Menggaruk eksim justru memperburuk peradangan dan risiko infeksi.(Dok. Magnific)
KEBIASAAN menggaruk kulit saat eksim terasa gatal ternyata dapat memperburuk kondisi kulit. Meski memberikan rasa lega sesaat, gesekan kuku berpotensi merusak permukaan kulit, memperparah peradangan, hingga meningkatkan risiko munculnya luka dan infeksi.
Rasa gatal memang menjadi salah satu keluhan yang kerap mengganggu penderita eksim. Kondisi tersebut bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi dan kualitas tidur apabila muncul berulang.
Senior Brand Manager PT Galderma Indonesia Firdha Wanda mengatakan, respons spontan berupa menggaruk justru dapat membuat siklus gatal terus berulang.
“Ketika kulit terasa gatal, respons pertama yang sering dilakukan adalah menggaruk. Padahal, pada kulit eksim, garukan justru dapat memperburuk kondisi kulit dan membuat siklus gatal berlanjut. Karena itu, pendekatannya perlu diarahkan untuk menenangkan kulit sekaligus menjaga kelembapannya,” ujar Firdha.
Saat rasa gatal muncul, menggaruk dapat diganti dengan menekan atau menepuk perlahan area yang terasa gatal. Kompres menggunakan kain bersih dan sejuk selama beberapa menit juga dapat membantu memberikan rasa nyaman.
Namun, es sebaiknya tidak ditempelkan langsung pada permukaan kulit karena suhu yang terlalu dingin justru dapat memicu iritasi.
Apabila kulit terasa kering atau tertarik, pelembap yang sebelumnya sudah diketahui dapat ditoleransi kulit dapat digunakan. Berada di ruangan yang lebih sejuk juga dapat membantu apabila panas dan keringat menjadi pemicu munculnya keluhan.
Pelembap Bantu Menjaga Skin Barrier
Pada kulit dengan eksim, lapisan pelindung kulit atau skin barrier dapat mengalami gangguan sehingga air lebih mudah menguap dari permukaan kulit. Kondisi tersebut menyebabkan kulit menjadi lebih kering dan rentan mengalami iritasi.
Karena itu, penggunaan pelembap secara rutin menjadi salah satu bagian penting dalam perawatan kulit dengan eksim, bukan hanya ketika gatal sedang memburuk.
“Pelembap idealnya digunakan secara konsisten, bukan baru ketika rasa gatal sudah berat. Menjaga kelembapan kulit secara rutin dapat membantu mempertahankan kondisi skin barrier, terutama pada kulit yang cenderung sangat kering,” kata Firdha.
Krim dengan tekstur lebih pekat dapat digunakan pada area kulit yang sangat kering. Sementara itu, pelembap bertekstur lebih ringan dapat dipilih untuk area tubuh yang lebih luas, menyesuaikan kebutuhan dan toleransi masing-masing kulit.
Sejumlah Kondisi Bisa Memicu Eksim Kambuh
Selain menjaga kelembapan, penderita eksim perlu mengenali kondisi yang dapat memicu atau memperburuk rasa gatal.
Beberapa di antaranya adalah mandi menggunakan air terlalu panas, durasi mandi terlalu lama, penggunaan sabun keras, scrub, pewangi, hingga produk kosmetik yang menimbulkan rasa menyengat pada kulit.
Pakaian berbahan kasar atau terlalu ketat juga dapat menyebabkan gesekan yang membuat kulit semakin tidak nyaman. Suhu yang terlalu panas, keringat berlebih, udara sangat kering, hingga perubahan suhu secara mendadak juga dapat menjadi faktor pemicu.
Pada sebagian orang, stres dan kurang tidur juga dapat berkaitan dengan munculnya flare atau periode ketika gejala eksim memburuk.
Pemicu eksim dapat berbeda pada setiap individu. Karena itu, mencatat kapan gatal muncul, aktivitas yang dilakukan, kondisi cuaca, jenis pakaian, serta produk yang digunakan dapat membantu mengenali pola kekambuhan.
Saat Eksim Kambuh, Hindari Terlalu Banyak Produk
Ketika eksim sedang mengalami flare up, mencoba banyak produk baru secara bersamaan justru dapat mempersulit proses identifikasi penyebab iritasi.
Rutinitas perawatan kulit sebaiknya dibuat lebih sederhana dengan mempertahankan produk yang sebelumnya sudah dapat ditoleransi, seperti pembersih lembut dan pelembap. Apabila terdapat obat oles dari dokter, penggunaannya perlu mengikuti resep dan petunjuk yang diberikan.
“Ketika terjadi flare, prinsipnya bukan menambahkan sebanyak mungkin produk, tetapi kembali ke rutinitas yang paling sederhana dan sudah diketahui dapat ditoleransi kulit. Setelah kondisi lebih stabil, evaluasi produk dapat dilakukan secara bertahap,” jelas Firdha.
Waspadai Garukan saat Tidur
Gatal eksim pada malam hari juga perlu menjadi perhatian karena seseorang dapat menggaruk kulit tanpa sadar saat sedang tidur.
Untuk mengurangi risikonya, suhu kamar dapat dijaga tetap sejuk dan nyaman. Pakaian tidur dan seprai berbahan lembut lebih disarankan dibandingkan material kasar atau terlalu ketat.
Kuku juga sebaiknya dipotong secara rutin untuk mengurangi risiko kulit terluka ketika tidak sengaja digaruk. Pelembap dapat diaplikasikan sebelum tidur, khususnya pada area kulit yang kering.
Sementara itu, terapi seperti wet-wrap therapy sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran tenaga medis, terutama terkait teknik dan durasi penggunaannya. Metode tersebut tidak dianjurkan dilakukan sembarangan apabila terdapat tanda-tanda infeksi pada kulit.
Kapan Harus ke Dokter?
Perawatan kulit dan perubahan kebiasaan dapat membantu meredakan keluhan ringan, tetapi kondisi tertentu tetap membutuhkan pemeriksaan medis.
Konsultasi dengan dokter disarankan apabila gatal terus mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, ruam semakin meluas, maupun muncul luka terbuka, cairan, nanah, kerak berwarna kekuningan, nyeri, atau demam.
Sementara itu, rasa gatal yang terjadi secara tiba-tiba dan disertai pembengkakan pada wajah atau kesulitan bernapas membutuhkan pertolongan medis segera.
“Perawatan kulit dapat membantu menjaga kenyamanan dan kondisi skin barrier, tetapi ketika peradangan berat atau tanda infeksi muncul, jangan hanya mengandalkan pelembap. Pemeriksaan dan penanganan medis tetap diperlukan,” pungkas Firdha. (Z-10)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



