Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.(Anadolu)
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Iran dan Irak yang mengikuti rangkaian penghormatan serta prosesi pemakaman mendiang Ayatollah Ali Khamenei pada pekan lalu. Ucapan tersebut disampaikan melalui kakak tertuanya, Hojjatoleslam Seyyed Mostafa Khamenei dalam acara peringatan yang digelar di Teheran pada Selasa (14/7).
Dalam pidatonya, Hojjatoleslam Khamenei menyampaikan belasungkawa kepada umat Islam, rakyat Iran, serta Imam Mahdi (AJ) atas wafatnya sang ayah. Ia menggambarkan kehilangan tersebut sebagai musibah besar yang membutuhkan keteguhan dan kesabaran dari seluruh masyarakat.
Mengutip salah satu ayat Al-Qur'an, ia mengingatkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi cobaan. "Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," katanya dilansir Anadolu, Rabu (15/7).
Menurut Hojjatoleslam Khamenei, kesabaran bukan berarti menyerah terhadap keadaan, melainkan tetap teguh menjalani perjuangan di jalan yang lurus hingga tujuan yang diyakini dapat tercapai.
Ia juga menegaskan bahwa sikap sabar tidak berarti mengabaikan upaya menuntut pertanggungjawaban pihak yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi tersebut. "Sama sekali tidak bertentangan dengan pembalasan maupun menghadapi para pelaku kejahatan di dunia yang terlibat dalam kejahatan besar tersebut," tambahnya.
Acara peringatan digelar di Masjid Mosalla, Teheran, dan dihadiri ribuan warga yang datang untuk mengenang Ayatollah Ali Khamenei. Meski disebut memimpin jalannya upacara, Mojtaba Khamenei kembali tidak tampil secara langsung di hadapan publik.
Sejak ditetapkan sebagai penerus ayahnya, ia belum pernah memberikan penampilan terbuka dan seluruh pesan resminya disampaikan melalui perwakilan maupun pernyataan tertulis.
Upacara tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian jajaran petinggi militer, para duta besar, diplomat asing, serta tiga putra lain Ayatollah Ali Khamenei.
Peringatan itu diselenggarakan lima hari setelah prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Kompleks Makam Imam Reza, Kota Mashhad, yang merupakan kampung halamannya di timur laut Iran.
Sebelum dimakamkan, jenazah Ali Khamenei terlebih dahulu dibawa dalam rangkaian penghormatan publik yang berlangsung selama lima hari di Teheran, Qom, dan sejumlah wilayah di Irak.
Jutaan pelayat disebut mengikuti prosesi tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ulama yang selama puluhan tahun menjadi salah satu marja taklid atau rujukan keagamaan bagi umat Islam.
Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama empat anggota keluarganya serta sejumlah pejabat tinggi militer Iran dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan itu disebut menyasar kantor pemimpin tertinggi Iran di pusat Kota Teheran.
Kematian Ali Khamenei memicu kecaman dari berbagai pihak di dalam maupun luar negeri. Peristiwa tersebut juga menjadi pemicu operasi militer balasan Iran terhadap sejumlah target Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah, yang kemudian memperluas konflik hingga melibatkan beberapa negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Ayatollah Ali Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak Juni 1989, menggantikan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ruhollah Khomeini, setelah wafatnya tokoh revolusi tersebut. Selama lebih dari tiga dekade, Ali Khamenei memegang peran sentral dalam menentukan arah politik, keamanan, dan kebijakan strategis Iran. (Fer/P-3)

















































