Prancis Rusuh Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026, 200 Orang Ditangkap

1 week ago 13
Prancis Rusuh Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026, 200 Orang Ditangkap Ilustrasi(Xinhua)

SEJUMLAH kota di Prancis dilanda kerusuhan hebat setelah tim nasional mereka dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026. Kekalahan dari Spanyol pada babak semifinal yang berlangsung Rabu (15/7) memicu kemarahan massa, yang berujung pada penangkapan lebih dari 200 orang di seluruh negeri.

Paris dan Lyon menjadi titik panas gangguan keamanan paling serius sesaat setelah peluit panjang dibunyikan. Massa yang kecewa dilaporkan menyerang aparat kepolisian menggunakan petasan dan kembang api sebagai bentuk protes atas kegagalan Les Bleus melaju ke partai final.

Hingga pukul 06.00 waktu setempat, Kepolisian Paris melaporkan sedikitnya 141 orang telah diamankan. Berdasarkan informasi dari sumber kepolisian kepada BFMTV, mayoritas penangkapan dilakukan karena penggunaan mortir kembang api yang sengaja diarahkan kepada petugas keamanan serta layanan darurat di ibu kota.

Kondisi serupa terjadi di Lyon, tepatnya di area nonton bersama Place Bellecourt. Ratusan suporter yang awalnya berkumpul secara damai berubah menjadi anarkis. Polisi terpaksa melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa dan menutup sementara stasiun metro di kawasan tersebut guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Di Lyon, sedikitnya 20 orang ditangkap akibat pelemparan benda tumpul ke arah petugas dan aksi pembakaran tempat sampah. Meski terjadi ketegangan, otoritas setempat mengonfirmasi tidak ada laporan korban luka serius maupun kerusakan infrastruktur skala besar di kedua kota tersebut. Sementara itu, sekitar 40 orang lainnya ditangkap di berbagai wilayah Prancis lainnya.

Insiden ini menjadi ironi karena laga semifinal tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Bastille. Pemerintah Prancis sebenarnya telah mengantisipasi potensi gangguan dengan mengerahkan 70.000 personel keamanan tambahan di seluruh penjuru negeri. Beberapa agenda perayaan nasional bahkan sempat ditunda atau dibatalkan demi memprioritaskan keamanan selama pertandingan berlangsung.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menegaskan bahwa aparat akan tetap dalam posisi siaga penuh. "Kami mempertahankan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Tidak akan ada toleransi terhadap tindakan yang mengganggu ketertiban umum," tegas Nunez sebagaimana dikutip dari the Sun.

Prancis harus mengubur mimpi meraih gelar juara dunia setelah takluk 0-2 dari Spanyol. Gol penalti Mikel Oyarzabal dan gol tambahan dari Pedro Porro memastikan keunggulan tim Matador. Hasil ini membawa Spanyol ke babak final untuk menghadapi pemenang antara laga Inggris melawan Argentina.

Skuad asuhan Didier Deschamps kini harus bersiap melakoni laga perebutan tempat ketiga di Amerika Serikat sebelum kembali ke tanah air. Kegagalan ini menambah catatan kelam keamanan sepak bola Prancis, setelah sebelumnya pada Mei lalu, lebih dari 400 orang juga ditangkap saat perayaan gelar juara Liga Champions Paris Saint-Germain.

Reaksi Keras Emmanuel Macron

Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan respons tegas atas insiden memalukan ini. Ia menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah hukum yang berat bagi para pelaku kerusuhan.

"Saya tidak ingin kita menganggap ini sebagai hal yang biasa. Ini bukan sepak bola, ini bukan olahraga, dan bukan hal yang kami cintai," ujar Macron. "Kami akan bertindak tegas terhadap mereka yang ditangkap. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Sudah cukup. Ini harus berakhir." (Ndf/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |