Rapat persiapan Hari Kebaya Nasional ke-3.(DOK Perempuan Indonesia Maju. )
UPAYA menjaga keberlangsungan budaya nasional kembali diperkuat oleh berbagai organisasi perempuan dan komunitas budaya melalui persiapan Hari Kebaya Nasional ke-3. Momentum tahunan tersebut tidak hanya menjadi perayaan penggunaan kebaya, tetapi juga menjadi gerakan bersama untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang melekat pada kebaya sebagai warisan bangsa. Rapat persiapan ini dipimpin oleh Lana T. Koentjoro, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM).
Menjelang pelaksanaan Hari Kebaya Nasional ke-3, sejumlah organisasi perempuan dan komunitas budaya mulai mematangkan berbagai persiapan melalui Rapat Persiapan Hari Kebaya Nasional ke-3 Bersama Organisasi dan Komunitas Perempuan yang digelar pada Selasa, 14 Juli 2026.
Melalui kegiatan ini, para penggerak budaya berharap kebaya tidak hanya dipandang sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai simbol perjalanan panjang perempuan Indonesia, nilai gotong royong, serta kekayaan budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.
IDENTITAS BANGSA
Dalam kesempatan tersebut, Lana mengajak seluruh organisasi perempuan dan komunitas budaya untuk memperkuat semangat bersama dalam menjaga kebaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Menurut Lana, keberhasilan pelestarian budaya tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, khususnya perempuan Indonesia yang memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan nilai-nilai budaya.
“Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan kita untuk terus menjaga dan melestarikan budaya, khususnya kebaya. Ini bukan hanya kegiatan satu organisasi, tetapi gerakan bersama seluruh perempuan Indonesia,” ujar Lana.
Rapat persiapan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh perempuan Indonesia, di antaranya Lana T Koentjoro selaku Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Dewi Motik selaku Ketua Umum Kowani periode 2009–2014, Sinta Umar selaku Ketua Umum Komunitas Pertiwi, Miranti Sirad Ginanjar selaku Ketua I Komunitas Pertiwi, Pia Megananda selaku Ketua Umum KB Wirawati Catur Panca, Prof Dr Ana Mariana selaku Ibu Tenun Nasional, jajaran Dewan Pimpinan Kowani serta berbagai organisasi di bawah Federasi KOWANI Pimpinan Ketua Umum Nannie Hadi Tjahjanto periode 2024-2029.
Dalam pertemuan tersebut, Lana menjelaskan bahwa gerakan kebaya yang berkembang saat ini merupakan hasil perjalanan panjang berbagai organisasi perempuan dan komunitas budaya yang sejak awal berkomitmen menjaga keberadaan kebaya sebagai simbol budaya nasional.
Perjuangan panjang Tim Nasional Kebaya Indonesia dalam melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa membuahkan hasil bersejarah.
Di bawah kepemimpinan Lana T Koentjoro, tim berhasil mewujudkan dua capaian penting, yakni penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 yang diperingati setiap 24 Juli, serta pengakuan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO pada 4 Desember 2024.
Pengakuan tersebut ditetapkan dalam Sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Asunción, Paraguay, melalui pengajuan bersama Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
MAKNA KEBAYA
Kebaya memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pakaian. Kebaya merepresentasikan nilai budaya, karakter perempuan Indonesia, serta perjalanan sejarah bangsa yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kebaya semakin banyak digunakan oleh anak-anak muda. Ini menjadi kebanggaan kita bersama. Apa yang kita lakukan hari ini menjadi legacy yang akan kita teruskan kepada anak cucu kita,” kata Lana.
PUNCAK HARI KEBAYA NASIONAL
Lana menjelaskan, rangkaian kegiatan Hari Kebaya Nasional ke-3 akan dilaksanakan melalui konsep daring (online) dan luring (offline). Puncak kegiatan luring direncanakan berlangsung di Hall Ballroom Senayan City, Jakarta, pada 24 Juli 2026 mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WIB dengan kapasitas utama sekitar 1.300 peserta.
“Kami mengundang seluruh organisasi yang tergabung dalam Kowani dan komunitas perempuan untuk bersama-sama hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan Hari Kebaya Nasional ini,” ujar Lana.
BATIK HINGGA SANGGUL
Sementara itu, perjuangan Tim Nasional Kebaya Indonesia di bawah kepemimpinan Lana T. Koentjoro berhasil melahirkan dua capaian bersejarah, yaitu penetapan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 serta pengakuan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO pada 4 Desember 2024.
Ia mengungkapkan, dukungan terhadap kegiatan tersebut terus berkembang. Hingga tahap persiapan, sekitar 70-80 organisasi perempuan telah menyatakan keterlibatan, sementara 22 komunitas budaya turut memberikan dukungan.
Selain kebaya, rangkaian Hari Kebaya Nasional Ke-3 juga akan mengangkat berbagai unsur budaya pendukung, seperti batik, wastra nusantara, sanggul, serta aksesori tradisional Indonesia.
Lana juga memberikan apresiasi kepada komunitas Bunda Milenial yang mengembangkan gerakan eco-enzyme sekaligus mengajak masyarakat mengenakan kebaya sebagai bagian dari kampanye budaya dan lingkungan.
“Saya memberikan apresiasi kepada Bu Siska dari Bunda Milenial yang menggerakkan eco-enzyme sambil berkebaya. Ini menunjukkan bahwa budaya dapat berjalan bersama dengan gerakan positif lainnya,” tuturnya.
Lana berharap Hari Kebaya Nasional ke-3 dapat menjadi momentum memperkuat persatuan perempuan Indonesia sekaligus memperkenalkan kebaya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. (H-1)

















































