Membuat situs web tanpa paham coding.(Dok. Meteora Web)
PLATFORM desain global Canva baru saja mengumumkan lompatan besar dalam dunia pengembangan web dengan meluncurkan Canva Code 2.0. Pembaruan ini memungkinkan siapa saja, mulai dari pemilik UMKM hingga kreator konten, untuk membangun situs web dan aplikasi sederhana hanya dengan memberikan perintah teks (natural language).
Kehadiran Code 2.0 menandai era baru di mana batasan antara desain grafis dan pengembangan perangkat lunak semakin menipis. Dengan integrasi penuh ke dalam ekosistem Canva, pengguna kini dapat menciptakan pengalaman digital interaktif tanpa harus menyentuh satu baris kode pun.
Revolusi Vibe Coding untuk Pengguna Non-Teknis
Istilah "vibe coding" kini tengah menjadi tren di industri teknologi, merujuk pada proses pembuatan perangkat lunak yang mengandalkan intuisi dan deskripsi bahasa alami ketimbang logika pemrograman tradisional. Canva secara agresif memasuki pasar ini melalui Code 2.0.
Head of AI Product Canva, Danny Wu, menegaskan bahwa alat ini tidak dirancang untuk menggantikan pengembang profesional.
"Canva Code bukanlah alat untuk pengembang," ujar Wu dalam wawancara dengan VentureBeat. Fokus utamanya adalah memberikan kekuatan kepada 265 juta pengguna aktif bulanan Canva untuk mewujudkan ide teknis mereka secara visual.
Statistik Pasar Vibe Coding (Riset Luminix AI):
- Nilai Pasar 2026: US$4,7 miliar (sekitar Rp76 triliun).
- Proyeksi 2027: US$12,3 miliar (sekitar Rp199 triliun).
- Pertumbuhan Tahunan (CAGR): 38 persen.
Fitur Unggulan: Dari Impor HTML hingga Editor Visual
Salah satu keunggulan utama Code 2.0 dibandingkan kompetitor seperti Lovable atau Replit adalah kualitas estetika. Canva memastikan bahwa setiap situs web yang dihasilkan AI tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga memiliki tampilan profesional yang konsisten dengan identitas merek pengguna.
Beberapa fitur kunci yang diperkenalkan meliputi:
- Penyuntingan Visual Langsung: Klik elemen hasil AI untuk mengubah teks, warna, atau font melalui toolbar Canva yang familiar.
- Akses Aset Raksasa: Integrasi dengan perpustakaan Canva yang berisi lebih dari 120 juta foto, ilustrasi, dan elemen desain.
- Impor HTML Eksternal: Pengguna dapat memasukkan kode mentah dari AI lain seperti ChatGPT atau Claude, lalu menyempurnakannya di dalam editor visual Canva.
Efisiensi menjadi nilai jual utama. Canva mengklaim bahwa penggunaan Code 2.0 mampu memangkas waktu pembuatan proyek hingga 75 persen. Selain itu, durasi dari permintaan awal hingga situs web siap dipublikasikan berkurang sekitar 30 persen.
| Kemudahan Akses | Tersedia untuk pengguna paket gratis tanpa biaya tambahan. |
| Fleksibilitas | Mendukung impor kode dari layanan AI pihak ketiga. |
| Keamanan Data | Opsi untuk tidak mengizinkan data digunakan sebagai materi pelatihan AI. |
Keamanan Data dan Privasi Pengguna
Di tengah kekhawatiran global mengenai penggunaan data untuk pelatihan model AI, Canva mengambil langkah preventif. Perusahaan menegaskan bahwa pengguna memiliki kendali penuh atas data mereka. Terdapat opsi eksplisit bagi pengguna untuk menolak datanya digunakan dalam pengembangan algoritma AI Canva di masa depan.
Hingga saat ini, lebih dari enam juta situs web telah diterbitkan melalui platform Canva sejak fitur pembuatan web pertama kali diperkenalkan setahun lalu. Dengan peluncuran Code 2.0, angka ini diprediksi akan melonjak tajam seiring dengan semakin mudahnya akses teknologi bagi masyarakat luas.
Bagi pengguna yang ingin mencoba, fitur ini sudah tersedia di dasbor Canva dan dapat diakses langsung melalui perintah teks sederhana pada menu pembuatan situs web. (Meteora Web/Z-10)

















































