Pengunjung melintas di dekat instalasi antena radar berwarna merah-putih di halaman Masjid Al Hakim Padang, Sumatera Barat, Senin (11/5/2026).( ANTARA FOTO/Fitra Yogi/YU)
PENELITI Senior Bidang Tsunami Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Widjokongko mengingatkan tentang adanya ancaman tsunami di Indonesia yang tidak selalu diawali gempa bumi yang kuat. Sejumlah peristiwa menunjukkan adanya fenomena tsunami senyap (silent tsunami), yakni tsunami yang dipicu gempa dengan guncangan lemah sehingga masyarakat kerap terlambat menyadari ancaman.
Dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk Peningkatan Aktivitas Seismik di Pasifik: Implikasi dan Langkah Antisipatif bagi Indonesia, Rabu (15/7), Widjokongko mengatakan strategi mitigasi berbasis sains menjadi kunci meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap ancaman tsunami.
Ia menjelaskan, berdasarkan catatan sekitar 300 tahun terakhir, kawasan Pasifik telah mengalami sedikitnya 13 tsunami besar yang dipicu gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 8, mulai dari tsunami Orphan pada 1700 hingga tsunami Tohoku 2011 dan Hunga Tonga.
Widjo mengatakan, sekitar 60 persen tsunami di dunia dipicu aktivitas tektonik, sedangkan sekitar 10 persen berasal dari aktivitas vulkanik. Karakteristik tersebut juga hampir sama dengan kondisi di Indonesia.
Ia menyoroti fenomena tsunami senyap, yakni tsunami yang terjadi meski guncangan gempa hanya terasa lemah atau mengayun sehingga masyarakat tidak segera melakukan evakuasi.
"Tsunami senyap sebetulnya bukan berarti gempa buminya tidak terasa, tapi terasa sangat halus, mengayun," katanya.
Menurut Widjo, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan negara lain karena proporsi kejadian tsunami senyap tergolong tinggi.
"Di Indonesia, dari tsunami yang ada itu sekitar 50 persen. Kalau secara global, 8 persen adalah tsunami senyap," ujarnya.
Selain dipicu gempa tektonik, tsunami juga dapat berasal dari longsoran bawah laut maupun runtuhan tubuh gunung api. Karena itu, ia mengingatkan mitigasi tidak boleh hanya berfokus pada satu jenis ancaman.
Widjo juga menyinggung keberadaan celah seismik (seismic gap), yaitu wilayah yang lama tidak mengalami gempa besar tetapi masih menyimpan potensi pelepasan energi.
"Ada seismic gap, sesuatu celah yang tidak ada aktivitasnya, lama tidak, tapi sebenarnya berpotensi," katanya.
Menurut dia, keberadaan zona-zona tersebut perlu terus diteliti dan dimonitor sebagai dasar penyusunan strategi mitigasi. Ia menekankan bahwa pemetaan risiko, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem peringatan dini harus terus dilakukan agar masyarakat pesisir lebih siap menghadapi ancaman tsunami di masa mendatang. (H-4)

















































