Dampak Perangi Iran, Bunga KPR AS Melonjak ke 6,55 Persen

1 week ago 18
Dampak Perangi Iran, Bunga KPR AS Melonjak ke 6,55 Persen Ilustrasi.(Magnific)

KETEGANGAN geopolitik global mulai berdampak langsung pada pasar perumahan Amerika Serikat, menambah beban finansial bagi para calon pembeli rumah. Pekan ini, rata-rata suku bunga pinjaman hipotek (KPR) tetap tenor 30 tahun melonjak menjadi 6,55%, level tertinggi dalam hampir satu tahun terakhir.

Kenaikan ini dipicu oleh serangan terbaru di Iran yang mengguncang pasar keuangan. Lonjakan tersebut sekaligus memupus optimisme yang sempat muncul di awal musim pembelian rumah musim semi, saat banyak ekonom memperkirakan penurunan suku bunga akan mencairkan kelesuan pasar.

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Suku Bunga

Pada Februari lalu, rata-rata suku bunga KPR sempat turun di bawah 6% untuk pertama kali dalam tiga setengah tahun. Namun, pertempuran yang meletus di Timur Tengah beberapa hari kemudian membalikkan lintasan tersebut. Konflik ini mendorong imbal hasil obligasi (bond yields) dan suku bunga KPR lebih tinggi karena investor khawatir ketegangan akan menjaga harga minyak dan inflasi tetap tinggi.

Suku bunga KPR di AS cenderung mengikuti imbal hasil Treasury 10-tahun yang mengalami volatilitas tinggi akhir pekan lalu dan awal pekan ini seiring memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran setelah gencatan senjata singkat.

Penurunan Penjualan dan Aplikasi Pinjaman

Tingginya suku bunga mulai menjauhkan calon pembeli dari pasar. Berdasarkan laporan National Association of Realtors (NAR) yang dirilis Kamis (16/7), penjualan rumah tertunda (pending home sales) pada Juni turun 5,4% secara bulanan dan turun 0,3% dibandingkan tahun lalu.

"Suku bunga KPR tertinggi dalam hampir setahun dan rekor harga median rumah nasional secara bersama-sama berkontribusi pada pasar perumahan yang lesu, yang sangat sulit bagi pembeli rumah pertama," ujar Kepala Ekonom NAR, Lawrence Yun.

Data dari Mortgage Bankers Association juga menunjukkan aplikasi KPR turun 7% pekan lalu atau 2% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dilema Inflasi dan Risiko Energi

Meskipun data inflasi tahunan menunjukkan penurunan menjadi 3,5% pada Juni (dibandingkan 4,2% pada Mei), risiko energi kembali membayangi. Pertempuran dalam dua pekan terakhir mengirim harga minyak naik kembali dengan harga rata-rata bensin melonjak 15 sen dalam sepekan menjadi US$3,94 per galon.

Kara Ng, ekonom senior di Zillow, menyatakan bahwa suku bunga KPR saat ini terjepit di antara data inflasi yang mendingin dan risiko energi yang muncul kembali. "Inflasi Juni yang lebih rendah mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, tetapi harga minyak yang lebih tinggi terus menekan prospek inflasi dan biaya pinjaman," jelasnya.

Langkah Legislatif dan Respons Politik

Di tengah tekanan ekonomi ini, langkah-langkah keterjangkauan perumahan bipartisan secara resmi menjadi undang-undang pekan lalu. Undang-undang ini bertujuan menambah pasokan perumahan dan membatasi ekuitas swasta dalam membeli rumah keluarga tunggal.

Namun, undang-undang tersebut tidak mengatur suku bunga KPR yang ditentukan oleh pasar obligasi. Presiden Donald Trump menyatakan keberatannya terhadap undang-undang tersebut, yang menjadi hukum tanpa tanda tangannya. Melalui media sosial, Trump menyebut undang-undang itu kurang penting dibandingkan dengan penurunan suku bunga.

Proyeksi Masa Depan: Zillow memperkirakan suku bunga KPR akan turun secara bertahap menjadi 6,4% pada akhir 2026, meskipun angka ini tetap lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun lalu. (CNN/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |