Siswa menyantap makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 4 Desa Panton Rayeuk I, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Aceh, Rabu (15/7/2026).(ANTARA/RAHMAD)
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) rancangan pemerintah dinilai tidak harus bertumpu pada susu murni sebagai satu-satunya sumber protein hewani. Produk olahan susu hasil kreasi dalam negeri, seperti keju natural dan mentega (butter) artisan, dinilai sangat layak dipertimbangkan sebagai alternatif menu karena memiliki kepadatan nutrisi yang tinggi, masa simpan yang jauh lebih panjang, serta lebih mudah didistribusikan ke berbagai pelosok daerah.
Founder Mazaraat Artisan Cheese, Muhammad Najmi (Jamie) memaparkan, keju natural pada dasarnya merupakan susu yang dimampatkan hingga menyusut ke ukuran sepuluh persennya saja, namun tetap mempertahankan seluruh kandungan gizi esensialnya.
"Kalau ditanya lebih enak mengirim seratus liter susu atau sepuluh kilogram keju, tentu sepuluh kilogram keju. Volumenya lebih kecil, nutrisinya sama bahkan lebih tinggi. Susu murni umur simpannya hanya beberapa hari, sementara keju bisa bertahan sampai satu tahun, bahkan beberapa jenis lebih lama," jelas Jamie dalam diskusi di kanal YouTube Hendri Satrio Official dikutip Jumat (17/7/2026).
Jamie menggarisbawahi bahwa konsumsi 100 gram keju natural setara dengan minum satu liter susu murni. Menurutnya, karakteristik fisik keju yang padat menjadikannya solusi logistik yang sangat efektif untuk mengatasi kelemahan infrastruktur rantai dingin (cold chain) Indonesia yang kerap memicu kerusakan susu segar di perjalanan.
Selain persoalan distribusi, pemanfaatan keju dan mentega lokal dalam program MBG juga diyakini dapat menjadi stimulus ekonomi yang kuat bagi para peternak sapi perah domestik. Alih-alih hanya bergantung pada penjualan susu mentah dengan harga rendah, koperasi peternak di berbagai daerah dapat didorong untuk naik kelas melakukan hilirisasi produk demi menghasilkan komoditas olahan bernilai ekonomi tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, Founder Naaya Artisan Butter, Ardani Yusuf Prawira mengingatkan pentingnya aspek edukasi agar pemerintah tidak salah memilih produk. Ia mengimbau agar produk yang masuk dalam menu MBG nantinya adalah keju natural utuh, bukan keju olahan komersial (processed cheese) yang jamak beredar di pasaran dengan kandungan keju asli yang hanya berkisar antara sepuluh hingga dua puluh persen saja.
"Selama ini kita terbiasa makan keju yang sebenarnya bukan seratus persen keju. Keju komersial yang biasa dikonsumsi kandungan kejunya umumnya hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh persen, sedangkan sisanya merupakan campuran bahan lain seperti tepung pati," terang Ardani. (H-2)

















































