Ilustrasi(Magnific)
TRAUMA sering kali dianggap hanya meninggalkan luka emosional. Padahal, pengalaman traumatis juga dapat memengaruhi cara tubuh bekerja dalam jangka panjang. Meski seseorang merasa sudah melupakan peristiwa yang dialaminya, tubuh tetap dapat memberikan respons seolah ancaman itu masih ada.
Kondisi ini kerap disebut sebagai body memory atau "ingatan tubuh". Istilah tersebut bukan berarti trauma benar-benar tersimpan di otot atau organ tubuh, melainkan menggambarkan bagaimana sistem saraf dan otak terus mempertahankan pola respons terhadap pengalaman yang pernah dianggap berbahaya.
Menurut penjelasan yang dirangkum dari Charlie Health, trauma yang tidak diproses dengan baik dapat membuat sistem saraf berada dalam kondisi siaga tinggi (high alert). Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah bereaksi terhadap situasi yang mengingatkan pada pengalaman traumatis, meskipun ancaman sebenarnya sudah tidak ada.
Trauma Diproses oleh Sistem Saraf
Ketika seseorang mengalami peristiwa yang sangat menegangkan, otak akan mengaktifkan sistem pertahanan untuk membantu bertahan hidup. Respons ini dikenal sebagai fight, flight, atau freeze, yakni melawan, melarikan diri, atau membeku.
Pada saat yang sama, sistem saraf simpatik melepaskan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin, sehingga detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh bersiap menghadapi bahaya.
Dalam kondisi normal, setelah ancaman berlalu, sistem saraf parasimpatik akan mengembalikan tubuh ke keadaan tenang. Namun, pada sebagian orang yang mengalami trauma berat, proses ini tidak selalu berjalan dengan baik. Sistem saraf tetap berada dalam mode waspada sehingga tubuh terus merasakan stres meskipun situasi telah aman.
Karena itu, seseorang bisa saja mengalami respons fisik yang kuat ketika melihat tempat, mendengar suara, mencium aroma, atau merasakan emosi tertentu yang mengingatkannya pada pengalaman traumatis.
Gejala Trauma Bisa Muncul pada Pikiran dan Tubuh
Dampak trauma tidak hanya terlihat dari kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik.
Beberapa gejala yang umum muncul antara lain sulit berkonsentrasi, gangguan daya ingat, sulit tidur, mimpi buruk, mudah merasa kewalahan, depresi, kecemasan, hingga otot yang terus terasa tegang.
Selain itu, trauma yang belum ditangani juga dapat memperburuk penyakit yang sudah dimiliki sebelumnya, seperti migrain atau nyeri kronis. Sebagian orang bahkan menjadi lebih mudah terserang flu atau infeksi karena stres berkepanjangan dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Charlie Health juga menjelaskan bahwa pengalaman traumatis dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan atau distress tolerance. Akibatnya, situasi yang sebenarnya masih dapat diatasi justru terasa sangat berat dan memicu reaksi emosional yang berlebihan.
Pemicu Trauma Berbeda pada Setiap Orang
Respons terhadap trauma tidak selalu sama. Tiga orang yang mengalami peristiwa serupa dapat menunjukkan reaksi yang berbeda, tergantung pada riwayat kesehatan, pengalaman hidup, serta cara masing-masing memproses kejadian tersebut.
Gejala juga bisa muncul ketika seseorang bertemu dengan pemicu (trigger) tertentu. Pemicu itu dapat berupa tempat, benda, suara, aroma, situasi, bahkan emosi yang menyerupai pengalaman traumatis di masa lalu.
Menariknya, seseorang tidak harus mengingat secara sadar peristiwa tersebut. Tubuh tetap dapat memberikan respons, misalnya jantung berdebar, tubuh menegang, berkeringat, atau muncul rasa cemas secara tiba-tiba.
Dalam jangka panjang, trauma yang tidak ditangani juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, hingga berbagai penyakit kronis. Stres berkepanjangan dapat membuat kadar hormon kortisol terus meningkat, yang berhubungan dengan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, dan gangguan kesehatan lainnya.
Trauma Dapat Diatasi dengan Penanganan yang Tepat
Kabar baiknya, trauma bukanlah kondisi yang harus dialami seumur hidup. Berbagai pendekatan terapi telah terbukti membantu seseorang memproses pengalaman traumatis sehingga respons tubuh terhadap stres dapat kembali lebih seimbang.
Salah satu terapi yang banyak digunakan adalah Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR), yang efektif membantu mengurangi gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD). Selain itu, Cognitive Processing Therapy (CPT) dan terapi bicara juga membantu seseorang mengenali pola pikir yang muncul setelah trauma sekaligus membangun cara yang lebih sehat dalam menghadapi pengalaman tersebut.
Pendekatan lain, seperti Somatic Experiencing (SE), berfokus pada hubungan antara tubuh dan pikiran untuk membantu mengurangi ketegangan yang muncul akibat trauma.
Tak hanya terapi, penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas fisik, termasuk yoga yang dipadukan dengan terapi psikologis atau trauma-informed yoga, dapat membantu memperbaiki regulasi sistem saraf sehingga proses pemulihan menjadi lebih optimal.
Pendekatan Berbasis Trauma Makin Banyak Diterapkan
Seiring berkembangnya penelitian, layanan kesehatan kini semakin banyak menerapkan pendekatan trauma-informed care. Pendekatan ini menempatkan rasa aman, kepercayaan, empati, dan pemberdayaan pasien sebagai bagian penting dalam proses penyembuhan.
Dengan memahami bahwa trauma dapat memengaruhi pikiran sekaligus tubuh, tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan penanganan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini dinilai dapat membantu meningkatkan hasil pengobatan sekaligus mendorong pemulihan jangka panjang bagi penyintas trauma. (Charlie Health/Z-2)

















































