Selat Hormuz.(Al Jazeera)
KETEGANGAN di Timur Tengah meningkat tajam setelah Iran mengancam akan memblokade jalur perdagangan regional lebih lanjut. Langkah ini diambil sebagai respons atas gelombang serangan udara terbaru yang diluncurkan militer Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah target militer di wilayah tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga AS menghentikan hal yang mereka sebut sebagai tindakan agresi. Selain itu, Teheran memperingatkan bahwa saluran ekspor minyak dan gas regional lain juga berisiko ditutup.
Serangan Udara AS dan Ancaman Trump
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi telah melaksanakan serangan menggunakan drone, pesawat udara, dan angkatan laut ke wilayah Iran pada Rabu (15/7) pagi waktu setempat. Operasi ini merupakan lanjutan dari serangan intensif selama tujuh jam yang dilakukan pada malam sebelumnya.
Presiden Donald Trump menegaskan sikap kerasnya dengan bersumpah akan menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, pada pekan depan jika negara tersebut menolak untuk kembali ke meja perundingan.
"Saya akan menyimpan target energi untuk yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menghantam target energi tersebut," ujar Trump dalam wawancara di program Special Report with Bret Baier yang disiarkan Selasa malam.
Eskalasi retorika ini terjadi setelah Trump menyatakan bahwa ancaman tarif 20% di Selat Hormuz akan digantikan oleh kesepakatan perdagangan dan investasi masif dengan negara-negara Teluk. Di sisi lain, blokade baru AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran diberlakukan sejak Selasa malam yang melarang kapal transit dari dan menuju wilayah pesisir Iran.
Respons Militer Iran
Menanggapi tekanan tersebut, IRGC memperingatkan AS untuk bersiap menghadapi penutupan rute ekspor minyak dan gas lain yang melayani kepentingan Amerika dan sekutunya. Meski demikian, pihak Iran tidak merinci rute mana saja yang akan terdampak.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa tentara nasional mereka melancarkan serangan balasan terpisah terhadap target-target AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut mengonfirmasi telah mencegat sejumlah drone dan rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Militer Kuwait melaporkan pencegatan drone serang pada Rabu dini hari, sementara Bahrain mengaktifkan sirene serangan udara sebagai langkah antisipasi.
Dampak Kerusakan
Centcom menyatakan bahwa gelombang serangan terbaru dirancang untuk semakin melumpuhkan kemampuan militer yang digunakan pasukan Iran untuk menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz. Serangan pada Selasa malam dilaporkan menghantam puluhan target militer di dekat selat strategis tersebut.
Pihak tentara Iran mengonfirmasi bahwa sedikitnya tujuh personel militer mereka tewas akibat serangan AS di suatu pangkalan di kota Bampur, bagian tenggara Iran. Hingga saat ini, situasi di kawasan masih sangat fluktuatif dengan kedua belah pihak yang terus meningkatkan kesiagaan militer. (BBC/I-2)

















































