Para pemain timnas Argentina membawa spanduk bertuliskan Las Malvinas son Argentina, yang berarti Malvinas adalah milik Argentina usai mengalahkan timnas Inggris di laga semifinal Piala Dunia 2026.(AFP/Thomas COEX)
KEBERHASILAN timnas Argentina melangkah ke final Piala Dunia setelah menundukkan timnas Inggris 2-1 di Atlanta menyisakan residu kontroversi yang tajam. Di balik euforia kemenangan dramatis tersebut, muncul sebuah kontradiksi mencolok antara narasi profesionalisme yang dibangun pelatih Lionel Scaloni dengan aksi provokatif para pemainnya di atas lapangan hijau.
Sebelum laga dimulai, Scaloni secara konsisten berupaya menjaga jarak antara sepak bola dan sejarah kelam konflik bersenjata kedua negara. Sang pelatih menekankan bahwa pertandingan ini hanyalah sebuah laga olahraga besar, bukan ajang balas dendam sejarah. Namun, begitu peluit panjang berbunyi, upaya Scaloni untuk menjaga "kemurnian" lapangan hijau seolah runtuh oleh aksi kolektif anak asuhnya.
Spanduk Malvinas dan Pelanggaran Kode Etik
Kontradiksi paling nyata terlihat saat para pemain Argentina merayakan kemenangan dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" (Malvinas adalah milik Argentina). Aksi ini secara langsung menyeret sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland, wilayah seberang laut Inggris yang pernah memicu perang pada 1982, ke tengah panggung sepak bola dunia.
Langkah para pemain ini berbanding terbalik dengan sikap dingin dan taktis yang ditunjukkan Scaloni di pinggir lapangan. Sementara Scaloni fokus pada strategi untuk meredam taktik Thomas Tuchel, para pemain justru memilih untuk menyuarakan sentimen nasionalisme yang sangat sensitif. Aksi ini bukan sekadar perayaan spontan, melainkan sebuah pernyataan politik yang jelas-jelas dilarang dalam regulasi FIFA.
Tekanan Politik dari Luar Lapangan
Situasi semakin rumit karena aksi para pemain di lapangan seolah mendapat legitimasi dari otoritas politik di Buenos Aires. Wakil Presiden Argentina, Victoria Villarruel, justru memperkeruh suasana dengan unggahan di media sosial yang menyebut laga tersebut sebagai upaya "menempatkan penjajah pada tempatnya".
Pernyataan Villarruel ini semakin mempertegas jurang pemisah antara keinginan Scaloni untuk fokus pada teknis sepak bola dengan realitas emosional yang dibawa para pemain dan pendukungnya. Scaloni ingin timnya dikenal karena kualitas permainan, namun aksi membentangkan spanduk tersebut justru membuat Argentina kini terancam sanksi disiplin dari FIFA.
Catatan Sejarah Sanksi:
Pada 2014, FIFA pernah menjatuhkan denda sebesar £20.000 kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) untuk pelanggaran serupa dalam laga persahabatan melawan Slovenia. FIFA secara tegas melarang segala bentuk pesan politik, agama, atau pribadi dalam pertandingan resmi.
Risiko Sanksi di Ambang Final
Kini, Argentina menghadapi ancaman serius menjelang laga final melawan Spanyol. FIFA tengah meninjau laporan pertandingan terkait pelanggaran kode etik dan perilaku tidak pantas tim. Jika sanksi dijatuhkan, hal ini akan menjadi noda bagi perjalanan impresif Albiceleste di turnamen ini.
Kontradiksi ini menunjukkan bahwa bagi para pemain Argentina, mengalahkan Inggris tidak pernah hanya soal mencetak gol lebih banyak. Meskipun Scaloni berupaya keras memisahkan politik dari taktik, bagi para pemain di lapangan, memori tentang Malvinas tetap menjadi bahan bakar emosional yang sulit dipadamkan, bahkan jika itu harus dibayar dengan ancaman sanksi internasional. (bbc/Z-1)


















































