Sekretaris Dinas (Sekdis) Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, kasus diare di wilayahnya mengalami peningkatan cukup signifikan lantaran pola hidup bersih dan sehat (PHBS) terabaikan.(MI/Kristiadi)
KASUS penyakit diare di Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan cukup signifikan terjadi sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat 11.115 orang. Peningkatan tersebut, menyebabkan banyak anak, remaja, orangtua terserang penyakit diare dan mereka harus mendapat perawatan di rumah sakit hingga yang lain berangsur sembuh.
Sekretaris Dinas (Sekdis) Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, mengatakan, musim kemarau panjang dan pola makan tidak teratur menyebabkan banyak anak, remaja, orang tua terserang penyakit diare tercatat 11.115 orang.
Kasus tersebut, mengalami peningkat cukup signifikan dan rata-rata mereka bergejala batuk, flu, demam, sakit persendian, gatal, diare dan dehidrasi.
"Berdasarkan laporan yang diterima Dinas Kesehatan penyakit diare masuk musim kemarau maupun pancaroba awal Januari hingga Juli 2026 tercatat 11.115 orang dan semua pasien mendapat perawatan berada di rumah sakit, puskesmas, klinik hingga lainnya berangsur sembuh. Namun, kasus diare disebabkan dari faktor salah makan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terabaikan hingga kondisi cuaca dingin," ujar, Suryaningsih, Jumat (17/7/2026).
Menurut Suryaningsih, penyakit diare akut mengalami peningkatan cukup signifikan dan petugas terus melakukan edukasi pada masyarakat terutama harus menjaga pola hidup sehat dan bersih (PHBS) seperti jangan makan pedas, gorengan, soda dan harus perbanyak minum air putih. Pasien penyakit diare banyak ditemukan di beberapa faskes dan mereka langsung mendapat tindakan medis.
"Pergantian musim sudah terasa terutama siang dan malam hari hingga banyak warga mengalami beragai penyakit batuk, gatal, flu, demam, sakit persendirian. Kejadian ini tidak hanya disebabkan dari faktor cuaca tapi salah makan menjadi memicu, contoh remaja SMA datang ke Puskesmas karena perut mulas, diare hingga petugas setelah melakukan pemeriksaan remaja tersebut habis makan seblak," katanya.
Menurutnya, penyakit diare di wilayahnya ada peningkatan cukup signifikan berdasar laporan bulan Januari tercatat 1.476 kasus, Februari 1.266 kasus, Maret 1.588 kasus, April 1.862 kasus, Mei 2.489 kasus, Juni 1.842 kasus, belum satu bulan Juli 592 kasus hingga total 11.115 kasus.
Namun, serangan penyakit diare disebabkan karena masyarakat tidak pernah mempedulikan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan rumah.
"Penyakit diare yang telah terjadi lantaran adanya perilaku tidak mengikuti pola hidup bersih dan sehat (PHBS) salah satunya mencuci tangan tidak pernah pakai sabun, masak air tidak masak, sering makan pedes, salah makan. Kami meminta warga selalu meningkatkan kebersihan, musim kemarau perbanyak minum air putih dan perbanyak makan buah-buahan berserat," pungkasnya. (AD)

















































