Pejalan kaki berjalan di kawasan menara Eiffel, Paris.(Dok. AFP/DUNAND)
PRANCIS saat ini tengah menghadapi situasi kekeringan yang dikategorikan sebagai kondisi "luar biasa" dan "sangat mengkhawatirkan". Menteri Transisi Ekologi Prancis, Monique Barbut, mengungkapkan bahwa jumlah wilayah yang terkena pembatasan penggunaan air telah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pemantauan.
Dalam pertemuan unit krisis kementerian pada Rabu (15/7), Barbut memaparkan bahwa sebanyak 99 departemen di seluruh daratan Prancis kini berada di bawah status pembatasan air. Jumlah ini mencakup seluruh wilayah metropolitan negara tersebut.
Dari total wilayah terdampak, 43 departemen telah mencapai tingkat siaga "krisis" tertinggi. Pada level ini, penggunaan air dibatasi secara ketat dan hanya diperbolehkan untuk kebutuhan prioritas seperti kesehatan dan keamanan publik.
“Sebanyak 206 dekrit prefektur saat ini berlaku, menandai tingkat tertinggi yang tercatat setidaknya sejak 2013,” ujar Barbut sebagaimana dikutip dari stasiun televisi BFM TV.
Respons Pemerintah terhadap Gelombang Panas
Selain krisis air, Prancis juga terus berjuang melawan suhu ekstrem. Juru bicara pemerintah, Maud Bregeon, mengumumkan langkah darurat dengan mengirimkan 16.500 unit pendingin udara (AC) ke berbagai rumah sakit pada akhir pekan ini.
Secara total, pemerintah telah memesan 30.000 unit AC yang ditargetkan selesai didistribusikan pada akhir Juli. Sekitar 70 persen dari unit yang sudah tersedia dikirimkan ke departemen-departemen yang berada di bawah tingkat peringatan panas tertinggi.
Langkah ini diambil mengingat infrastruktur di Eropa secara umum memiliki jumlah pendingin udara yang lebih sedikit dibandingkan kebutuhan saat cuaca panas ekstrem, sebuah isu yang kini menjadi perdebatan politik hangat di Prancis.
Dampak Fatal dan Risiko Kebakaran
Cuaca panas ekstrem ini juga membawa dampak fatal bagi keselamatan warga. Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, melaporkan bahwa 142 orang meninggal dunia karena tenggelam sejak 19 Juni lalu. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Ferrari menyebut peningkatan kasus tenggelam ini berkaitan langsung dengan gelombang panas, karena semakin banyak orang yang mencari perlindungan dari suhu tinggi dengan berenang di sungai, danau, maupun kawasan pesisir tanpa pengawasan yang memadai.
Meski suhu diperkirakan akan menurun secara bertahap, banyak daerah masih mencatatkan suhu di atas 30 derajat Celsius. Peramal cuaca memprediksi suhu mencapai 34 derajat Celsius di Auxerre, 36 derajat Celsius di dekat Bourges, dan puncaknya 37 derajat Celsius di lembah Rhone bagian bawah.
Kondisi kering dan panas ini juga memicu risiko kebakaran hutan yang tinggi. Layanan Cuaca Hutan Prancis telah menetapkan status siaga oranye untuk 36 departemen. Selain itu, badai petir hebat dengan aktivitas listrik yang kuat diperkirakan akan melanda wilayah timur Prancis dalam waktu dekat. (Ant/Anadolu/H-3)

















































