Mahmoud Ahmadinejad.(Al Jazeera)
SUATU bandara internasional di belahan dunia lain menjadi saksi bisu pendaratan tim agen Mossad. Saat mengaktifkan ponsel, mereka disambut kabar mengerikan: ratusan orang tewas di wilayah perbatasan Gaza, sejumlah warga Israel disandera, dan seluruh area dikuasai Hamas. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan keteguhan misi utama mereka: merekrut Mahmoud Ahmadinejad, mantan presiden Iran sekaligus salah satu musuh terbesar Israel, untuk bekerja sama dengan Mossad.
Hubungan yang tak terbayangkan ini sebenarnya mulai terbentuk setahun sebelumnya. Mossad mengumpulkan intelijen yang menunjukkan perubahan mengejutkan pada pandangan Ahmadinejad. Sosok yang dulu dikenal sebagai penyangkal Holocaust dan menyebut Israel sebagai entitas setan, perlahan muncul sebagai kritikus vokal rezim ayatollah setelah meninggalkan jabatan pada 2013.
Ambisi di Tengah Perang
Pejabat Israel menaruh perhatian khusus pada keyakinan Ahmadinejad bahwa Iran tidak akan bertahan di bawah sanksi internasional dan program nuklirnya menjadi beban. Direktur Mossad, David Barnea, secara pribadi mengawasi operasi ini. Pada awal 2026, Ahmadinejad muncul sebagai aset paling berharga Israel dalam rencana penggulingan rezim Teheran yang diberi kode Operasi Puss in Boots.
Rencana ambisius ini mencakup beberapa elemen strategis:
- Operasi pengaruh di dalam wilayah Iran.
- Program mempersenjatai dan melatih pasukan Kurdi di Irak.
- Aktivasi kelompok minoritas untuk mendestabilisasi rezim.
- Rencana Angkatan Udara untuk membangun koridor darat bagi pergerakan milisi.
Catatan Kritis: Meskipun ambisius, rencana ini memicu perpecahan internal yang tajam di militer Israel. Direktur Intelijen Militer, Mayjen Shlomi Binder, dan Penasihat Keamanan Nasional, Tzachi Hanegbi, meragukan keberhasilan operasi ini dan menyebutnya sebagai fantasi liar.
Inspirasi dari Suriah
Keberhasilan pemberontak Suriah menggulingkan Bashar al-Assad pada akhir 2024 menjadi inspirasi bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia mendesak Mossad untuk meniru model tersebut dengan mengerahkan boots on the ground melalui milisi Kurdi. Namun, para ahli keamanan memperingatkan bahwa membandingkan Suriah yang hancur dengan Iran--kekuatan ekonomi berpenduduk 90 juta jiwa--ialah bentuk kehilangan kontak dengan realitas.
Mossad tetap bergerak, memetakan kelompok Kurdi dan melatih sekitar 16.000 pejuang di Irak dengan senjata yang disita dari Hizbullah. Rencananya, pasukan ini akan menyerbu Iran barat di bawah perlindungan serangan udara Israel, merebut kota-kota seperti Kermanshah dan Marivan, lalu memicu pemberontakan massal yang akan menempatkan Ahmadinejad sebagai pemimpin baru.
Veto dari Washington
Pada Februari 2026, Netanyahu membawa rencana ini ke Gedung Putih. Meski Presiden Donald Trump awalnya tampak tertarik, para penasihatnya memberikan reaksi keras. Wakil Presiden JD Vance skeptis, sementara Direktur CIA John Ratcliffe menyebut rencana itu sebagai lelucon.
Trump akhirnya memutuskan untuk tidak memberikan lampu hijau bagi keterlibatan Kurdi. Tanpa dukungan eksplisit Amerika Serikat, milisi Kurdi menolak untuk bergerak. Mereka tidak ingin menjadi sasaran empuk setelah pengalaman pahit dikhianati oleh Washington di masa lalu.
Runtuhnya Kartu Domino
Ketika serangan udara gabungan Israel-AS akhirnya diluncurkan pada Maret 2026, serangan tersebut berhasil melumpuhkan banyak target dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Namun, elemen kunci dari rencana Mossad--invasi Kurdi dan pemberontakan minoritas--sama sekali tidak terjadi.
Upaya terakhir Mossad untuk memicu protes selama festival Chaharshanbe Suri pada April 2026 juga ditolak oleh Intelijen Militer karena dianggap terlalu berisiko dan tidak realistis. Mimpi untuk menempatkan Ahmadinejad di tampuk kekuasaan pun menguap begitu saja.
| Veto Politik AS | Trump melarang keterlibatan Kurdi setelah tekanan dari Turki (Erdogan). |
| Ketidakpastian Milisi | Kurdi menolak bergerak tanpa jaminan perlindungan penuh dari AS. |
| Hubris Kepemimpinan | Netanyahu dan Barnea mengabaikan peringatan intelijen militer tentang risiko kegagalan. |
Epilog: Kegagalan Strategis
Investigasi terhadap lebih dari 30 sumber senior mengungkapkan bahwa Operasi Puss in Boots adalah kegagalan besar Mossad. Mantan Direktur Mossad, Tamir Pardo, menegaskan bahwa rencana perubahan rezim membutuhkan waktu setidaknya satu dekade, bukan beberapa bulan. "Siapa pun yang mengatakan mereka bisa meruntuhkan rezim dalam waktu singkat, mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan," ujarnya.
Kini, Israel harus menghadapi kenyataan bahwa meskipun serangan udara berhasil memberikan kerusakan, rezim Iran mungkin akan tetap bertahan dan bahkan menjadi lebih kuat jika sanksi internasional mulai melonggar. Ambisi Netanyahu untuk mengubah peta politik Timur Tengah melalui operasi rahasia ini berakhir menjadi narasi kemenangan bagi Teheran. (Haaretz/I-2)

















































