Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha saat menghadiri jumpa pers penutupan Liga Universitas Coca-Cola 2026 di Stadion PTIK, Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026).(ANTARA/Zaro Ezza Syachniar)
WAKIL Ketua Umum PSSI, Ratu Tisha Destria, menegaskan ambisinya untuk melihat Timnas Indonesia memiliki "mental baja" di masa depan. Tisha ingin mengubah paradigma kegagalan yang selama ini sering dilabeli dengan istilah "kalah mental" menjadi sebuah kajian ilmiah yang terukur melalui pendekatan sport science.
Harapan tersebut disampaikan Tisha saat menghadiri jumpa pers penutupan Liga Universitas 2026 di Stadion PTIK, Jakarta Selatan, Minggu (24/8).
Menurutnya, persoalan mentalitas pemain tidak boleh hanya berhenti menjadi bahan pembicaraan di warung kopi, melainkan harus ditransformasikan ke dalam riset ilmiah.
"Kita selalu berbicara apa sih kurangnya kita? Pasti keluar kata-kata 'ah kalah mental'. Jadi daripada kita terus-terusan ngobrol yang sifatnya warung kopi, kita ubah itu menjadi scientific research," ujar Ratu Tisha.
Pendekatan Ilmiah dan Football Science
Tisha menjelaskan bahwa kesehatan mental dan kekuatan psikologis pemain dapat dikembangkan melalui berbagai aspek latihan fisik yang dikaji secara mendalam. Ia mencontohkan pentingnya physical strengthening, conditioning, hingga injury prevention yang harus mengikuti perkembangan terbaru dalam football science.
Selain aspek fisik, Tisha juga menyoroti penerapan aturan pertandingan tertentu, seperti sin bin (hukuman keluar lapangan sementara), yang diterapkan di Liga Universitas. Aturan ini menurutnya bisa menjadi objek penelitian untuk melihat sejauh mana pengaruhnya terhadap kemampuan pemain dalam mengontrol emosi di bawah tekanan pertandingan.
Visi 10 Tahun ke Depan: Ratu Tisha menargetkan dalam satu dekade mendatang, Timnas Indonesia di segala level usia dikenal memiliki mentalitas terkuat di Asia, mencontoh ketenangan bermain timnas Jepang.
Liga Universitas sebagai Laboratorium Mental
Liga Universitas 2026 menjadi wadah nyata bagi inisiatif ini dengan mengusung tema "Football For Mental Health". Tisha berpendapat bahwa pembentukan mental tidak akan efektif jika hanya dilakukan di dalam ruang kelas melalui teori.
"Yang begini tidak bisa hanya diomongin di dalam ruang kelas. Mungkin bisa satu-dua hari, tapi setelah itu praktiknya harus di lapangan. Sepak bola adalah praktik yang sesungguhnya," tambahnya.
Melalui kompetisi antar universitas ini, para pemain diharapkan mendapatkan pengalaman langsung dalam menghadapi situasi sulit di lapangan. Dengan jam terbang dan tekanan kompetisi yang terukur, diharapkan bibit-bibit pemain masa depan Indonesia tidak lagi goyah saat menghadapi lawan tangguh di level internasional.
Tisha optimistis bahwa dengan memulai riset dan praktik yang tepat sejak dini, sepuluh tahun dari sekarang, publik tidak akan lagi membicarakan kekalahan Indonesia akibat faktor mental, melainkan memuji ketangguhan psikologis skuad Garuda di lapangan hijau. (Ant/Z-1)

















































