acara media gathering bertajuk Lebih Paham Melasma, Lebih Tepat Penanganannya, Rabu (15/7), di kawasan Jakarta Selatan(Dok.MI )
MELASMA merupakan kondisi kulit yang ditandai dengan munculnya bercak kecokelatan atau keabuan, biasanya muncul di area wajah seperti pipi, dahi, hidung, dan atas bibir. Masih banyak masyarakat yang menganggap semua flek di wajah adalah hal yang sama sehingga penanganan melasma sering kali kurang tepat.
Masyarakat Indonesia termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami melasma. Selain berada di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi sepanjang tahun, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV–V yang secara alami lebih mudah mengalami hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari. Selain sinar UV, faktor lain seperti perubahan hormon, genetik, paparan visible light, serta proses inflamasi pada kulit juga berperan dalam munculnya melasma.
Kondisi tersebut pernah dialami oleh Margaret Vivi, penyintas melasma.
"Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya baru memahami bahwa melasma memang membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten," demikian keterangan yang diterima Media Indonesia, Rabu (15/7).
Dalam acara media gathering bertajuk Lebih Paham Melasma, Lebih Tepat Penanganannya, Rabu (15/7), di kawasan Jakarta Selatan, Dokter Spesialis Kulit dr. Stanley Setiawan mengatakan langkah terpenting dalam menangani melasma adalah memastikan diagnosis yang tepat sebelum menentukan terapi.
"Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Di sisi lain, pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit. Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan Skin Booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid," jelasnya.
Salah satu pendekatan mutakhir untuk perbaikan kualitas kulit secara menyeluruh sekaligus memudarkan noda gelap adalah melalui tindakan redermalisasi dengan Xela Rederm, Skin Booster yang mengombinasikan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid untuk membantu memudarkan hiperpigmentasi sekaligus memperbaiki hidrasi dan kualitas kulit.
Sementara itu, Dokter Estetika dr. Ratna Yuliarviana menjelaskan bahwa keberhasilan terapi melasma memerlukan pendekatan yang komprehensif.
"Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam praktik sehari-hari, saya mengombinasikan redermalisasi menggunakan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factors untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi sel. Terapi ini perlu diimbangi dengan penggunaan sunscreen setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan," ungkapnya.
Ia mengatakan terapi redermalisasi dapat dikombinasikan dengan AQ Serum, yang diformulasikan dengan Growth Factors untuk mendukung regenerasi seluler kulit, membantu mengurangi proses inflamasi, serta mempercepat pemulihan sehingga tampilan hiperpigmentasi dapat berangsur membaik.
Selain tindakan di klinik, penggunaan tabir surya setiap hari dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi juga menjadi bagian penting dalam membantu melindungi kulit serta mengurangi risiko kekambuhan melasma. (H-4)

















































