Cerita di Balik Anjloknya Saham IBM Terburuk dalam Sejarahnya

1 week ago 18
Cerita di Balik Anjloknya Saham IBM Terburuk dalam Sejarahnya Ilustrasi.(Magnific)

DEWAN direksi International Business Machines (IBM) tengah menghadapi kenyataan pahit setelah hasil kinerja kuartal kedua perusahaan dilaporkan jauh di bawah ekspektasi. Revolusi kecerdasan buatan (AI) yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan justru memberikan tekanan lebih cepat dari yang diperkirakan, memaksa raksasa teknologi ini mengambil keputusan sulit.

Setelah melalui perdebatan internal mengenai cara penyampaian berita buruk ini kepada publik, CEO IBM Arvind Krishna akhirnya memilih jalur transparansi. Dalam surat kepada investor yang diterbitkan Selasa (14/7) pagi waktu setempat, Krishna mengakui kegagalan tersebut.

"Kuartal ini kami goyah," tulisnya. Pengakuan ini memicu kepanikan pasar yang menyebabkan saham IBM anjlok hingga 25%, menandai hari terburuk dalam sejarah perusahaan yang telah berdiri lebih dari satu abad tersebut.

Terjepit di Tengah Demam AI

IBM, yang dikenal melalui sejarah panjangnya mulai dari membantu misi pendaratan manusia di bulan hingga menciptakan superkomputer Jeopardy!, kini harus berhadapan dengan realitas keras dari booming AI. Meskipun IBM aktif membantu pelanggan beradaptasi dengan era AI, perusahaan itu sendiri tampak tidak siap menghadapi kecepatan disrupsi teknologi tersebut.

Berbeda dengan penyedia infrastruktur AI seperti Nvidia atau raksasa cloud seperti Google dan Oracle yang menyewakan kapasitas komputasi, model bisnis IBM sangat bergantung pada penjualan sistem perangkat keras dan lunak yang dipasang langsung di lokasi pelanggan. Saat ini, banyak pelanggan korporat yang mulai mengalihkan anggaran mereka dari pembaruan perangkat keras tradisional menuju infrastruktur AI dan keamanan siber.

Daniel Morgan, manajer portofolio di Synovus Trust, menyebut bahwa pelanggan kini memperlakukan pengeluaran untuk IBM sebagai pengeluaran diskresioner. "Beberapa mungkin berpikir untuk menunda pembaruan mainframe baru selama beberapa kuartal karena fokus pada pembangunan AI," ujarnya.

Kepemimpinan Arvind Krishna dalam Ujian

Arvind Krishna, yang menjabat sebagai CEO sejak 2020, kini berada di bawah tekanan besar untuk segera memperbaiki keadaan. Don Bilson dari Gordon Haskett mencatat bahwa Krishna harus bertindak cepat agar tidak dicap sebagai eksekutor yang bertanggung jawab atas aksi jual bersejarah ini.

Di bawah kepemimpinan Krishna, IBM sebenarnya melakukan transformasi strategis yang signifikan, termasuk akuisisi Red Hat senilai US$34 miliar dan pemisahan bisnis Kyndryl. Namun, penurunan kapitalisasi pasar hingga di bawah US$200 miliar membuat IBM kini terlihat kecil dibandingkan pesaing seperti Broadcom atau AMD.

Konteks Pasar: Ketakutan bahwa alat AI dari perusahaan seperti OpenAI akan menggantikan perangkat lunak tradisional mengguncang saham perusahaan teknologi lain seperti Salesforce dan Workday. Namun, kasus IBM menunjukkan bahwa investasi infrastruktur AI juga mulai menggerus belanja perangkat keras.

Masa Depan Big Blue

Meskipun pasar bereaksi negatif, beberapa pihak menilai reaksi tersebut berlebihan. Debanjan Saha, CEO DataRobot dan mantan petinggi IBM, menyatakan bahwa hukuman pasar tidak sebanding dengan kesalahan yang terjadi. Ia menekankan bahwa IBM memiliki sejarah panjang dalam memenangkan berbagai transisi teknologi, mulai dari era PC hingga internet.

Namun, Wall Street tampaknya mulai tidak sabar. Muncul diskusi mengenai kemungkinan masuknya investor aktivis atau desakan untuk memecah perusahaan jika kinerja tidak membaik dalam dua atau tiga kuartal mendatang. Dewan direksi IBM dijadwalkan akan bertemu kembali pada akhir Juli untuk memantau perkembangan tim kepemimpinan Krishna dalam menghadapi krisis ini.

Wakil Ketua IBM, Gary Cohn, memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa perubahan anggaran teknologi korporat mungkin hanya bersifat sementara. Menurutnya, perusahaan-perusahaan mulai mempertanyakan pengembalian investasi (ROI) dari belanja AI yang masif dan mungkin akan kembali berinvestasi pada infrastruktur perusahaan yang sudah terbukti. (Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |