Pimpinan PB IPSI Gus Nabil Dorong Modernisasi Tata Kelola Pencak Silat

4 days ago 11
Pimpinan PB IPSI Gus Nabil Dorong Modernisasi Tata Kelola Pencak Silat Ilustrasi(Dok Istimewa)

Kepengurusan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) Masa Bakti 2026–2030 perlu menjadikan konsolidasi organisasi dan modernisasi pembinaan sebagai pijakan untuk meningkatkan daya saing pencak silat Indonesia.

Melalui keterangannya hari ini,Wakil Ketua Umum PB IPSI Muchamad Nabil Haroen mengatakan, pencak silat tidak cukup hanya dikelola melalui rutinitas pertandingan. Diperlukan pembinaan berbasis ilmu pengetahuan, kompetisi berkualitas, sumber daya manusia profesional, dan tata kelola yang terukur.

“Periode 2026–2030 harus menjadi periode konsolidasi sekaligus akselerasi,” kata Gus Nabil seusai pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026).

Menurutnya, konsolidasi dibutuhkan untuk menyatukan seluruh perguruan, pengurus daerah, atlet, pelatih, serta wasit-juri dalam satu arah kebijakan. Adapun akselerasi diperlukan agar pencak silat mampu mengikuti perkembangan olahraga modern dan meningkatkan daya saingnya di tingkat internasional.

Gus Nabil menegaskan seluruh jajaran pengurus bekerja dalam satu visi di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB IPSI Sugiono. Setiap pengurus bertanggung jawab menerjemahkan kebijakan organisasi ke dalam program konkret sesuai bidang masing-masing.

“Seluruh pengurus berada dalam satu barisan untuk menerjemahkan dan menyukseskan visi Ketua Umum PB IPSI. Amanah yang diberikan kepada masing-masing pengurus harus menjadi kekuatan kolektif untuk membawa pencak silat Indonesia semakin maju,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, Gus Nabil tampil dengan gaya khasnya mengenakan blangkon dan sarung batik. Penampilan itu merepresentasikan kedekatannya dengan tradisi dan kebudayaan Nusantara yang menjadi akar pencak silat Indonesia.

Penguatan ekosistem

Dalam kerangka menyukseskan agenda PB IPSI, Gus Nabil menyatakan siap mendukung penguatan standardisasi dan sertifikasi profesi, pembangunan sistem pemeringkatan atlet, peningkatan pembinaan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan industri pencak silat.

Standardisasi dan sertifikasi diperlukan untuk meningkatkan kompetensi serta memberikan pengakuan profesional kepada pelatih, wasit-juri, dan sumber daya manusia lain dalam ekosistem pencak silat.

Sementara itu, sistem pemeringkatan atlet dibutuhkan untuk menopang proses pembinaan, seleksi, dan evaluasi prestasi secara objektif, transparan, dan terukur dari tingkat daerah hingga nasional.

“Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapai. Pembinaan atlet harus semakin berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetisi harus semakin berkualitas. Profesionalisme pelatih dan wasit-juri harus diperkuat,” kata Gus Nabil.

Dia menambahkan, industri pencak silat perlu dibangun secara serius untuk menciptakan kompetisi berkelanjutan serta prospek ekonomi yang lebih baik bagi atlet, pelatih, perguruan, penyelenggara pertandingan, dan pelaku usaha terkait.

Menurut Gus Nabil, upaya meningkatkan profesionalisme tidak boleh menghilangkan nilai-nilai dasar pencak silat. Modernisasi harus tetap berpijak pada identitas kebudayaan dan karakter luhur yang diwariskan para pendahulu.

“Kita mewarisi pencak silat dari para leluhur bukan hanya sebagai teknik bela diri, tetapi sebagai jalan pembentukan manusia,” tuturnya.

Ia mengatakan pencak silat mengandung keberanian tanpa kesombongan, kekuatan yang dikendalikan oleh akhlak, dan persaudaraan yang melampaui perbedaan perguruan maupun daerah.

Karena itu, tanggung jawab PB IPSI tidak hanya berkaitan dengan pertandingan dan perolehan medali. Pencak silat juga harus berperan dalam pembentukan karakter generasi muda, penguatan kebudayaan, dan diplomasi Indonesia.

Modal sosial Pagar Nusa

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Gus Nabil menyatakan siap mengoptimalkan potensi sekitar tiga juta kader yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendukung pelaksanaan program PB IPSI.

Jaringan tersebut dapat memberikan kontribusi dalam pembinaan atlet, peningkatan kompetensi pelatih, pendidikan karakter generasi muda, penguatan organisasi, dan perluasan partisipasi masyarakat dalam pencak silat.

“Pagar Nusa dengan sekitar tiga juta kader siap mengambil bagian dan bergotong royong menyukseskan agenda PB IPSI,” ujarnya.

Gus Nabil memastikan dukungan itu tidak diarahkan untuk kepentingan satu perguruan. Potensi Pagar Nusa akan ditempatkan sebagai bagian dari kerja kolektif seluruh keluarga besar pencak silat Indonesia.

“Ini bukan agenda satu perguruan, melainkan ikhtiar bersama seluruh keluarga besar pencak silat untuk membawa Indonesia semakin berprestasi dan disegani dunia,” tegasnya.

Menurut dia, keberagaman perguruan merupakan modal sosial dan kebudayaan yang penting. Namun, setiap perguruan harus mampu menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.

“Kita boleh berasal dari perguruan yang berbeda, memakai warna yang berbeda, dan tumbuh dari tradisi yang berbeda. Namun, ketika Merah Putih dikibarkan, kita adalah satu: pencak silat Indonesia,” katanya.

 Target Olimpiade

Ketua Umum PB IPSI Sugiono menempatkan perjuangan membawa pencak silat menuju Olimpiade sebagai salah satu target besar kepengurusan periode 2026–2030.

“Pencak silat bukan sekadar warisan budaya, melainkan identitas dan instrumen diplomasi bangsa. Target utama kita jelas: membawa pencak silat menembus panggung Olimpiade dan menjadikannya bagian dari karakter generasi muda Indonesia melalui pendidikan formal,” ujar Sugiono.

Gus Nabil menyatakan dukungannya terhadap target tersebut. Namun, ia mengingatkan perjuangan menuju Olimpiade membutuhkan strategi jangka panjang, konsistensi, dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

“Ini bukan pekerjaan satu ketua umum, satu kepengurusan, atau satu periode. Ini adalah kerja panjang seluruh insan pencak silat Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, jabatan sebagai Wakil Ketua Umum PB IPSI merupakan sarana untuk bekerja dan memberikan kontribusi bagi pencak silat Indonesia.

“Yang jauh lebih penting adalah apa yang dapat kita wariskan setelah masa pengabdian ini selesai,” ujar Gus Nabil.

Pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI Masa Bakti 2026–2030 dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.

Acara itu turut dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, serta perwakilan Komite Olimpiade Indonesia.

Hadir pula para pimpinan dan tokoh senior perguruan historis IPSI, ketua umum perguruan besar pencak silat, serta jajaran pengurus provinsi IPSI dari 38 provinsi. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |