Harapan Baru Kanker Perempuan: Terapi Presisi dan Personalized Medicine

1 week ago 8
 Terapi Presisi dan Personalized Medicine Ilustrasi(magnific)

KANKER tetap menjadi tantangan kesehatan global yang signifikan bagi kaum perempuan. Berdasarkan data terbaru, jenis kanker seperti payudara, serviks, ovarium, dan endometrium mendominasi kasus yang ditemukan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan beban penyakit ini akan terus meningkat. Berikut adalah gambaran statistik kanker pada perempuan secara global dan nasional:

Wilayah/Kategori Jenis Kanker Estimasi Kasus Baru
Global (WHO 2024) Kanker Payudara 2,4 Juta Kasus
Kanker Serviks 604 Ribu Kasus
Indonesia (GLOBOCAN 2022) Kanker Payudara 66.271 Kasus
Kanker Serviks 36.964 Kasus
Kanker Ovarium 15.130 Kasus

Menanggapi situasi ini, Dr. See Hui Ti, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC) Singapura, mengungkapkan bahwa pendekatan medis telah bergeser secara fundamental. Dalam diskusi media di Jakarta, Kamis (16/7/2026), ia menekankan pentingnya precision medicine atau terapi presisi.

MI/HO--Dr. See Hui Ti, Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre, Singapura.

"Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis berbeda, sehingga terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien," ujar Dr. See.

Pergeseran Tren dan Faktor Gaya Hidup

Dr. See mencatat adanya perubahan pola kanker dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kanker serviks sangat dominan, kini kanker payudara menjadi yang paling banyak didiagnosis. Selain itu, kasus kanker endometrium (rahim) diprediksi akan meningkat tajam akibat perubahan gaya hidup modern.

Beberapa faktor risiko yang disoroti meliputi:

  • Kurangnya aktivitas fisik.
  • Meningkatnya angka obesitas.
  • Pola makan tinggi gula.

Ia menegaskan bahwa menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan alkohol tetap menjadi fondasi utama dalam pencegahan kanker.

Era Baru: Penanganan Kanker yang Personal

Kemajuan dalam pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler kini memungkinkan dokter mengidentifikasi subtipe kanker secara spesifik. Sebagai contoh, pada kanker payudara, dokter kini dapat membedakan antara hormone receptor-positive, HER2-positive, hingga triple-negative breast cancer.

Dengan identifikasi ini, pasien tidak lagi menerima pengobatan one-size-fits-all, melainkan kombinasi terapi yang dirancang khusus, seperti:

  • Terapi hormonal dan terapi target (targeted therapy).
  • Terapi anti-HER2.
  • Imunoterapi.
  • Pemanfaatan AI untuk meningkatkan akurasi radiologi (sebagai pendukung keputusan klinis dokter).

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan angka harapan hidup, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien. Bahkan, teknik operasi modern kini memungkinkan pasien muda untuk tetap mempertahankan fungsi reproduksi mereka.

Deteksi Dini dan Strategi 90-70-90

Meski teknologi pengobatan berkembang pesat, Dr. See mengingatkan bahwa deteksi dini adalah kunci utama kesembuhan. Khusus untuk kanker serviks, ia mendukung penuh strategi global WHO "90-70-90" untuk eliminasi penyakit tersebut:

  • 90% anak perempuan divaksinasi HPV sebelum usia 15 tahun.
  • 70% perempuan menjalani skrining pada usia 35 dan 45 tahun.
  • 90% perempuan yang terdiagnosis mendapatkan penanganan medis yang tepat.

"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh pengobatan efektif sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik," pungkasnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan terapi juga sangat bergantung pada dukungan keluarga, kesehatan mental, dan komunikasi yang baik antara dokter dan pasien. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |