Ali Al Zaidi.(Al Jazeera)
RAKSASA energi asal Amerika Serikat, Chevron, berencana menandatangani kesepakatan awal pada Jumat (17/7) untuk berinvestasi di dua ladang minyak besar di Irak. Langkah strategis ini juga mencakup keterlibatan Chevron dalam konsorsium investor yang mengeksplorasi pembangunan jalur pipa baru guna menghubungkan ladang minyak Irak langsung ke pesisir Suriah.
Inisiatif ini muncul di tengah upaya keras Irak dan produsen minyak Timur Tengah lain untuk mencari jalur alternatif selain Selat Hormuz. Jalur perairan vital tersebut saat ini menjadi titik panas setelah Teheran berupaya menutup dan mengendalikannya yang memicu respons militer dari Amerika Serikat. Sebelum konflik dengan Iran pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut.
Menghindari Blokade Selat Hormuz
Pemerintah di kawasan Teluk kini mengucurkan dana miliaran dolar untuk membangun pipa baru, koridor kereta api, dan pusat penyimpanan energi guna memintas Selat Hormuz. Langkah ini diprediksi akan menjadi salah satu dampak paling permanen dari perang yang sedang berlangsung.
Kesepakatan dengan Chevron merupakan bagian dari upaya Perdana Menteri Irak yang baru, Ali Al Zaidi, untuk memperkuat investasi dari AS. Kamar Dagang AS dijadwalkan menjamu KTT Bisnis AS-Irak di Washington pada Jumat (17/7), yang dihadiri oleh Zaidi dan Menteri Energi AS Chris Wright. Dalam pertemuan tersebut, diperkirakan akan ditandatangani kesepakatan senilai total US$60 miliar (sekitar Rp975 triliun).
Rekonstruksi Jalur Pipa Kirkuk-Baniyas
Salah satu opsi utama yang dipertimbangkan konsorsium Chevron ialah membangun kembali jalur pipa dari Kirkuk di Irak utara menuju pelabuhan Baniyas di Suriah, tepatnya Laut Mediterania. Jalur ini telah ditutup selama lebih dari dua dekade setelah mengalami kerusakan selama invasi AS ke Irak pada tahun 2003.
Eksekutif Chevron menyatakan bahwa konsorsium akan melakukan studi teknis untuk menentukan apakah akan membangun pipa baru atau memperbarui infrastruktur yang ada untuk dihubungkan dengan pipa melalui Turki. Meskipun pembicaraan telah berlangsung selama 12 hingga 18 bulan, pihak Chevron menekankan bahwa kesepakatan ini masih jauh dari garis finis.
Investasi di Ladang Minyak Strategis
Selain infrastruktur pipa, Chevron tengah mendiskusikan investasi di dua ladang minyak utama Irak, yaitu West Qurna 2 dan Nasiriyah. Berikut detail terkait ladang minyak tersebut:
| West Qurna 2 | Memproduksi 460.000 barel/hari; Chevron menggantikan Lukoil (Rusia) sebagai operator. |
| Nasiriyah | Ladang minyak yang lebih kecil di Irak selatan; dalam tahap negosiasi eksklusif. |
Dukungan Politik dari Donald Trump
Presiden Donald Trump bertemu dengan PM Zaidi di Gedung Putih pada Selasa. Trump menyatakan dukungannya terhadap kerja sama ekonomi ini. "Kami akan melakukan banyak kesepakatan. Kami akan menciptakan banyak lapangan kerja bagi kedua negara, dan kami akan memproduksi banyak minyak," ujar Trump.
Irak merupakan produsen minyak terbesar kedua di Timur Tengah setelah Arab Saudi, dengan kontribusi normal sebesar 5% dari pasokan dunia atau sekitar 4,5 juta barel per hari. Namun, ekspor Irak merosot tajam selama perang karena ketergantungan ladang minyak selatan pada Selat Hormuz.
Konteks Politik: PM Ali Al Zaidi, yang sebelumnya merupakan tokoh perbankan yang sempat dilarang oleh Departemen Keuangan AS, kini mendapatkan dukungan penuh dari Trump dengan syarat ia harus mampu menekan pengaruh Teheran di Baghdad. (The Wall Street Journal/I-2)

















































