Ilustrasi(Doc WIRED)
SATURNUS kembali menunjukkan fenomena atmosfer yang membuat ilmuwan penasaran. Teleskop Luar Angkasa Hubble menemukan pola berbentuk 10 sisi atau decagon yang mengelilingi kutub selatan planet bercincin tersebut.
Menariknya, setiap sisi pola ini memiliki panjang sekitar 16.800 kilometer, lebih besar daripada diameter Bumi yang sekitar 12.700 kilometer.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya Saturnus dikenal memiliki pola atmosfer berbentuk hexagon di kutub utaranya.
Kini, para astronom menemukan pola geometris berbeda di wilayah selatan yang tampaknya baru terbentuk dan masih berkembang.
Terlihat dalam Pengamatan Hubble
Decagon Saturnus diketahui melalui pengamatan Hubble terhadap planet tersebut. Para peneliti dapat melacak kemunculan pola ini hingga gambar yang diambil pada 2023.
Pengamatan berikutnya pada 2025 menunjukkan 10 sudut decagon semakin jelas, mengindikasikan bahwa struktur tersebut terus mengalami perubahan. Penelitian mengenai temuan ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Science Advances.
Dilansir dari Space.com, decagon memiliki diameter sekitar 167.820 kilometer. Ukuran tersebut membuat keseluruhan pola atmosfernya berkali-kali lebih besar daripada Bumi.
Namun, fenomena ini bukanlah sebuah objek padat atau bangunan raksasa yang mengambang di atmosfer.
Decagon merupakan pola awan dan gelombang atmosfer di sekitar kutub selatan Saturnus.
Pola tersebut berkaitan dengan jet stream, yaitu aliran angin atmosfer berkecepatan sangat tinggi.
Anginnya Bergerak Ratusan Kilometer per Jam
Di sekitar decagon terdapat jet stream dengan kecepatan mencapai sekitar 116 meter per detik atau 418 kilometer per jam.
Kecepatan tersebut bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan batas angin badai kategori 5 di Bumi.
Meski dikelilingi angin ekstrem, pola decagon justru bergerak jauh lebih lambat, sekitar 2,5 meter per detik atau kurang dari 10 kilometer per jam.
Perbedaan kecepatan ini menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian para peneliti.
Mengapa Bentuknya Bisa Teratur?
Para ilmuwan menduga pola tersebut terbentuk akibat gelombang atmosfer yang terperangkap oleh jet stream.
Rotasi Saturnus yang sangat cepat serta perubahan kecepatan angin dapat membantu membentuk gelombang menjadi pola geometris.
Namun, mekanisme pastinya masih belum diketahui. Ilmuwan belum dapat memastikan apa yang memicu terbentuknya decagon, seberapa dalam struktur tersebut menjangkau atmosfer, dan berapa lama pola itu akan bertahan.
Kemunculan decagon juga menarik karena wilayah kutub selatan Saturnus sebelumnya tidak mudah diamati dari Bumi akibat kemiringan planet tersebut.
Para peneliti menduga struktur ini kemungkinan terbentuk antara 2017 hingga 2023, tetapi masih membutuhkan pengamatan lebih lanjut untuk memastikan sejarahnya.
Para astronom kini berencana terus memantau perubahan decagon menggunakan Hubble dan James Webb Space Telescope.
Pengamatan tersebut diharapkan dapat membantu mengungkap bagaimana atmosfer planet raksasa seperti Saturnus mampu menghasilkan pola geometris raksasa yang terlihat begitu teratur.
Sumber: Space.com, WIRED













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



