan listrik, semikonduktor, industri berorientasi ekspor, serta hilirisasi.
Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ricky Kusmayadi, mengatakan investasi memiliki posisi strategis dalam memperkuat perekonomian nasional.
“Investasi menjadi salah satu pendorong utama melalui peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, penguatan daya saing nasional, serta mendukung prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya
Dalam pengembangan investasi tersebut, KEK Industropolis Batang diproyeksikan menjadi salah satu kawasan yang mendukung kebutuhan industri masa depan. Kawasan ini dikembangkan berdasarkan masterplan seluas 4.300 hektare dengan konsep Smart, Green, and Sustainable. Pengembangannya mengintegrasikan infrastruktur industri, teknologi digital, utilitas, konektivitas logistik, serta berbagai fasilitas pendukung kegiatan investasi.
Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Angga Brahmana Sukma atau Bram, mengatakan kesiapan sebuah kawasan industri tidak hanya dapat diukur berdasarkan luas lahan yang tersedia.
“Fokus kami bukan hanya pada luasan kawasan. Ada dua parameter utama kami dalam menyiapkan tempat untuk berinvestasi, yaitu efisiensi dari sisi investasi dan efisiensi dari sisi produksi,” terang Bram.
Menurut Bram, kesiapan ekosistem tersebut mulai terlihat melalui masuknya investasi berteknologi tinggi ke kawasan tersebut. Salah satunya adalah rencana pengembangan hyperscale data center berbasis kecerdasan buatan atau AI oleh Zankore.
Zankore merupakan perusahaan patungan yang melibatkan Nvidia Corporation, Indosat, Ooredoo Group, dan Nokia. Investasi untuk pembangunan hyperscale data center AI di Industropolis Batang direncanakan mencapai sekitar Rp82 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
“Kita sebagai warga Jawa Tengah patut berbangga hati karena investasi high-tech saat ini sudah masuk ke Jawa Tengah,” imbuhnya.
Ia mengatakan kawasan tersebut tidak hanya dirancang sebagai lokasi yang dipenuhi fasilitas industri, tetapi sebagai ekosistem yang dapat mendukung aktivitas ekonomi sekaligus kehidupan masyarakat di dalam kawasan.
“Kami tidak hanya ingin mengembangkan deretan pabrik. Kami meyakini kawasan ini harus menjadi satu ekosistem yang hidup. Bukan hanya sekadar deretan pabrik, tetapi juga ada kehidupan di dalamnya.”
Investasi Diharapkan Perkuat Ekonomi Lokal
Keyakinan terhadap potensi investasi di kawasan tersebut juga disampaikan oleh PT Rumah Keramik Indonesia, salah satu tenant di KEK Industropolis Batang. Direktur PT Rumah Keramik Indonesia, Surya Handoko, mengatakan perjalanan investasi perusahaan di Batang tidak terlepas dari dukungan pemerintah dan pengelola kawasan, termasuk dalam menghadapi berbagai tantangan sejak tahap awal pembangunan hingga operasional.
“Kami hanya punya satu keyakinan, pemerintah tidak akan meninggalkan kami sendirian,” ucap Surya.
Menurut Surya, keberadaan investasi juga perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Selain menciptakan aktivitas ekonomi, investasi diharapkan mampu membuka lapangan kerja serta memperkuat rantai pasok lokal.
“Jangan dilihat dari angkanya. Mungkin angka kami kecil, tetapi kami ingin melakukan sesuatu untuk daerah sekitar kami.”
Rangkaian Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026 kemudian dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke KEK Industropolis Batang pada 9 September 2026.
Kunjungan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada calon investor mengenai perkembangan kawasan, kesiapan infrastruktur, serta berbagai peluang investasi yang tersedia.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, pengembangan ekosistem industri berbasis teknologi, keberlanjutan, dan konektivitas terus didorong untuk memperkuat daya tarik Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri nasional. (E-3)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



