Ilustrasi gempa yang terjadi di tanah air.(Dok. BMKG )
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia akan selalu menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami. Hal ini disebabkan posisi geografis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia serta memiliki ratusan sumber gempa aktif yang tersebar di berbagai wilayah.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengungkapkan bahwa aktivitas kegempaan di kawasan Pasifik tergolong tinggi dalam lima tahun terakhir. Tercatat ada sekitar 54 kejadian gempa dengan magnitudo di atas 7 pada kedalaman kurang dari 60 kilometer yang tersebar dari Indonesia hingga Amerika Selatan.
Khusus di Indonesia, BMKG mencatat lonjakan aktivitas kegempaan yang signifikan. Sepanjang tahun 2025, terdapat sekitar 43 ribu kejadian gempa. "Gempa dapat terjadi kapan saja. Kita mengetahui sumbernya, tetapi sampai saat ini belum dapat diprediksi kapan akan terjadi," ujar Wijayanto dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (15/7).
Saat ini, Indonesia memiliki dua sumber utama gempa, yakni 14 segmen megathrust dan lebih dari 400 segmen sesar aktif. Secara spesifik, terdapat 82 sesar aktif di Pulau Jawa dan 77 sesar aktif di Sulawesi. Kondisi ini menjadikan hampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali sebagian Kalimantan dan Papua bagian selatan, memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Wijayanto menekankan bahwa korban jiwa biasanya bukan disebabkan oleh guncangan gempa, melainkan dampak ikutan seperti bangunan runtuh, tsunami, atau likuefaksi. Sebagai contoh, simulasi BMKG di Selat Sunda menunjukkan potensi tsunami setinggi lebih dari tiga meter yang bisa mencapai pesisir Pandeglang hanya dalam waktu 8-10 menit setelah gempa.
Guna memperkuat mitigasi, BMKG telah mempercepat sistem peringatan dini tsunami menjadi kurang dari tiga menit sejak 2023. Informasi tersebut disebarkan melalui berbagai kanal seperti SMS, aplikasi seluler, hingga Warning Receiver System yang terhubung ke pemerintah daerah.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG. "Potensi gempa dan tsunami akan selalu ada. Karena itu, upaya mitigasi harus terus disiapkan dan masyarakat harus mendapatkan informasi resmi," pungkas Wijayanto. (Z-10)

















































