Cara Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru Menurut Psikolog

1 week ago 12
Cara Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru Menurut Psikolog Guru mengatur barisa siswa baru pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama tahun ajaran 2026/2027 di SD Negeri 06 Pagi Petukangan Utara, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).(MI/Ramdani)

MEMASUKI tahun ajaran baru, masa transisi anak menuju ekosistem sekolah baru sering kali memicu kecemasan. Menanggapi fenomena ini, psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, menegaskan pentingnya peran aktif serta sinergi antara orangtua dan guru dalam membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru.

Vera menjelaskan bahwa keselarasan sikap antara pihak rumah dan sekolah merupakan kunci utama pembentukan mental anak yang stabil selama masa orientasi.

"Anak membutuhkan pesan, respons atau perlakuan yang konsisten dari rumah maupun sekolah. Komunikasi sebaiknya berlangsung dua arah, terbuka dan tidak hanya dilakukan saat muncul masalah," ujar Vera dikutip dari Antara, Rabu (15/7). 

Tips Orangtua Beri Pendampingan Anak

Penyiapan psikologis dan fisik anak semestinya dilakukan secara bertahap, idealnya sejak satu minggu sebelum hari pertama sekolah dimulai, bukan secara mendadak. Berikut adalah langkah taktis yang dapat dilakukan orangtua:

  • Restrukturisasi Pola Jam Biologis: Membantu anak mengembalikan ritme jadwal tidur, bangun, makan, mandi, hingga waktu belajar minimal seminggu sebelum sekolah aktif.
  • Orientasi Spasial dan Rute: Mengenalkan area fisik sekolah, rute perjalanan, serta perlengkapan yang wajib disiapkan.
  • Simulasi Kemandirian: Melatih anak memakai pakaian sendiri, menata buku di tas, menggunakan toilet (toilet training), menjaga barang bawaan, hingga keberanian meminta bantuan.

Selain persiapan fisik, momen yang sering memicu tantangan emosional adalah saat orangtua mengantar anak di hari pertama. Terkait hal ini, Vera menyarankan penerapan ritual perpisahan (goodbye ritual) yang proporsional.

"Ciptakan ritual perpisahan yang singkat, hangat, dan konsisten. Orangtua tidak boleh pergi diam-diam tanpa pamit, tapi juga tidak memperpanjang saat perpisahan karena merasa tidak tega atau khawatirkan anak," paparnya.

Orangtua juga diimbau untuk menumbuhkan ketahanan mental (resilience) anak sejak dini dengan cara memberikan ruang bagi anak untuk mencoba menyelesaikan kesulitan-kesulitan berskala kecil secara mandiri.

Peran Guru dalam Mengawal MPLS Ramah Anak

Tidak hanya di rumah, atmosfer di dalam lingkungan sekolah juga memegang peranan yang tidak kalah vital. Menurut Vera, guru wajib menciptakan suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang inklusif, ramah, dan menyenangkan agar anak merasa aman dan diakui keberadaannya.

"Mengakui perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, 'kamu boleh merasa takut karena ini tempat baru, tetapi kamu tidak sendirian, ada guru dan teman yang akan membantumu'," jelas Vera memberikan contoh afirmasi positif bagi siswa baru.

Langkah mitigasi kecemasan siswa ini sejalan dengan kebijakan makro dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sebelumnya telah menegaskan bahwa instansi pendidikan wajib menyelenggarakan program orientasi yang inklusif melalui gerakan MPLS Ramah Tahun Ajaran 2026/2027.

"MPLS dilaksanakan dengan pendekatan yang menggembirakan, pendekatan yang menghadirkan rasa bahwa semua orang terlibat, dan semuanya aman serta nyaman," pungkas Abdul Mu'ti. (Ant/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |