Artpora Gelar Pameran di Taman Menteng

1 week ago 9
Artpora Gelar Pameran di Taman Menteng Ilustrasi(Dok Artpora)

ARTPORA sebuah yayasan nirlaba di Jakarta, akan menyelenggarakan pameran Provoke! 2026 di ruang terbuka dan tertutup Taman Menteng, Jalan Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat.  

Pameran yang diikuti 25 perupa dengan 25 kurator, ini adalah pameran Provoke! yang ketiga kali. Dua sebelumnya pada tahun 2024 dan 2025 berlangsung di Pos Block, Pasar Baru, Jakarta Pusat.  

Berbeda dari dua pameran sebelumnya, pameran Provoke! 2026 ini berlangsung di atas taman seluas sekitar 30 hektare. Pameran terpisah dalam dua bagian yakni: karya-karya dwimatra berlangsung di dua gedung kaca, masing-masing menampilkan 5 karya dari 5 perupa. Sedangkan di ruang terbuka Taman Menteng ditampilkan 15 titik lokasi karya-karya trimatra; patung dan instalasi, dalam berbagai ukuran. Ukuran karya terbesar sepanjang 12 meter dengan tinggi sekitar 2 meter, terbuat dari besi baja dengan teknik las.

Pameran ini akan dibuka oleh Wakil Gubernur DKI Rano Karno pada Jumat (17/7) pukul 19.00 WIB di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Selanjutnya pameran akan terbuka buat umum hingga 26 Juli 2026. Mengiringi selama 10 hari pameran akan ditampilkan antara lain: pertunjukan teater, musik, wayang potehi, PM Toh, percakapan dengan para perupa, diskusi, cindra mata, workshop, dan lain sebagainya. 

Adapun seniman terlibat adalah Jimmy Silaen. Becak yang dahulu bergerak di jalan kini berhenti, namun justru di titik berhenti itu ia mulai bekerja sebagai ruang temu. Ia tidak lagi mengangkut tubuh, melainkan mengangkut ingatan, cerita, dan kebersamaan. 

Dalam posisi diam, becak justru menjadi politis. Ia menolak dilupakan; memilih hadir sebagai artefak hidup, sebagai strategi kultural untuk tetap relevan di tengah kota yang terus menyingkirkan yang lambat. Tulisan-tulisan grafis pada badan becak adalah jejak suara jalanan: spontan, cair, dan tidak resmi.

Becak dulu identik dengan romansa antara penumpang dan pengayuhnya di setiap perjalanan. Namun di sini, romansa itu hadir ketika berhenti dan berkumpul, ketika orang-orang duduk, berbincang, bahkan bermain bersama di atasnya.

Di atas atap becak berdiri rumah-rumah kaum urban yang menumpuk, sempit, rapat, dan sering dianggap bayangan dari wajah kota. Namun justru dari ruang-ruang itulah denyut ekonomi ibu kota bergerak. Pengemudi, buruh, pedagang hingga mereka yang bekerja tanpa nama menjadi tenaga yang menjaga kota tetap hidup. Mereka tinggal di tepian, tetapi menopang pusat.

Kontras itu hadir melalui permainan ludo di atas becak. Sebuah interaksi yang tampak ringan, namun menyimpan metafora politis: tentang kepentingan yang saling bertabrakan, strategi yang saling menjatuhkan, dan perebutan ruang hidup di kota yang terus berubah. Setiap langkah bidak menjadi gambaran bagaimana masyarakat kecil dipaksa terus bersiasat, bertahan di antara aturan, pembangunan, dan kekuasaan yang sering bergerak tanpa benar-benar melihat mereka.

Roda berputar layaknya kehidupan yang akan terus berjalan maju atau diam di tempat. 

Becak di sini bukan sekadar objek nostalgia. Ia menjadi panggung kecil tempat ingatan sosial, kritik urban, dan kehidupan sehari-hari saling bertemu. (RO/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |