Inflasi AS masih Menjadi Ancaman akibat Harga Energi kembali Melonjak

1 week ago 12
Inflasi AS masih Menjadi Ancaman akibat Harga Energi kembali Melonjak Ilustrasi.(Magnific)

INFLASI di Amerika Serikat diprediksi masih akan menjadi tantangan besar bagi perekonomian, meskipun laju kenaikan harga diperkirakan mengalami perlambatan pada Juni. Biro Statistik Tenaga Kerja AS dijadwalkan akan merilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan lalu pada Selasa (14/7) pagi waktu setempat.

Banyak ekonom memproyeksikan ada penurunan pada angka inflasi utama (headline) yang didorong oleh penurunan harga energi. Berdasarkan survei Dow Jones, tingkat inflasi diperkirakan turun 0,2% secara bulanan atau menjadi 3,8% dibandingkan tahun lalu. Namun, para ahli memperingatkan bahwa masalah ini jauh dari selesai, terutama jika harga energi kembali melonjak.

Gejolak Harga Energi dan Minyak Dunia

Setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MOU) pada pertengahan Juni, harga minyak sempat merosot dari kisaran US$90-an ke sekitar US$70 per barel. Namun, tren penurunan tersebut mulai berbalik. Pada Senin, patokan minyak mentah AS dan Brent diperdagangkan jauh lebih tinggi dari level terendah barunya, dengan Brent menyentuh angka US$80 per barel.

Ahli strategi dari Société Générale mencatat bahwa ekspektasi inflasi menghadapi tekanan baru seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, pusat penyimpanan minyak kritis terkuras ke level terendah dalam beberapa dekade demi menekan harga. Kebutuhan untuk mengisi kembali cadangan ini dengan ratusan juta barel minyak berpotensi memicu kenaikan harga kembali di masa depan.

Di tingkat konsumen, harga bensin yang sempat turun tajam kini mulai tertahan di angka US$3,79 per galon dan naik sekitar 8 sen sejak Senin lalu. Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan upah yang melambat. Pendapatan per jam rata-rata pada Juni hanya naik 3,5%, jauh di bawah angka inflasi Mei sebesar 4,2%.

Fenomena Price Stickiness dan Dampak AI

Ekonom dari Deutsche Bank memperingatkan ada fenomena price stickiness atau kekakuan harga saat tren menurun. Mereka memperkirakan penurunan harga tiket pesawat dan layanan pengiriman akan sangat terbatas dalam laporan terbaru nanti. Selain itu, imbal hasil obligasi (bond yields) tenor 10 tahun kembali naik ke level 4,57%, yang berdampak langsung pada suku bunga pinjaman konsumen.

Faktor baru yang mendorong inflasi adalah ekspansi masif sistem kecerdasan buatan (AI) dan pusat data secara global. Raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, Google, dan Meta sedang berlomba membeli komponen memori, yang menyebabkan lonjakan harga pada perangkat keras kunci.

Apple bahkan menaikkan harga banyak produk unggulannya bulan lalu. "Kami belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebanyak ini dalam waktu sesingkat ini," ungkap pihak Apple dalam suatu pernyataan.

Analis teknologi Dan Ives menyebut situasi ini sebagai badai sekali dalam 100 tahun yang menguntungkan produsen chip memori. Namun, ini membebani konsumen luas, termasuk industri konsol gim seperti Xbox dan PlayStation.

Sinyal Kebijakan The Fed

Inflasi inti--yang mengecualikan kategori makanan dan energi yang volatil--diperkirakan hanya turun tipis menjadi 2,8% dari 2,9% pada Mei. Angka yang tetap tinggi ini memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan Federal Reserve.

Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menyatakan pada Senin bahwa jika pembacaan inflasi inti tetap panas minggu ini, The Fed perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Sementara itu, Ketua Kevin Warsh dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan anggota parlemen pada Selasa dan Rabu, menjelang keputusan suku bunga Fed berikutnya pada 29 Juli mendatang. (NBC/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |